Hafizd Mukti Ahmad
Pernah berprofesi sebagai jurnalis sejak 2009 di sejumlah media nasional, gemar memasak, jalan-jalan dan bermain musik​.​

Wahai Lelaki, Mengapa Kalian Selfie?

Hafizd Mukti Ahmad, CNN Indonesia | Minggu, 07/05/2017 13:35 WIB
Wahai Lelaki, Mengapa Kalian Selfie? Ilustrasi. (AFP PHOTO / BAY ISMOYO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya batasi tulisan hanya dalam konteks "selfie" alias swafoto dan laki-laki. Akhirnya saya beranikan diri menulisnya, lantaran saya tidak suka dan tidak pernah melakukan selfie.

Namun, kenapa masih banyak pria, termasuk di sekitar saya dan beberapa teman, yang melakukan selfie di tempat publik dan tak malu memajangnya di akun media sosial mereka. Tulisan ini hanya mencoba memastikan sudut pandang saya saja, soal selfie dan lelaki.

"Foto yang diambil oleh diri sendiri yang biasanya menggunakan telepon pintar, webcam dan membagikannya ke media sosial," begitu kira-kira terjemahan dari Kamus Oxford untuk arti dari "selfie".


Tidak ada yang menarik soal selfie, terlebih bagi pria (berbeda dengan wefie; selfie dalam bentuk jamak). Selfie relatif berisi 90 persen muka dengan berbagai ekspresi, yang masih itu-itu saja, yang lalu diunggah ke media sosial.

Pernah, suatu kali saya mencoba untuk setenang mungkin mengambil foto wajah sendiri. Ada perasaan malu menghinggapi diri saya. Akhirnya pun, saya tak kuasa untuk mempostingnya di media sosial seperti Instagram, Twitter atau bahkan Path yang lebih pribadi.

Bukan karena kurang tampan, tapi hanya tidak percaya diri dan saat itu saya merasa geli dan beranggap dalam hati, "tidak, selfie bukan untuk laki-laki."
Wahai Lelaki, Mengapa Kalian Selfie?(Thinkstock/g-stockstudio).

Apakah anggapan saya salah?

Ok, saya pernah berswafoto, tapi hanya untuk konsumsi orang terdekat. Biasanya, pacar meminta atau keperluan kirim kabar terbaru kepada keluarga, ayah, ibu, kakak, adik, keponakan atau sahabat.

Jadi, sifatnya sangat personal. Itu tak terasa salah, karena ada interaksi yang terbangun sebelumnya. Mereka bukan orang asing, akrab dan telah kenal dekat dengan saya. Mereka ingin melampiaskan kerinduan yang terbatas dengan jarak dan waktu melalui foto sehingga tahu kondisi saya baik-baik saja.

Namun tidak, untuk yang satu ini: Mengunggah wajah sendiri di media sosial.

Jadi, wahai para pria, mengapa berswafoto? Apakah ada niat untuk dikagumi? Tidakkah itu narsistik, yang notabene gangguan secara psikologis? Sadar atau tidak. Ini serius.

Satu waktu, saat membelah ibu kota dengan TransJakarta yang berjumlah belasan penumpang isinya, di jejeran kursi paling belakang, duduk lelaki sendiri. Telepon pintar ia genggam dan layar menghadap wajahnya sendiri. Beberapa kali ia berswafoto dengan ekspresi berbeda-beda. Namun sesekali ia menengok kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikannya.

Sesekali saya mencuri lihat kelakuan pria tersebut. Dia tidak memergoki tapi anehnya, kok saya yang malu sendiri? Apa yang salah?

Selfie sendiri saking popularnya di akhir 2010, mampu membuat kata itu masuk kamus Oxford pada 2013 dengan ganjaran "word of the year".

Pencarian atas jawaban kegundahan saya akhirnya mulai mendapatkan pencerahan. Mengapa saya (lelaki) kurang percaya diri berswafoto? Bahkan tidak berusaha percaya diri saat melakukannya. Terlebih kemudian, mengunggahnya di sosial media. Dan, butuh dua minggu, sejak "insiden" di TransJakarta itu, saya mencari tahu dari berbagai perspektif mengenai "swafoto lelaki dan media sosial."

Sebut saja kawan saya Amelia (nama sebenarnya), 28, perempuan, yang sempat saya tanyakan perihal selfie dan laki-laki.

"Enggak, gak suka saja pokoknya. Mau ganteng, tapi ada foto selfie-nya ada lebih dari satu, apalagi pake caption motivasi atau kata-kata emas kayaknya enggak. Merasa sudah bisa menakar orangnya kayak gimana. Apalagi kalau buat dijadiin pacar, saya pikir panjang dulu," itu pendapat Amelia.

Satu lagi kawan saya Fira, 27, perempuan, ketika ditanya hal yang sama.

