Enam Sosok 'Wonder Woman' di Dunia Nyata

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 07/06/2017 20:58 WIB
Seperti sosok 'Wonder Woman', enam wanita prajurit dari berbagai negara ini juga pemberani dan ikut berjuang di medan perang. Siapa saja mereka? Seperti sosok 'Wonder Woman', enam wanita prajurit dari berbagai negara ini juga pemberani dan ikut berjuang di medan perang. Siapa saja mereka? (Foto: Courtesy of Warner Bros)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2017 mungkin jadi tahunnya Wonder Woman. Bagaimana tidak, ia berhasil jadi 'mesin pengeruk pundi-pundi' bagi Warner Bros dan DC Comics. Biasanya cerita soal pahlawan super bergender pria lebih laku. Namun, Wonder Woman seakan membuktikan bahwa perempuan pun bisa punya pencapaian hebat setara dengan pria.

Tak hanya soal pendapatan, tokoh yang diperankan apik oleh Gal Gadot ini juga menginspirasi sejumlah label untuk mengeluarkan koleksi serba Wonder Woman. Sebut saja label Givenchy dan Louis Vuitton. Tak ketinggalan beberapa label lain seperti seperti Lanvin, Versace dan Karl Lagerfeld juga merancang pernak pernik superhero wanita ini untuk menggalang dana bagi wanita Afrika.

Perlu diingat, Diana Prince alias Wonder Woman adalah tokoh prajurit wanita fiksi. Namun di dunia nyata, rupanya ada sederet wanita-wanita kuat dan punya kemampuan bertarung tak kalah dengan pria. Tak hanya itu, mereka juga membuktikan diri sebagai petarung yang tak kenal rasa takut dan seorang pemimpin yang disegani.



Cut Nyak Dhien - Indonesia

Dari sederet pahlawan wanita, tentu Anda tak akan melupakan sosok Cut Nyak Dhien. Lahir pada 1848, ia adalah keturunan langsung Sultan Aceh. Ketika Perang Aceh meluas pada 1873, ia dengan heroik memimpin perang di garis depan, kendati saat itu persenjataan Belanda lebih lengkap.

Bertahun-tahun bertempur, ia dan pasukannya terdesak lalu mengungsi ke daerah terpencil. Pada suatu pertempuran, sang suami, Teuku Ibrahim gugur. Hal ini tak menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan perjuangan. Ia pun bertemu dengan Teuku Umar, yang kemudian jadi suaminya, sekaligus rekan seperjuangan.

Rupanya ujian kembali datang. Teuku Umar gugur pada 1899. Kekuatan pasukannya pun melemah, kondisi fisik menurun tapi Cut Nyak Dien tetap memutuskan untuk terus angkat senjata. Sang panglima, Pang Laot Ali menawarkan untuk menyerah pada Belanda, tapi ia menolak. Akhirnya, ia berhasil ditangkap Belanda dan diasingkan ke pulau Jawa, tepatnya di Sumedang, Jawa Barat. Hingga akhir hayat, ia tetap merahasiakan identitasnya. Ia pun wafat pada 6 November 1908.


Fu Hao - China

China juga punya prajurit perempuan kala masa pemerintahan Dinasti Shang. Dikutip dari Live Science, menurut biografi dipublikasikan dalam Women in World History: A Biographical Encyclopedia pada 2002, Fu Hao hidup 3000 tahun lalu. Keterangan mengenai dirinya tertulis dalam potongan teks pada tulang dan kulit kura-kura.

Koleksi Gulbenkian Museum of Oriental Art and Archaeology, Inggris ini mendeskripsikan Fu Hao pernah memimpin 3000 prajurit pada sebuah pergerakan regional.

Para arkeolog mempelajari lebih dalam mengenai sosok wanita ini lewat makamnya dekat Anyang, China pada 1976. Menurut laporan dari British Museum, Inggris, lebih dari 100 senjata ditemukan terkubur di makamnya. Hal ini menunjukkan statusnya sebagai pimpinan militer kelas atas. Selain itu, ditemukan ratusan ornamen dan kendaraan yang terbuat dari tembaga, giok, tulang, opal, dan gading, mewakili 16 budak yang dikubur hidup-hidup untuk melayaninya di alam baka.


