LANCONG SEMALAM
Perut Kenyang Hati Senang Berwisata di Kota Wina
Christina Andhika Setyanti | CNN Indonesia
Minggu, 16 Jul 2017 12:12 WIB
Wina, CNN Indonesia -- Berada di Bratislava, ibu kota Slovakia, menjadi sebuah keuntungan sendiri bagi saya. Bukan cuma kotanya yang indah, tapi berada di kota ini juga membuat saya bisa menjelajah negara tetangganya dalam waktu singkat, termasuk Vienna (Wina), ibu kota Austria.
Dari Bratislava, pergi ke Wina ibarat pergi dari Jakarta ke Bandung dengan kereta api. Jadi, jika berkesempatan mengunjungi Bratislava, sangat mungkin untuk berwisata selama semalam di Wina.
Tapi kalau ingin datang langsung ke Wina, penerbangan dari Jakarta bisa dilakukan selama kurang lebih 18 jam menuju Bandara Internasional Wina. Sesampainya di bandara, bisa langsung menuju pusat kota dengan menggunakan kereta, bus, taksi atau mobil sewa. Layanan transportasi umum di sini sangat nyaman, jarang terlihat ada kereta atau bus yang berdesak-desakan.
Ada banyak tempat penginapan di Wina, mulai dari yang murah sampai yang mewah. Baiknya, menginap dekat stasiun kereta agar tak perlu berjalan terlalu jauh.
Skytower Apartments Vienna Hauptbahnhof, Duschel Apartments Wien-Hauptbahnhof, Apartments Sky Tower Vienna Hauptbahnhof, Apartments Sky Tower Vienna Hauptbahnhof, Motel One Wien-Hauptbahnhof dan Star Inn Hotel Premium Wien Hauptbahnhof menjadi favorit wisatawan, karena lokasinya yang strategis.
Seperti negara Eropa lainnya, Wina memiliki empat musim; dingin, semi, panas dan gugur. Dengan iklim yang cenderung lembab, pergantian musim di sini tak terlalu ekstrem.
Bahasa Jerman dan Inggris menjadi bahasa utama penduduk Wina. Namun, jarang ada papan petunjuk yang menyertakan bahasa Inggris. Bersama aplikasi peta, aplikasi penerjemah bisa diandalkan selama berkeliling di sini.
Hingga saat ini, Wina masih dianggap sebagai salah satu kota teraman di dunia. Tidak ada kawasan yang terlarang untuk dikunjungi. Hanya saja, wisatawan tetap harus ekstra waspada saat dirayu oleh penawaran menarik yang biasanya berujung penipuan.
Selain Bratislava, dari Wina wisatawan juga bisa berkunjung ke Laxenburg, St. Pölten, Wiener Neustadt, Eisenstadt, Brno, Sopron, Krems atau Bruck an der Mur.
Berikut ini ialah pengalaman saya berwisata selama semalam di Wina pada akhir pekan kemarin:
10.00-11.00: Perjalanan dari Bratislava
Perjalanan dari Stasisun Bratislava sengaja dilakukan pagi hari agar tak terlalu siang sampai di Wina. Dengan kereta cepat, perjalanan ditempuh dalam waktu satu jam saja. Anda juga bisa menggunakan bus, hanya saja waktu tempuhnya lebih lama.
Jadwal kereta dari Stasiun Bratislava ke Stasiun Wina ada setiap satu jam sekali, mulai dari pukul 5.30 pagi sampai 22.30 malam, dengan harga tiket pulang pergi Rp213 ribuan per orang.
Di kereta cepat dan bersih ini, Anda bisa bebas memilih kursi di tiap gerbong. Perjalanan selama satu jam tak terasa membosankan, apalagi saat melewati kawasan ladang yang indah bak lukisan.
11.00-11.30: Menuju pusat kota
Udara pagi yang dingin menyambut saya yang baru sampai di Stasiun Wina. Namun udara dingin tak mengendurkan niat saya untuk berkeliling.