"Enggak deh, enggak aja sama laki-laki selfie. Gak tahu kenapa, sebel sama males aja lihatnya. Perempuan beda-beda ya, tapi saya enggak deh kayaknya."

Kini teman saya, pria, punya nama Adit, 30, saya tanya pendapat hal yang sama dari sudut lelaki.

"Enggak lah, lu bisa cek semua medsos gue ada ga selfie sendiri? Sorry ya, sebel gue. Psikisnya kena kali yang begitu," kata Adit sambil mengungkapkan kekesalan.

Penelusuran saya kemudian berujung pada penelitian yang dikerjakan oleh Jesse Fox, seorang asisten profesor Ohio State University, pada Januari 2015. Penelitian ini dilakukan spesifik terhadap laki-laki, lantaran tren selfie yang begitu marak namun di sisi lain semakin banyak juga orang-orang merasa tidak nyaman.

Dalam penelitian tersebut dikatakan, lelaki dianggap tak baik bahkan cenderung buruk mengunggah foto selfie mereka di Instagram atau Facebook. Dan sangat buruk jika mereka melakukan editing "atas wajah mereka sendiri" sebelum mengunggahnya. Ini pun berdampak buruk bagi mereka yang melihatnya.

Studi dan penelitian ini menjawab secara akademis rasa penasaran saya. Lelaki yang melakukan selfie dan mengunggahnya ke media sosial berkali-kali (lebih dari satu) memiliki skor lebih tinggi untuk berkepribadian narsistik dan psikopat. Dan sekali lagi, skor itu lebih tinggi bagi mereka yang melakukan editing sebelum mengunggahnya.

"Temuan lain adalah skor mereka lebih tinggi atas kecenderungan perilaku antisosial, penolakan pribadi dan psikopat," kata Fox yang berangkat dari hasil penelitian Margaret Rooney dalam jurnal yang telah dipublikasikan secara online dalam Personality and Individual Differences.

Narsisme ditandai dengan merasa paling pintar, lebih baik dari orang lain, lebih atraktif namun di sisi lain merasa tidak aman akibat perasaan tersaingi. Sedangkan psikopat cenderung sedikit memiliki empati, tak peduli, juga berperilaku impulsif.

Secara harfiah psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Meskipun selfie tidak seekstrem itu, tapi skornya memperlihatkan potensi psikopat.

Fox mengatakan, adanya penolakan membuat orang-orang yang melakukan selfie merasa butuh panggung untuk merasa ingin diterima, atau hadir dan dilihat. Dengan pertumbuhan media sosial, maka setiap orang merasa penting untuk "ada", yang artinya eksistensi atau "aku ada" jadi masalah besar bagi pria yang mendekati (atau bahkan sama) besarnya dengan rasa ingin "dilihat" di sisi perempuan.

"Eksistensi atau kehadiran, penerimaan, bahwa aku ada sebenarnya mengambil peranan lebih besar di sisi perempuan. Tapi media sosial kini mendorong pria untuk juga melakukannya."

Kehadiran media sosial, dan juga tanggapan balik dari teman online, diungkap Fox, membuat para lelaki pun kini terdorong untuk terus mengunggah foto-foto selfie mereka lebih banyak.

Studi ini memperlihatkan bagaimana seorang pria ingin terlihat oleh orang lain dalam dunia daring atau online.

Tapi, satu hal yang penting ditekankan Fox, adalah kita paham bagaimana diri kita ingin dilihat orang lain secara daring, tapi apa yang dilakukan agar bisa dilihat orang lain di dunia maya akan mengungkap kepribadian yang sesungguhnya di kehidupan nyata, saat kita benar-benar bersentuhan langsung dengan manusia. Egosentris atau perasaan "ke-aku-an" bisa berbahaya, dalam tataran interaksi dan bersosial.

Hasil penelitian Fox, membuat saya lebih tenang sekarang dan tidak lagi menganggap diri saya ketinggalan zaman, karena emoh selfie dan menyebarkannya di akun media sosial. Penelitian ini adalah hasil yang didapat melalui cara kerja akademis, lewat kaidah keilmuan yang tentu bisa dipertanggung jawabkan, untuk setidaknya menggugurkan asumsi-asumsi soal selfie dan lelaki (termasuk saya). Dan membuat saya tak malu, untuk merasa malu sendiri melihat lelaki mengambil selfie di TransJakarta kala itu.

Ini fenomena yang mungkin sadar tidak sadar ada di sekeliling kita, dan tentu saya pun menyadarinya, ini era digital bung! Tapi bagaimana kita berlaku, itulah diri kita.

"Kebutuhan untuk merasa diterima atau dilihat akan membuatmu tak terlihat di dunia ini," kata Jim Carey.

Oh, wahai lelaki, mengapa kamu selfie? (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS