Karnaval dipusatkan di Lapangan Pancasila kawasan Simpang Lima Semarang, dimana yang dilibatkan sebagai peserta adalah pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang ada di 16 Kecamatan se-Kota Semarang.
Sambil membawa replika bunga manggar dan hewan warak, yang merupakan simbol khas dari Tradisi Dugderan, anak-anak melakukan arak-arakan dengan berjalan kaki dari Lapangan Pancasila hingga Jalan Pahlawan Semarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribuan anak Semarang turun ke jalan memeriahkan karnaval Dugderan yang dilakukan menjelang Ramadan. (CNN Indonesia/Damar Sinuko) |
Kemeriahan Karnaval Dugderan anak ini mendapat sambutan positif dari masyarakat yang menyaksikannya meski harus berdiri lama di pinggir jalan dengan berpanasan.
"Bagus banget ini, anak-anak tidak lupa dengan tradisi dan budaya Dugderan menyambut Ramadan. Ada juga aspek religinya untuk mempersiapkan diri untuk bisa berpuasa," kata Anik, salah seorang warga.
Kata "Dugderan" sendiri berasal dari "Dug" yang merupakan bunyi bedug Masjid dan "Der" bunyi meriam. Bedug Masjid dan meriam ini dibunyikan sehari sebelum Ramadan, sebagai sarana informasi kepada masyarakat Kota Semarang bahwa esok hari sudah mulai berpuasa.
(ard)
Ribuan anak Semarang turun ke jalan memeriahkan karnaval Dugderan yang dilakukan menjelang Ramadan. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)