Setu Babakan: Sepenggal Sejarah dan Secercah Harapan Betawi

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Minggu, 30/07/2017 06:45 WIB
Setu Babakan: Sepenggal Sejarah dan Secercah Harapan Betawi Sudah 17 tahun Setu Babakan menjadi cagar budaya Betawi (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah lama Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan dikenal sebagai sebuah cagar budaya Betawi. Kawasan seluas 32 hektar ini sebenarnya merupakan perkampungan masyarakat Betawi di Jakarta.

Setu Babakan sendiri sudah ditetapkan menjadi cagar budaya Betawi sejak 17 tahun lalu, tepatnya pada 18 Agustus 2000. Setu Babakan menjadi pusat budaya Betawi ini ditetapkan lewat Peraturan Gubernur No. 9 tahun 2000. Setelah Pergub tersebut terbit, Gubernur DKI Jakarta kala itu, Sutiyoso mulai mempersiapkan Setu Babakan menjadi kawasan istimewa bernuansa budaya Betawi.

Hanya saja, dulunya Setu Babakan bukanlah pilihan satu-satunya yang bersaing jadi cagar budaya Betawi. Ketua Bidang Pemuda Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi, Muhammad Ikhsan mengatakan, Setu Babakan bukanlah opsi pertama pemerintah provinsi DKI Jakarta yang ingin membuat cagar budaya Betawi.




Kala itu, kata Ikhsan, Pemprov DKI berencana membangun cagar pelestarian budaya betawi di daerah Condet, Jakarta Timur. Namun, budaya Betawi di Condet dinilai sudah mulai luntur karena perkembangan zaman dan banyaknya pendatang.

"Dulu Condet mungkin berkembang ke luar konsep cagar budaya," kata Ikhsan kepada CNNIndonesia.com, di Setu Babakan, Sabtu (29/7).

Bangun perlahan-lahan

Meski saat itu semua perhatian untuk pembangunan cagar budaya Betawi sudah jatuh pada Setu Babakan, namun itu tak berarti Setu Babakan mendadak berubah menjadi cantik dan istimewa.

Setu Babakan sendiri tidak langsung bersolek megah seperti sekarang. Ikhsan mengungkapkan bahwa kala itu Pemprov DKI Jakarta memberikan lahan dan uang terlebih dahulu kepada masyarakat setempat untuk membangun rumah-rumah khas Betawi di kawasan Setu Babakan.

"Ada juga yang rumah-rumah yang dibuat khusus untuk pagelaran budaya Betawi," tuturnya.



Sejak itu, Pemprov DKI Jakarta semakin memantapkan niatnya untuk membangun suatu kawasan yang bernuansa Betawi. Kemudian pada 2004, Gubernur Sutiyoso meresmikan Setu Babakan sebagai kawasan cagar budaya Betawi.

Kini, kawasan Setu Babakan terdapat rumah-rumah khas Betawi yang mengandung makna dalam tiap bentuk atau arsitekturnya.

lukisan yang terpasang di Setu Babakan saat Lebaran Betawilukisan yang terpasang di Setu Babakan saat Lebaran Betawi (CNN Indonesia/Filani Olyvia)

Di Setu Babakan juga terdapat Museum Betawi. Lukisan, benda-benda antik, dan hasil produk budaya Betawi lainnya dipamerkan di museum tersebut.

Lukisan-lukisan wajah aktor lawas asli Betawi Benyamin Sueb, komposer Ismail Marzuki, dan beberapa tokoh ternama Betawi lainnya terpampang di dalam museum. Benda-benda antik yang dipamerkan antara lain senjata pusaka, alat musik klasik Betawi, batik Betawi, hingga sepeda ontel.



Di kawasan Setu Babakan juga dapat digunakan untuk latihan silat Betawi, tari-tarian Betawi dan jenis seni khas Betawi lainnya.

Meski begitu, Ikhsan merasa masih belum puas dengan kondisi Setu Babakan saat ini. Menurutnya kawasan Setu Babakan masih belum memiliki cukup banyak fasilitas untuk melestarikan budaya Betawi yang sangat banyak jumlahnya.

"Ya tambah lagi lah. Bangunan lima kali lima dengan matras buat silat misalnya. Terus misalnya lenong kita siapin juga kalau bisa," kata Ikhsan.


pertunjukkan silat di Setu BabakanFoto: CNN Indonesia/Bimo Wiwoho
pertunjukkan silat di Setu Babakan


Perihal itu, Ikhsan mengaku pihaknya terus berkomunikasi dengan Pemprov DKI Jakarta. Ikhsan menganggap hal itu penting mengingat Betawi semakin tergerus budaya modern.



Terlebih, lanjut Ikhsan, negara-negara di luar negeri pun sangat memperhatikan pelestarian budaya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika Indonesia, khususnya Pemprov DKI Jakarta tidak berhenti memajukan situs budaya Betawi di Setu Babakan.

"Kami Bamus Betawi, berharap ada pembebasan lahan baru untuk membuat destinasi lainnya juga," ujar Ikhsan.