Galau Pemilik Guest House Syariah Hadapi Tamu Nikah Siri

Ardita Mustafa , CNN Indonesia | Minggu, 18/06/2017 18:57 WIB
Galau Pemilik Guest House Syariah Hadapi Tamu Nikah Siri Ritma, sang pemilik Guest House Ritma saat ditemui pada Selasa (6/6). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Banyuwangi, CNN Indonesia -- Ada perasaan dilema, saat Ritma Nindita harus menuruti permintaan suaminya untuk tidak lagi bekerja kantoran setelah mereka menikah setahun yang lalu. Saat itu usianya baru 30 tahun dan belum lama lulus dari bidang Psikologi Bisnis dari sebuah universitas swasta di Malang, Jawa Tengah. Tentu saja, bekerja sebagai pegawai kantoran menjadi salah satu impiannya.

Perempuan berjilbab anak pertama dari tiga bersaudara ini lalu memutar otak, agar tetap bisa mengurus keluarga sambil menyibukkan diri.

Ia pun teringat rumah peninggalan neneknya yang berada di Jalan KH Wahid Hasyim, Banyuwangi. Setelah neneknya wafat pada 2003, rumah yang berada persis di perempatan itu tidak terurus, padahal sebelumnya selalu ramai dengan gelak tawa saat keluarganya berkumpul.

Dengan izin dari keluarga besar dan suami, akhirnya Ritma memutuskan untuk mengubah rumah bergaya kolonial itu sebagai tempat menginap.
Keluarga Ritma bukan pebisnis pariwisata. Usaha ini bisa dibilang menjadi uji coba yang pertama. Konsep guest house syariah diterapkannya karena terinspirasi dari jaringan Hotel Sofyan, milik keluarga artis yang digemarinya, Marshanda, yang menerapkan konsep serupa.

Lahir dari keluarga pemeluk Islam yang taat, Ritma merasa konsep tersebut tidak berseberangan dengan kepercayaannya, sehingga ia merasa akan lebih nyaman untuk mengurus bisnisnya di masa depan.

Karena enggan meminjam uang ke bank, dengan alasan tidak ingin terikat hitung-hitungan yang dirasa “kurang berkah”, Ritma mengorbankan uang tabungannya untuk melakukan renovasi. Tentu saja, ada beberapa anggota keluarga yang ikut menawarkan bantuan, semacam investasi tanpa bunga.

Sejak 2014, rumah satu tingkat dengan tempat parkir dan halaman belakang yang lumayan luas itu lalu dipermak. Dari yang tadinya hanya memiliki empat kamar menjadi sembilan kamar, masing-masing dibuat memiliki kamar mandi dalam dan teras mungil.

Tanpa meninggalkan kesan rumah nenek, akhirnya rumah itu resmi menjadi Ritma Guest House Syariah pada Februari 2017.
Baru empat bulan beroperasi, Ritma cukup terkejut dengan banyaknya tamu yang datang. Jika tempat menginap pada umumnya masih tergantung dengan musim liburan wisatawan, tempat menginapnya yang berkonsep syariah justru seakan memiliki “musim liburan setiap hari”.

Ada saja tamu yang menginap, mulai dari pekerja yang sedang dinas, mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, wisatawan wanita, wisatawan manula sampai rombongan tur arisan atau pengajian. Selain orang Indonesia, tak sedikit juga warga negara asing, yang rasanya cukup jauh dari konsep syariah.

“Awalnya bikin guest house karena ingin punya usaha yang bisa dikelola dari rumah. Tapi sekarang malah tidak bisa santai hahaha… Alhamdulillah,” kata Ritma sambil tertawa saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com di Banyuwangi pada Selasa (6/6).

