Berbagai Masalah Hidup Orangutan yang Perlu Dipahami Manusia

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Sabtu, 02/09/2017 10:10 WIB
Berbagai Masalah Hidup Orangutan yang Perlu Dipahami Manusia Salah satu masalah hidup yang dialami oleh orangutan ialah ketidakmampuannya untuk kembali ke hutan akibat trauma perbuatan kasar manusia. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Ketapang, CNN Indonesia -- Setiap makhluk hidup pasti memiliki umur, begitu juga dengan orangutan. Sayangnya, ulah manusia “memperpendek” umur mereka. Pembabatan hutan, dianggap hama, sampai diperjualbelikan semakin mengurangi populasi orangutan di dunia.

Total populasi orangutan di dunia tinggal 230 ribu, dengan perhitungan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) tersisa 104.700, sementara Orangutan Sumatera (Pongo abelii) hanya tersisa 7.500.


Agar keberadaannya semakin lestari, banyak kelompok yang mendirikan pusat rehabilitasi dan hutan konservasi orangutan, mulai dari World Wild Foundation sampai Orangutan.org.


Pemerintah Indonesia juga ikut turun tangan dalam usaha penyelamatannya, dengan menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 53/Menhut-IV/2007 tentang Strategi dan Rencana Aki Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 (Rencana Aksi Konservasi Orangutan).


Dalam aturan tersebut, disebutkan kalau pabrik pengolahan kelapa sawit wajib memiliki hutan konservasi dan tidak boleh ada orangutan yang tewas di dalamnya.

Salah satu pabrik yang sudah melakukannya ialah PT Kayung Agro Lestari (KAL) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Di sana, mereka memiliki hutan konservasi seluas 657 hektare yang diperuntukkan untuk orangutan beranakpinak.

Saya berkenalan dengan Dina dan Damai, ibu dan anak orangutan yang sudah lama tinggal di hutan konservasi PT KAL.

Melihat gerak-geriknya dari dekat terkesan kalau Damai dan Dina betah berada di hutan konservasi itu. Jika tidak bergelayutan di pohon, maka mereka akan duduk bermalas-malasan di bawahnya. Hari itu Damai terlihat girang, karena sering mengeluarkan suara atau yang disebut squeak.

[Gambas:Instagram]

Sungguh pemandangan yang semakin membuat hati terenyuh mengetahui kalau keberadaan mereka terancam oleh perkembangan zaman.

Menurut salah satu penjaga hutan, Bambang, pasangan ibu dan anak ini sering memperlihatkan penampakannya saat ia bertugas di hutan.

Dari luar, Dina dan Damai memang terlihat sehat, tapi Bambang mengatakan kalau berat badan mereka belum mencapai ukuran standar orangutan betina, yakni 45 kilogram.

[Gambas:Instagram]

“Dina dan Damai masih kurus karena mereka malas makan, entah mengapa masih terus kami teliti. Mereka lebih sering terlihat bermalas-malasan. Orangutan yang kurang makan berakibat gerakannya menjadi lambat,” kata Bambang kepada CNNIndonesia.com.

Bambang lanjut mengatakan, orangutan memakan daun muda, bunga, buah, kulit kayu, akar pohon, atau serangga seperti semut, rayap dan jangkrik.

“Tapi kalau main ke hutan konservasi jangan sampai memberi orangutan makanan ya, karena nanti insting hewannya akan tumpul dan malah bergantung dengan manusia,” ujar Bambang mengingatkan.

[Gambas:Instagram]

Masalah hidup yang dialami Dina dan Damai tak seberat yang dialami Ucil, orangutan jantan yang terpaksa diasuh di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Sudah hampir 10 tahun Ucil berada di sini, sejak dirinya ditemukan di rumah warga yang mengeksploitasinya dengan memaksanya minum arak dan mengisap rokok. Entah untuk kepentingan apa.

Insting hewannya pun tumpul, sehingga dirinya tak bisa dilepaskan ke hutan konservasi. Setiap hari ia harus diberi makan oleh pengasuhnya.

Perilaku Ucil pun tak alami, ia mengeluarkan squeak yang keras saat berada di tengah keramaian, tanda trauma.

Koordinator Medis YIARI, Dokter Sulhi Alfa mengatakan, proses rehabilitasi terhadap Ucil termasuk terlambat.


“Rehabilitasi tiap orangutan berbeda, namun kami terus berusaha agar Ucil bisa kembali ke hutan konservasi,” kata Sulhi.

Tak hanya di Ketapang, keberadaan orangutan juga bisa ditemui di beberapa Taman Nasional di Indonesia, seperti di Taman Nasional Betung Kerihun (Kalimantan Barat), Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimatan Tengah), Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur), Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Taman Nasional Jambi (Sumatera), dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Jambi (Sumatera).