Kolaborasi Dua Seniman di Balik Motif Batik Kemasan Bir

Rahman Indra, CNN Indonesia | Kamis, 05/10/2017 18:28 WIB
Kolaborasi Dua Seniman di Balik Motif Batik Kemasan Bir Seniman grafiti Darbotz dan ilustrator Ykha Amelz berkolaborasi membuat desain motif batik di kemasan edisi terbatas bir Guinness terbaru One Indonesia Edition. (Foto: Guinness)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua seniman kreatif Indonesia mendesain motif batik di kemasan edisi terbatas bir Guinness terbaru bertajuk One Indonesia Edition. 

Mengusung tema khusus yang menyatukan berbagai perbedaan di Indonesia, keduanya yakni seniman grafiti, Darbotz dan ilustrator Ykha Amelz. 

Darbotz yang sebelumnya lebih banyak berkiprah di mural dan seni grafiti kali ini mendesain motif batik untuk botol dan kaleng bir hitam, sementara Ykha didapuk mendesain motif batik untuk kaleng Guinness Zero Original dan Guinness Ginseng and Zesty Lime. 


Ini kali pertama seniman kreatif Indonesia mendesain motif batik di kemasan bir Guinness. 

Kemasan batik Guinness.Kemasan batik Guinness (Foto: Guinness)
“Ada tantangan tersendiri dalam hal ini, saya tertarik karena konsepnya yang ingin menyatukan berbagai perbedaan di Indonesia, dan itu lewat batik,” ujar Darbotz, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (3/10). 

Menurut Darbotz, ada empat elemen yang ingin disampaikan dalam desain motif batik di kemasan bir kali ini. Keempat elemen itu yakni Api, Air, Bumi dan Udara. Ia mendapat bagian Api dan Air, sementara Ykha mengolah elemen Bumi dan Udara. 

“Empat elemen yang sebenarnya berbeda-beda, tapi bisa menjadi satu kesatuan,” ujarnya menambahkan. 

Beranjak dari prinsip-prinsip ‘Pancha Mahabhuta’ yang menggabungkan elemen-elemen yang bertolak belakang untuk menciptakan pola yang harmonis dan menyatu, Api dan Air menjadi dua hal kontras tapi saling melengkapi.

Darbotz membuat motif batiknya berbentuk Parang Ikan sebagai simbol Air, sementara Kemitir Lidah sebagai Api. Dua elemen bertolak belakang ini dibuat dengan saling silang dan warna cerah yang cukup mencolok mata. 

“Pesannya ingin menunjukkan kesatuan, makanya ada beberapa elemen yang sifatnya berseberangan. Beragam, tapi tetap satu,” ujarnya. 

Kolaborasi Dua Seniman di Balik Motif Batik di Kemasan BirDarbotz. (Foto: Dok. Billsatya)

Perpaduan desain

Senada dengan Darbotz, Ykha Amelz juga menuturkan ini kali pertama ia mendapat tantangan mendesain motif batik di sebuah produk atau kemasan bir. 

Mendapat bagian Bumi (Pertiwi) dan Udara (Bayu), Ykha mengusung simbol kesatuan dan keseimbangan. Motif batiknya berupa burung Pakshi dan Mega Mendung yang merepresentasikan Udara, serta Padi dan Genggaman Beras sebagai simbol Bumi. 

Jika desain Darbotz saling silang seperti huruf X, desain Ykha lebih berupa lingkaran atau 'yin dan yang' saling melingkar. 

“Ini adalah simbol dua dunia jadi satu, karena bagianku memang sebagai simbol kesatuan dan kestabilan,” ujar Ykha beralasan, saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/10).

Berhubung ia mendesain untuk dua rasa berbeda, yakni Guinness Zero Original dan Guinness Zero Ginseng and Zesty Lime, warna masing-masing motif lalu juga dibuat beda. Pada burung Pakshi misalnya, satu berwarna biru, lainnya merah.

"Yang ingin ditampilkan dari desain, adalah adanya elemen-elemen yang bertolak belakang, berbeda, tapi bisa indah saat menjadi satu kesatuan,” ujarnya. 

Gagasan itu sekaligus juga ingin mengingatkan pada masyarakat bahwa perbedaan yang ada tidak semestinya menjadi pemicu konflik dan pemecahbelah, tapi sebaliknya, mengikat menjadi satu dan utuh.

Desain motif batik yang dibuat Darbotz dan Ykha baru saja diluncurkan seiring dengan peringatan Hari Batik Nasional, pada 2 Oktober 2017. 
Kolaborasi Dua Seniman di Balik Motif Batik di Kemasan BirYkha Amelz. (Foto: CNN Indonesia/Mundri Winanto)

Gagasan akan batik

Bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional, Guinness juga  merilis video kolaborasi kedua seniman yang menampilkan proses kreatif di balik desain. 

Dalam pernyataan resminya, Guinness mengungkapkan gagasan akan batik muncul untuk merayakan batik sebagai 'seragam' persatuan Indonesia. Itu diwujudkan dengan mempertemukan dua desainer Indonesia berbakat untuk mendesain kemasan Guinness edisi terbatas.

Perilisan kemasan khusus itu merupakan apresiasi Guinness terhadap benang merah yang menyatukan keberagaman Indonesia.

Upaya ini dilakukan mengingat persoalan masyarakat yang semakin terkotak-kotak, dan batik hadir sebagai salah satu simbol semangat kebersamaan Indonesia.

"Batik telah mengakar dalam sejarah Indonesia, dan punya keunikan sebagai salah satu bentuk karya seni yang bertahan sejak masa dulu hingga era modern," tambah Era Soekamto.

Menurutnya, motif batik karya Darbotz dan Ykha benar-benar merepresentasikan empat elemen yakni Api, Air, Bumi dan Udara dalam bentuk desain kontemporer.

Kemasan edisi terbatas dari One Indonesia Edition itu dapat dilihat di kemasan Guinness Foreign Extra Stout pint, kuart, dan kaleng ataupun Guinness Zero Original dan Guinness Zero Ginseng and Zesty Lime. Kemasan tersebut dijadwalkan rilis di gerai resmi Guinness di seluruh Indonesia, antara Oktober hingga Desember 2017.

[Gambas:Video CNN]