Malah, saya membulatkan tekat untuk berjalan kaki menuju pusat kota, karena ingin melihat dari dekat kemegahan arsitektur kuno khas Eropa yang masih berdiri gagah di sepanjang jalan.
11.30-11.45: Gereja St. Elisabeth
Berjalan kaki dari Stasiun Wina sampai pusat kota, Gereja St. Elisabeth menjadi objek wisata pertama yang saya jumpai.
Dari kejauhan, sudah terlihat tumpukan batu bata merah yang menjadi pondasi bangunnya. Menara-menara tinggi membuat gereja ini tampak seperti kastel dalam cerita dongeng.
Sama seperti gereja lain di Eropa, interiornya bernuansa romantis. Langit-langit tinggi membuat gerejanya terlihat lebih luas. Bagian altarnya dilengkapi dengan ornamen klasik dan gambar Yesus.
Bukan cuma di bagian dalamnya, gereja ini terlihat apik. Bagian luar gereja kecil ini juga indah. Sebuah bangku panjang dengan taman bunga tulip kecil terlihat di depan mata.
11.45-13.00: Kastel Belvedere
Setelah Gereja St. Elisabeth, perhentian saya selanjutnya ialah ikon kota Wina, Kastel Belvedere. Kastel ini dirancang dengan arsitektur bergaya barok yang mengesankan megah.
Komplek istana megah yang kini menjadi museum tersebut dibangun sebagai kediaman musim panas untuk Pangeran Eugene of Savoy.
Saya dibuat terkejut dengan luasnya kastel beserta tamannya. Tak sekedar lapang, tamannya juga tertata dengan sangat apik. Pohon dan rumput tumbuh dengan rapi, dipermanis dengan dengan patung-patung singa bersayap yang melambangkan kegagahan.
Dari taman, terlihat pemandangan kota Wina. Kastel ini memang berada di bagian atas kota. Sayang, siang itu langit sedikit mendung. Kabut agak mengganggu pemandangan kota, walau tak mengurangi keindahannya.
Selain taman, kastel ini juga memiliki taman yang membuat saya tak berhenti terkagum. Labirin tersebut menghubungkan istana utama dengan istana ke-dua.
13.00-13.10: Hot Dog kaki lima
Perjalanan menuju pusat kota masih cukup jauh. Juga masih ada Katedral St. Stephen yang harus saya kunjungi.
Berjalan kaki di Wina sangatlah nyaman. Di jalan kecil dan jalan besar, ada fasilitas trotoar yang bisa dijejak.
Selama mencari keberadaan Katedral St. Stephen, saya tak melihat ada gedung pencakar langit. Kalau ada bangunan tinggi, itu merupakan bangunan klasik kuno.
Akhirnya terlihat sebuah taman dengan air mancur yang tinggi dan indah menyambut. Bersebelahan dengan jalur trem yang saling silang, taman air mancur ini seolah menjadi oase yang menyejukkan.
Tak jauh dari situ, sebuah sebuah kios kecil yang menjual hot dog terlihat ramai dikunjungi orang. Sekilas terlihat tak ada yang istimewa dengan hot dog kaki lima ini. Hanya saja ketika dicoba, sosis besar berbahan dasar daging babinya sangat gurih dan nikmat.
Usai mengisi perut sambil memandangi taman air mancur, saya pun melanjutkan pencarian Katedral St. Stephen.
Bersambung ke halaman selanjutnya...
Dari Bratislava, pergi ke Wina ibarat pergi dari Jakarta ke Bandung dengan kereta api. Jadi, jika berkesempatan mengunjungi Bratislava, sangat mungkin untuk berwisata selama semalam di Wina.
