Lima Penyakit yang Mengintai di Balik Pekatnya Polusi Udara

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Senin, 31/07/2017 06:00 WIB
Lima Penyakit yang Mengintai di Balik Pekatnya Polusi Udara ilustrasi: Ada beberapa penyakit yang mengintai di balik pekatnya polusi udara. (REUTERS/Damir Sagolj)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pencemaran udara atau polusi udara bukan masalah baru bagi warga Indonesia, khususnya Jakarta.
Biasanya pencemaran udara itu disebabkan oleh tingginya emisi dari berbagai aktivitas manusia sehingga terjadi peningkatan gas rumah kaca.

Polusi itu pun terjadi akibat jumlah kendaraan bermotor yang semakin banyak, proyek pembangunan hingga dampak dari pembangkit listrik tenaga uap yang ada di sekitar Jakarta.

Berdasarkan data yang didapatkan oleh Komite Penghapusan Bensin Bertimbal tahun 2016, terdapat 58,3 persen warga Jakarta yang menderita penyakit akibat pencemaran udara.


Tak dimungkiri, polusi udara berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, masih banyak orang yang seolah menyepelekan bahaya polusi udara.


"Orang tidak menyadari jika pencemaran udara sudah sangat parah. Penyakit yang ditimbulkan pun cukup banyak," ujar Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (30/7).

Ahmad mengatakan, penggunaan masker yang kerap diaplikasikan ternyata belum bisa mengurangi dampak polusi yang terhirup. Cara terbaik untuk mengurangi polusi adalah dengan menambah jumlah ruang terbuka hijau.

Berikut beberapa penyakit yang umumnya dialami warga kota berpolusi.

1. Asma atau Asthmatic bronchiale

Penyakit asma terjadi akibat pencemaran udara. Penyakit yang menyerang secara tiba-tiba itu terjadi karena peradangan paru-paru yang diakibatkan oleh udara tercemar yang dihirup seseorang.

Penderita asma biasanya akan mengalami sesak napas, suara berderak saat mengembuskan napas, batuk kering dan perasaan menyempit pada otot dada.

Sebanyak 1,4 juta orang di Jakarta menderita penyakit asma.


2. Bronchopneumonia dan COPD, chronicle obstructive pumonary dieses (penyempitan saluran pernapasan)

Bronchopneumonia biasanya dialami oleh anak-anak. Hal ini biasanya terjadi karena virus yang 'bersembunyi' dalam polusi udara yang masuk pada saluran pernapasan.

Seseorang yang mengalami penyakit itu biasanya akan merasa kesulitan dan nyeri pada saat bernapas, napas yang berbunyi, dan gerakan yang tidak normal di bagian dada.

Sebanyak 172.632 jiwa disebut mengalami penyakit tersebut.

3. Ispa

Infeksi saluran pernapasan atas atau ispa menyebabkan seseorang tidak bisa bernapas dengan baik. Biasanya penyakit ini menyerang seseorang mulai dari hidung, tenggorokan dan paru-paru.

Buruknya, ISPA dapat menular kepada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah. Bahkan, sebanyak 2.731.734 jiwa orang mengalami penyakit tersebut.



4. Paru-paru basah atau pneumonia

Penyakit itu terjadi karena adanya infeksi yang memicu inflamasi pada salah satu atau kedua kantong paru-paru. Biasanya penderita penyakit itu akan mengalami pembengkakan paru-paru yang berisi cairan.

Sebanyak 373.935 jiwa pun diprediksi mengalami penyakit paru-paru basah.

Penyakit tersebut diawali dengan gejala demam, batuk dan kesulitan bernapas. Tidak hanya orang dewasa yang dapat terserang paru-paru basah, anak-anak dan lansia pun dapat mengalaminya.

Pengidap paru-paru basah biasanya tidak dianjurkan untuk keluar malam dengan menggunakan kendaraan roda dua. Hal tersebut diduga karena keluarnya gas karbondioksida yang tinggi di malam hari.

5. Jantung koroner

Siapa sangka jika polusi udara justru berpengaruh pada kesehatan jantung. Sebanyak 1.386.319 jiwa dikatakan memiliki penyakit jantung koroner.

Penyakit tersebut biasanya disebabkan karena jantung tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Gejalanya diawali dengan nyeri pada bagian dada.

Rasa nyeri dapat semakin parah saat seseorang sedang melakukan aktivitas.Ahmad mengatakan, hal tersebut seperti yang dialami oleh aktor Adjie Masaid. Pemicu utamanya, dia menilai, didasari oleh pencemaran udara yang terhirup paru-paru.

"Seperti Adjie Masaid yang meninggal usai beraktivitas kan waktu itu karena pengaruh dari pencemaran udara. Usak beraktivitas terlihat seperti lemas dan kecapaian padahal keracunan polusi udara," ucapnya.