Heboh Kuda Lumping jadi Kostum Nasional Miss Grand Malaysia

Rahman Indra, CNN Indonesia | Kamis, 05/10/2017 11:16 WIB
Mengenakan Kuda Lumping sebagai National Costume untuk ajang Miss Grand Internasional 2017, Malaysia menuai banyak kecaman. Mengenakan Kuda Lumping sebagai National Costume untuk ajang Miss Grand Internasional, Malaysia menuai pro dan kontra. (Foto: Screenshot via Instagram (@missgrandmalaysia))
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak merilis foto National Costume berupa 'Kuda Lumping' di media sosial, pihak Miss Grand Malaysia menuai banyak kecaman dari publik Indonesia. 

Berbagai komentar pedas dan negatif mengiringi potret kuda lumping yang dikenakan Sanjeda John, Miss Grand Malaysia 2017. Kostum tersebut merupakan rancangan desainer Hana Yaakob, yang sekilas mengingatkan pada kuda lumping dari tarian khas di Jawa.

Beberapa komentar dari publik mengecam karena kuda lumping merupakan seni budaya dari Indonesia, yang tak seharusnya jadi kostum nasional Malaysia.


Seperti ungkapan akun @satrio.yogaswara, yang menyebutkan kuda lumping, "Ini budaya Indonesia."

"Kuda kepang asli Jawa, saya orang Jawa asli tidak terima kuda kepang dikatakan milik Johor," tulis @bintangsatriaa.


Meski di postingan potret kuda lumping itu, pihak Miss Grand Malaysia mencantumkan asal muasal kostum dari Jawa, masih ada yang tidak bisa menerima klaim itu.

"Lebih bijaknya Malaysia menggunakan pakaian asli budayanya agar tak menimbulkan kegaduhan, karena budaya kuda lumping ini orisinal dari Indonesia dan masih kuat keberadaannya di Jawa," tulis @brad_talk.

Ia menambahkan, karena yang dibawa ke acara Event International sehingga bukan sengaja merupakan klaim secara halus, karena dunia mungkin akan mengenal kuda lumping dari Malaysia, dan ini menimbulkan stigma buruk yang menyinggung rakyat Indonesia.

Tak hanya kuda lumping, @mhmmdfirmansyah06 juga mempermasalahkan akan sepatu yang dikenakan Miss Grand Malaysia yang serupa batik.

"Punya Indonesia, lagi-lagi diakuin. Sepatunya juga batik itu," tulisnya.

Pihak Miss Grand Malaysia sendiri mencamtumkan beberapa penjelasan akan National Costume kuda lumping ini lewat postingannya. 

[Gambas:Instagram] 

Disebutkan, kostum nasional itu terinspirasi dari masyarakat Jawa yang tinggal di sebelah selatan Johor. Merunut sejarahnya, pada awal abad 20, terjadi migrasi masyarakat Jawa dari Indonesia dengan kapal Belanda dan Jepang di masa pencarian akan tanah tempat tinggal baru.

Bersamaan dengan migrasi ini mereka membawa budaya dan termasuk tarian unik kuda lumping yang ditampilkan dalam beberapa perhelatan.

Pada 1971, Menteri Pariwisata Johor menyatakan tari Kuda Kepang yang ditampilkan masyarakat Jawa di Johor sebagai simbol kesatuan dan keberagaman budaya orang Johor.

Dengan sejarahnya itu, warisan budaya orang Jawa meluas hingga ke selatan Johor, Perak dan Selangor di Malaysia, dan Singapura.

Tak ingin jadi polemik panjang

National Costume Kuda Lumping dikenakan Miss Grand Malaysia untuk bersaing di ajang Miss Grand International yang berlangsung Kamis (5/10) hingga malam final 25 Oktober mendatang. 

Dari Indonesia, ada Dea Rizkita, Puteri Indonesia Perdamaian 2017 yang akan bersaing dengan kontestan lain dari 86 negara. 

[Gambas:Instagram]

Mega Angkasa, Ketua bidang Komunikasi Yayasan Puteri Indonesia (YPI) mengatakan Dea sudah berada di Vitenam untuk mulai menjalani proses pemilihan Miss Grand Internasional.

Untuk kostum nasionalnya, Dea mengenakan kostum rancangan Morphacio Body Art dan Maya Ratih Couture bertajuk Ibu Pertiwi yang tampak megah dengan aneka candi di bagian ekornya. Berbagai filosofi akan Indonesia disematkan di bagian punggung dan sabuk sayap.

Terkait polemik kostum nasional yang dikenakan Miss Grand Malaysia, Mega mengatakan dirinya sudah mendengar akan hal itu, dan mengetahui kalau rancangan kuda lumping itu merupakan hasil karya desainer yang berketurunan Indonesia. 

Seperti diketahui, kata Mega, memang banyak warga Indonesia, yang ada di Johor, Malaysia. Mereka menyerap seni dan budaya Indonesia, dan bukan hanya kuda lumping saja, tapi juga ada seni budaya lain. 

"Sah-sah saja, asal tidak klaim itu sebagai kebudayaan mereka," ujar Mega. 

Yang jadi kontroversi, lanjut Mega, adalah klaim Malaysia bahwa itu sebagai kebudayaan mereka. Meski sudah diklarfikasi oleh desainer, pro dan kontra ini sepertinya masih ada. 

"Kita tidak merasa terganggu, karena Dea akan menampilkan (kostum nasional) yang berbeda, kita tak pernah kehabisan gagasan akan National Costume," ujarnya menambahkan. 

Menurut Mega, kuda lumping ini bukan kali pertama, bagi Malaysia membawakan National Costume yang akarnya ada di Indonesia. Sebelumnya, kata dia, ada bunga Raflesia dan wayang.

"Kita tidak mau dibenturkan dengan hal itu, walau satu panggung, Dea menampilkan hal lain. Itulah sebabnya, kita lakukan terobosan untuk desain kostum nasional," ujarnya. .

Lebih jauh, Mega mengatakan, dirinya tidak mau terlibat polemik itu. Pada grup pencinta kontes kecantikan pun, ia berpesan agar tidak membuat suasana menjadi panas dan jadi bumerang bagi Dea dalam berkompetisi di ajang Miss Grand International nanti. Karena, bagaimanapun Dea mesti berteman dengan kontestan lainnya, termasuk dengan Miss Grand Malaysia.