Tapi kalau ingin datang langsung ke Wina, penerbangan dari Jakarta bisa dilakukan selama kurang lebih 18 jam menuju Bandara Internasional Wina. Sesampainya di bandara, bisa langsung menuju pusat kota dengan menggunakan kereta, bus, taksi atau mobil sewa. Layanan transportasi umum di sini sangat nyaman, jarang terlihat ada kereta atau bus yang berdesak-desakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skytower Apartments Vienna Hauptbahnhof, Duschel Apartments Wien-Hauptbahnhof, Apartments Sky Tower Vienna Hauptbahnhof, Apartments Sky Tower Vienna Hauptbahnhof, Motel One Wien-Hauptbahnhof dan Star Inn Hotel Premium Wien Hauptbahnhof menjadi favorit wisatawan, karena lokasinya yang strategis.
Baca juga:Mencicipi 'Asia Rasa Spanyol' di Manila |
Seperti negara Eropa lainnya, Wina memiliki empat musim; dingin, semi, panas dan gugur. Dengan iklim yang cenderung lembab, pergantian musim di sini tak terlalu ekstrem.
Saat cerah, penduduk kota Wina kongko di pinggiran kanal Danube untuk menikmati senja. (AFP PHOTO/Joe Klamar) |
Bahasa Jerman dan Inggris menjadi bahasa utama penduduk Wina. Namun, jarang ada papan petunjuk yang menyertakan bahasa Inggris. Bersama aplikasi peta, aplikasi penerjemah bisa diandalkan selama berkeliling di sini.
Hingga saat ini, Wina masih dianggap sebagai salah satu kota teraman di dunia. Tidak ada kawasan yang terlarang untuk dikunjungi. Hanya saja, wisatawan tetap harus ekstra waspada saat dirayu oleh penawaran menarik yang biasanya berujung penipuan.
Selain Bratislava, dari Wina wisatawan juga bisa berkunjung ke Laxenburg, St. Pölten, Wiener Neustadt, Eisenstadt, Brno, Sopron, Krems atau Bruck an der Mur.
Berikut ini ialah pengalaman saya berwisata selama semalam di Wina pada akhir pekan kemarin:
10.00-11.00: Perjalanan dari Bratislava
Perjalanan ke Wina dimulai dari Bratislava dimulai (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti) |
Perjalanan dari Stasisun Bratislava sengaja dilakukan pagi hari agar tak terlalu siang sampai di Wina. Dengan kereta cepat, perjalanan ditempuh dalam waktu satu jam saja. Anda juga bisa menggunakan bus, hanya saja waktu tempuhnya lebih lama.
Jadwal kereta dari Stasiun Bratislava ke Stasiun Wina ada setiap satu jam sekali, mulai dari pukul 5.30 pagi sampai 22.30 malam, dengan harga tiket pulang pergi Rp213 ribuan per orang.
Di kereta cepat dan bersih ini, Anda bisa bebas memilih kursi di tiap gerbong. Perjalanan selama satu jam tak terasa membosankan, apalagi saat melewati kawasan ladang yang indah bak lukisan.
11.00-11.30: Menuju pusat kota
Pengujung musim dingin bukan masalah untuk jalan kaki berkeliling Wina (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti) |
Udara pagi yang dingin menyambut saya yang baru sampai di Stasiun Wina. Namun udara dingin tak mengendurkan niat saya untuk berkeliling.
Malah, saya membulatkan tekat untuk berjalan kaki menuju pusat kota, karena ingin melihat dari dekat kemegahan arsitektur kuno khas Eropa yang masih berdiri gagah di sepanjang jalan.
11.30-11.45: Gereja St. Elisabeth
Dekorasi Gereja St. Elisabeth di Wina. (Thinkstock/Cristiano Alessandro) |
Berjalan kaki dari Stasiun Wina sampai pusat kota, Gereja St. Elisabeth menjadi objek wisata pertama yang saya jumpai.
Dari kejauhan, sudah terlihat tumpukan batu bata merah yang menjadi pondasi bangunnya. Menara-menara tinggi membuat gereja ini tampak seperti kastel dalam cerita dongeng.