Khutulun - Mongolia

Pada abad 13, ring gulat di Mongolia didominasi oleh wanita yang bahkan tak bisa dikalahkan pria. Wanita kuat ini adalah Khutulun. Khutulun diketahui merupakan canggah dari Genghis Khan. Tak menunggang kepopuleran leluhurnya, menurut laporan Lapham's Quarterly, ia sendiri populer berkat kekuatan dan kecakapannya sebagai pegulat, pemanah dan penunggang kuda.

Ia dijuluki "Puteri Pegulat". Kekayaan ia peroleh berkat kemenangannya dalam kompetisi gulat. Ia lebih memilih bertarung di ring gulat dan menemani sang ayah bertarung membela wilayah Mongolia barat dan Kazakhstan daripada menikah.

Kemampuan bertarungnya di atas ring memesona penjelajah Marco Polo. Marco menuliskan bahwa wanita ini bisa merangsek perlahan pada kekuatan musuh, di mana ia akan menggenggam satu prajurit lemah, layaknya elang menyergap burung lain dan membawanya pada sang ayah.


Yaa Asantewaa - Afrika

Yaa Asantewaa didaulat sebagai perempuan tangguh selama kolonisasi Eropa di Afrika Barat pada akhir abad 20, khususnya di wilayah yang awalnya diperintah oleh keluarga suku Asante. Wilayah tersebut kini dikenal dengan nama Ghana.

Yaa sendiri adalah penjaga dari kursi emas, sebuah simbol kekuatan Asante. Pada 1900, saat Inggris dengan gubernur kolonialnya Sir Frederick Hodgson meminta Yaa untuk menyerahkan kursi itu, ia pun menolak. Frederick menyebut Asante melakukan perlawanan terhadap Inggris demi kemerdekaan mereka. Kemudian terjadi perang yang disebut War of the Golden Stool.

Mengutip dari Live Science, situs Museum Yaa Asantewaa, Ghana menuliskan kata-kata Yaa dalam pertemuan rahasianya dengan perwakilan suku Asante.

"Jika Anda pria Asante, tidak mau maju, lalu kami akan maju. Kami, para wanita, mau. Saya akan memanggil para wanita. Kami akan bertarung! Kami akan bertarung hingga yang terakhir dari kami jatuh di medan pertempuran."

Pertepuran ini dimenangkan oleh Inggris. Yaa Asantewaa wafat di pengasingan di Seychelles pada 1921.


Boudicca - Inggris

Saat terjadi invasi Roma dan okupasi Inggris selatan pada abad pertama Masehi, seorang wanita bernama Boudicca memimpin orang Iceni, sebuah suku di Inggris timur, untuk melawan para 'pendatang' tersebut.

Menurut catatan sejarawan Roma Publius Cornelius Tacitus, Boudicca digambarkan sebagai seorang pemberontak dan pemimpin saat Roma menyita tanahnya dan mencabut status suku sebagai kawan Roma, setelah kematian suaminya, Raja Prasutagus.

pasukan militer Boudicca menghancurkan pemukiman orang Roma di Verulamium, Londinium dan Camulodunum, dan dengan brutal membunuh penduduknya. Namun, berdasarkan Encyclopedia Brittanica, pemberontakan padam setelah pasukan Boudicca dihancurkan pada pertempuran bernama Battle of Watling Street dekat Shropshire pada abad 61 M.


Tomoe Gozen - Jepang

Samurai waanita legendaris Tomoe Gozen pertama kali tampil dalam epos militer jepang "Kisah Heike". Ini adalah kisah naratif tentang hidup dan pertarungan prajurit yang bertarung dalam Perang Genpei pada abad 12. Epos ini turun-temurun diceritakan hingga pertama kali direkam pada abad 14.

Tomoe dilukiskan sebagai pemanah ulung yang bertarung di bawah perintah Jendral Kiso Yoshinaka. Dia mengenakan baju zirah berat dan membawa pedang serta busur berukuran besar. Saat sang jendral terluka, Tomoe dengan berani melindunginya.

Japan Times menuliskan, "Dia menggunakan pedang dan busur untuk menghadapi seribu ksatria, bisa menghadapi Tuhan maupun setan." (rah/rah)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK