Dampak Psikologis Saat Pasangan Ketahuan Akses Situs Porno

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Senin, 15/05/2017 23:45 WIB
Dampak Psikologis Saat Pasangan Ketahuan Akses Situs Porno ilustrasi: perempuan akan merasa tidak cukup, merasa kurang lengkap sebagai istri karena menganggap dirinya kurang bisa membahagiakan atau memuaskan suaminya. (Kiky Makkiah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada jaminan saat menikah, laki-laki dan perempuan akan terbebas dari pornografi. Ada banyak pasangan suami-istri yang tersandung kasus pornografi dalam rumah tangga mereka. 

Meski terkadang situs-situs pornografi dibutuhkan jadi bumbu seks dalam pernikahan, namun tak dimungkiri kalau hal ini bisa melukai perasaan salah satu pihak. 
psikolog Marcelia Lesar berpendapat pihak yang dilukai akan mengalami goncangan psikis. 

"Dampak yang pertama lebih subjektif, dia akan mempertanyakan kembali dirinya, dampak pada self esteem-nya (harga dirinya) sebagai laki-laki atau perempuan,” kata Marcelia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (15/5).


Dalam hal ini, kata dia, perempuan akan merasa tidak cukup, merasa kurang lengkap sebagai istri karena menganggap dirinya kurang bisa membahagiakan atau memuaskan pasangannya. 

Turunnya kepercayaan diri ini akan makin besar jika ternyata ‘konsumsi’ pornografi pasangan sudah menjadi adiksi atau candu. Candu pornografi pada suami  atau istri mengindikasikan ada hal yang yang kurang dari hubungan suami-istri sehingga sang suami harus berfantasi dengan cara mengakses atau melakukan percakapan berkonten pornografi. 

Dampak ke-dua yang mungkin dialami adalah guncangan bagi hubungan itu sendiri. 

Untuk mengatasi hal tersebut, Marcelia menyarankan perlu adanya keterbukaan antara suami dan istri soal kepuasan dan tingkat kebahagiaan dalam rumah tangga. Selain itu, pasangan suami-istri juga harus berdiskusi menyangkut hal-hal yang sebelumnya tidak berani diungkapkan.

"Misalnya salah satu sedang berkontemplasi untuk memiliki partner lebih dari satu atau fantasi yang tidak dibahasakan karena sungkan istrinya konservatif. Semua harus bisa ditungkan dalam bentuk diskusi antarpasangan," ucapnya.

Diskusi terbuka antarpasangan ini diharapkan dapat mengarah pada resolusi. 

Melalui diskusi ini, Marcelia mengungkapkan bahwa suami-istri bisa melakukan identifikasi terhadap pasangannya. 

Identifikasi ini digunakan untuk mengetahui apakah percakapan dengan konten pornografi ini sudah menjadi candu, langkah pertama perselingkuhan atau salah satu pihak berpikir untuk melakukan poligami.

Ia pun menambahkan, jika diperlukan diskusi terkait sisi psikologis dan agamais bisa juga dilakukan. 

"Bagi saya dua bentuk baik intervensi psikologis, atau intervensi dari sudut pandang agama, dua-duanya perlu, untuk membawa keseimbangan," ucapnya.