Sama seperti gereja lain di Eropa, interiornya bernuansa romantis. Langit-langit tinggi membuat gerejanya terlihat lebih luas. Bagian altarnya dilengkapi dengan ornamen klasik dan gambar Yesus.
Bukan cuma di bagian dalamnya, gereja ini terlihat apik. Bagian luar gereja kecil ini juga indah. Sebuah bangku panjang dengan taman bunga tulip kecil terlihat di depan mata.
11.45-13.00: Kastel Belvedere
Taman kastel Belvedere yang terkenal (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti) |
Setelah Gereja St. Elisabeth, perhentian saya selanjutnya ialah ikon kota Wina, Kastel Belvedere. Kastel ini dirancang dengan arsitektur bergaya barok yang mengesankan megah.
Komplek istana megah yang kini menjadi museum tersebut dibangun sebagai kediaman musim panas untuk Pangeran Eugene of Savoy.
Saya dibuat terkejut dengan luasnya kastel beserta tamannya. Tak sekedar lapang, tamannya juga tertata dengan sangat apik. Pohon dan rumput tumbuh dengan rapi, dipermanis dengan dengan patung-patung singa bersayap yang melambangkan kegagahan.
Dari taman, terlihat pemandangan kota Wina. Kastel ini memang berada di bagian atas kota. Sayang, siang itu langit sedikit mendung. Kabut agak mengganggu pemandangan kota, walau tak mengurangi keindahannya.
Selain taman, kastel ini juga memiliki taman yang membuat saya tak berhenti terkagum. Labirin tersebut menghubungkan istana utama dengan istana ke-dua.
Bagian dalam kastel Belvedere yang menjadi museum (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti) |
13.00-13.10: Hot Dog kaki lima
Perjalanan menuju pusat kota masih cukup jauh. Juga masih ada Katedral St. Stephen yang harus saya kunjungi.
Berjalan kaki di Wina sangatlah nyaman. Di jalan kecil dan jalan besar, ada fasilitas trotoar yang bisa dijejak.
Selama mencari keberadaan Katedral St. Stephen, saya tak melihat ada gedung pencakar langit. Kalau ada bangunan tinggi, itu merupakan bangunan klasik kuno.
Akhirnya terlihat sebuah taman dengan air mancur yang tinggi dan indah menyambut. Bersebelahan dengan jalur trem yang saling silang, taman air mancur ini seolah menjadi oase yang menyejukkan.
Tak jauh dari situ, sebuah sebuah kios kecil yang menjual hot dog terlihat ramai dikunjungi orang. Sekilas terlihat tak ada yang istimewa dengan hot dog kaki lima ini. Hanya saja ketika dicoba, sosis besar berbahan dasar daging babinya sangat gurih dan nikmat.
Usai mengisi perut sambil memandangi taman air mancur, saya pun melanjutkan pencarian Katedral St. Stephen.
Bersambung ke halaman selanjutnya...
Perut Kenyang Hati Senang Berwisata di Kota Wina
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Saat cerah, penduduk kota Wina kongko di pinggiran kanal Danube untuk menikmati senja. (AFP PHOTO/Joe Klamar)
Perjalanan ke Wina dimulai dari Bratislava dimulai (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Pengujung musim dingin bukan masalah untuk jalan kaki berkeliling Wina (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Dekorasi Gereja St. Elisabeth di Wina. (Thinkstock/Cristiano Alessandro)
Taman kastel Belvedere yang terkenal (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Bagian dalam kastel Belvedere yang menjadi museum (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Apple Strudel dan secangkir teh hangat untuk melepas lelah. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Patung indah yang berada di Katedral St. Stephen. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Setelah kenyang, berjalan keliling kota di antara gedung tinggi. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Wiener Schnitzel yang terkenal di Wina (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Hujan yang turun di ujung musim dingin di Wina. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)