“Saya juga terkejut karena banyak yang lebih suka menginap di sini ketimbang di hotel, padahal di sini aturannya lumayan ketat. Mereka bilang karena suasananya sangat rumahan dan tenang,” lanjutnya.
Mengunjungi Ritma Guest House Syariah memang seperti sedang berkunjung ke rumah nenek. Beberapa pohon besar dan tanaman hijau dibiarkan tumbuh di sudut pekarangan sehingga memberikan kesan teduh. Ruang tengahnya tidak banyak perabotan, sehingga terkesan luas. Untuk bersantai, tempat duduk berbahan kayu diletakkan di sekitar teras.

Mau beribadah lebih khusuk? Ada masjid di sebelah bangunan, dengan pintu kecil yang menjadi penghubung. Selain itu, Ritma juga menempatkan alat shalat di setiap lemari kamar.

Dengan tarif mulai dari Rp175 ribu sampai Rp265 ribu per malam, tempat menginap yang juga dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi, televisi, AC dan air panas ini memang terbilang lumayan.

Dilema Pemilik Homestay Syariah Hadapi Tamu Nikah SiriRitma di teras tempat penginapannya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Walau terkesan santai, ada aturan ketat yang diterapkan. Selain tidak boleh merokok dan mengonsumsi makanan minuman non-halal di dalam bangunan, tamu yang tidak dapat menunjukkan surat bukti menikah juga tak boleh menginap dalam satu kamar. Selain Ritma dan beberapa petugas penjaga, kamera CCTV juga dipasang di beberapa titik untuk memastikan tamu mematuhi aturan.

Penerapan aturan itu tentu saja tidak mudah. Ritma beberapa kali harus dipusingkan dengan pasangan yang mengaku menikah siri sampai pasangan warga negara asing yang mengaku sudah tunangan namun belum menikah.

Bagi yang sudah berpasangan namun tak memiliki buku nikah, seperti nikah siri atau bertunangan, Ritma hanya meminta mereka menujukkan surat keterangan dari wilayahnya atau foto peresmiannya. Jika tidak bisa membuktikan, siap-siap saja angkat koper.

“Guest house ini dipasarkan di dunia maya. Di setiap situs, ada pengumuman mengenai aturan. Setelah mereka memesan, pengumuman soal aturan juga dikirimkan melalui surat elektronik. Jadi tidak ada informasi yang tak saya sampaikan sebelum mereka datang ke sini,” ujar Ritma.

“Dari sepuluh tamu, biasanya tujuh tamu langsung membatalkan pesanan begitu tahu ada aturan ini hahaha… Saya tidak kecewa, karena yakin rejeki sudah ada yang atur,” lanjutnya sambil tersenyum.

Dilema Pemilik Guest House Syariah Hadapi Tamu Nikah SiriFasilitas di dalam kamar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bukannya besar kepala, tapi Ritma merasa kalau tempat usaha berkonsep syariah sangat berpotensi di masa depan. Ia merasa beruntung bisa mengoperasikan bisnisnya di Banyuwangi, daerah dengan banyak tujuan wisata alam yang indah sekaligus yang sedang memasarkan konsep wisata halal.

“Bagi pengusaha seperti saya, konsep syariah walau dibilang ketat, tapi memberi ketenangan batin, terutama dalam hal keamanan dan kebersihan. Alhamdulillah, tamu yang datang seakan sudah diseleksi alam, mereka tamu yang “tahu diri”. Karena senang dengan suasananya, mereka juga sampai menjadi langganan,” kata Ritma yang juga mengatakan kalau ada tamu warga negara asing yang sampai menginap sampai tiga minggu.

Masa depan Ritma Guest House Syariah masih sangat panjang, belum lagi jika semakin banyak tempat menginap berkonsep serupa.

Ritma mengaku tidak gentar dan malah berharap semakin banyak tempat menginap berkonsep syariah yang bermunculan, agar semakin banyak pilihan bagi wisatawan sekaligus menggairahkan industri pariwisata di Banyuwangi.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Wisata ‘Cap Halal’ Banyuwangi