Banyuwangi Gelar Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek

advertorial, CNN Indonesia | Senin, 17/07/2017 14:16 WIB
Banyuwangi Gelar Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek, Banyuwangi (Foto: detikTravel)
Banyuwangi, CNN Indonesia -- Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mempromosikan destinasi wisata di wilayahnya. Kali ini lewat Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek yang diselenggarakan di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. 

Festival yang menyajikan makanan dan minuman khas Desa Banjar ini berlangsung dengan meriah dari Sabtu (15/7/2017) hingga Minggu (16/7/2017) kemarin. Salah satu makanan khas yang disajikan adalah sego lemeng.

Sajian ini berisi nasi dengan lauk pauk seperti ayam dan ikan tuna. Kemudian dibungkus daun pisang seperti kue lemper. Ciri khas sego lemeng adalah proses memasaknya, yakni dimasukkan ke batang bambu dan dibakar di tungku dengan menggunakan kayu bakar.


Untuk minuman khasnya ada kopi uthek. Kopi diseduh tanpa gula dan disajikan dengan gula aren merah. Ada beberapa cara untuk menikmati kopi uthek. Bisa diminum terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan menggigit  gula aren. Begitu pula sebaliknya.

"Saat digigit, gula merah itu mengeluarkan bunyi tek. Karena itu, kopi yang diminum bersama gula merah itu disebut kopi uthek," ujar salah satu peserta Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek, Siti Maswiyah.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko turut menghadiri acara pembukaan ini. Menurutnya Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek bisa menjaga kelestarian kuliner khas masyarakat Banyuwangi.

"Festival ini digelar agar wisatawan tahu dan bisa mencicipi keragaman kuliner khas Banyuwangi. Festival ini tumbuh dari bawah dan diprakarsai masyarakat. Festival yang berangkat dari bawah seperti ini sengaja digelar di tempat aslinya, tidak diboyong ke pusat Kota Banyuwangi," paparnya.

Faktanya, sego lemeng adalah makanan yang menjadi bekal para gerilyawan dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah kolonial Belanda. Saat berjuang merebut kemerdekaan, banyak warga bersembunyi di hutan.  Untuk memenuhi asupannya, mereka membuat sego lemeng untuk bertahan hidup.

"Ini menarik. Kalau kita padukan antara cita rasa kulinernya yang khas, kisah historis, dan potensi alamnya Banjar yang indah. Ini akan menjadi paket wisata komplet. Kami optimistis akan banyak wisatawan yang berkunjung ke Desa Banjar," tambahnya.

Di festival ini, para pengunjung bisa melihat proses memasak sego lemeng.

"Banyak masyarakat yang heran dengan teknik atau cara pengolahan tersebut. Karena tidak semua warga yang bisa memasak dengan cara seperti ini," ujar pengunjung Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek, Heini.

Setiap orang yang memasak sego lemeng akan menghasilkan rasa dan bentuk yang berbeda. Sebab mereka pasti mempunyai resep atau cara masak yang berbeda pula.

"Sego lemeng menjadi makanan khas warga Desa Banjar karena sego lemeng ini sudah turun menurun dari nenek moyang kita," jelas Kepala Desa Banjar, Nur Hariri.

Nasi yang dibungkus dengan daun pisang ini biasanya dibuat bekal oleh warga Desa Banjar saat pergi ke kebun.

"Sego lemeng mulai zaman penjajahan Belanda sampai sekarang di Desa Banjar tetap ada. Sekarang bukan hanya warga sekitar yang dapat menikmati sego lemeng, warga masyarakat lain juga dapat bisa memesan kepada para warga sini," tambahnya.

Pengunjung festival juga menikmati keindahan Desa Banjar dengan ragam hiburan yang ditampilkan, Antara lain barong, kuntulan, musik akustik, dan gandrung. (odh)