Catatan Perjalanan

Menyusuri Desa Wisata Magelang

Rahman Indra, CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 10:50 WIB
Menyusuri Desa Wisata Magelang Di balik bangunan besar dan megah Candi Borobudur, terdapat sejumlah desa wisata yang tak kalah menariknya untuk disambangi saat berada di Magelang. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Magelang, CNN Indonesia -- Saya datang ke Magelang, sepekan setelah Presiden Indonesia Joko Widodo menyambangi desa-desa wisata di sana pada akhir September lalu. Salah satunya yakni Desa Karanganyar, yang berjarak 3,6 kilometer dari objek wisata bersejarah Candi Borobudur.

Heru (30), kusir delman yang saya tumpangi, menyampaikan itu ketika kami melewati tempat yang dikunjungi Jokowi. Kata dia, sang RI 1 datang untuk meresmikan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) dan Pottery Academy. Pottery atau kerajinan gerabah dari tanah liat memang menjadi salah satu kerajinan populer di Karanganyar.

Saat kami melewati balai desa, masih tampak terpampang spanduk yang menyambut Jokowi. "Selamat Datang, Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Hj Iriana Joko Widodo di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Karanganyar."


Tak jauh dari poster itu terdapat sebuah papan bertuliskan Pottery Academy.

Sepanjang perjalanan dari Hotel Amanjiwo, tempat saya menginap hingga menuju pengrajin gerabah di Karanganayar, Heru terus bercerita dan memberi saya paparan mengenai tempat-tempat yang kami lalui. Di hari kedua perjalanan di Magelang, saya memutuskan untuk melihat Magelang lebih dekat dengan menyusuri desa-desa wisatanya. 

Sehari Bertualang, Menyusuri Desa Wisata Magelang Menyusuri desa wisata di Magelang bisa dilakukan dengan jalan kaki, bersepeda, atau naik delman. (CNN Indonesia/Rahman Indra)

Desa-desa wisata yang ada di sekitar Candi Borobudur, kata dia, kini terus berkembang pesat. Konon, Magelang dalam beberapa tahun terakhir memang sedang giat-giatnya mengembangkan desa wisatanya, seiring dengan menanjaknya popularitas Borobudur sebagai tujuan wisata.

Bahkan tiap tahun digelar Festival Desa Wisata yang pada Juli tahun ini memasuki gelaran ke-tiga. Di festival tersebut setiap desa menampilkan keunggulan masing-masing.

Dilabeli wisata, desa-desa tersebut mengandalkan kearifan lokal, kerajinan, kesenian, dan lanskap berlatar pegunungan yang memanjakan mata buat wisatawan. Tidak hanya sekadar dilihat, penduduk desa juga memberi kesempatan pada wisatawan untuk turut terlibat misalnya dalam pembuatan gerabah.

Seperti saat Jumaro, perempuan yang berusia di sekitar 30-an, menyambut kami di rumah yang sekaligus jadi pusat kerajinan gerabah miliknya di Karanganyar.

Ketika menyambut saya dan rombongan, tanpa banyak basa-basi, ia langsung duduk di bangku tempat ia biasa membuat gerabah. Kami berempat duduk mengelilinginya. Dengan cekatan, wanita yang mengaku sudah belasan tahun membuat gerabah ini menyelesaikan satu cetakan asbak berbentuk ukiran dalam hitungan menit.

Ia lalu memberikan kesempatan pada kami untuk berkreasi. Saya mencobanya, dan ternyata gampang-gampang sulit. Percobaan pertama, saya berhasil membuat satu bentukan asbak sederhana. Tapi pada latihan pembuatan kedua, saya menghancurkannya karena menekan tanah liat terlalu keras.

"Tekan perlahan, jangan emosional," ujar Mbak Jum mengingatkan sembari mengulang menggumpal tanah liat berikutnya.

Sehari Bertualang, Menyusuri Desa Wisata Magelang Jumaro memeragakan proses pembuatan gerabah di kediamannya. (CNN Indonesia/Rahman Indra)


Semua yang hadir tertawa karena menangkap dengan makna berbeda. Membuat gerabah lalu tak ubahnya seperti healing process, yang membutuhkan ketenangan dan pengalihan distraksi akan beban pikiran. Tak lama, saya berhasil membuat kreasi kedua, yakni cetakan cangkir.

Menurut Mbak Jum, gerabah adalah salah satu andalan di desa Karanganyar yang sudah dijalani penduduk setempat bertahun-tahun. Jika ia menggunakan teknik pembuatan gerabah dan pengeringan dengan mesin seperti oven, ada juga yang masih tradisional, melalui pembakaran.

Hasil kerajinan biasanya dijual ke berbagai tempat wisata, dan hotel, atau ada juga yang melakukan pemesanan khusus.

Sehari Bertualang, Menyusuri Desa Wisata Magelang Proses pembuatan gerabah yang masih tradisional di desa wisata Karanganyar, Magelang. (CNN Indonesia/Rahman Indra)


Dari desa Karanganyar, saya lalu meneruskan perjalanan menyusuri desa wisata lainnya, yakni Tanjungsari dan Tuksongo.

'Sejuta' potensi desa wisata


Di desa Tanjungsari, kami berhenti di salah satu pengrajin tahu rumahan. Dari luar rumahnya tampak biasa saja, tapi begitu masuk ke dalamnya, terdapat pabrik tahu mini.

Ruangan itu tak begitu besar, ada sumur di bagian tengah. Tumpukan kedelai yang siap diproses. Satu tungku besar untuk pembakaran. Beberapa ember untuk memproses pengeringan dan pembentukan tahu. Seorang pengrajin terlihat sibuk menuntaskan pekerjaannya.

Daruki, pria yang sudah paruh baya sebagai pemilik pabrik tahu mengatakan dirinya sudah menjalankan usahanya hampir 40 tahun. Rumah produksinya cukup terkenal, dan hasil produksi dikirim ke berbagai tempat.

Usai bertandang ke pabrik tahu di Tanjungsari, saya diajak Heru menyusuri desa wisata Tuksongo, yang didominasi petani tembakau.

Hampir di sepanjang jalan tampak tembakau kering yang sedang dijemur, tanaman tembakau, atau para petani yang sedang membersihkan tembakau di halaman depan rumah.

Gerimis yang tiba-tiba datang tak diundang membuat repot para petani yang kemudian dengan tergopoh-gopoh mengangkatnya untuk di bawa ke dalam ruang.

Kami sempat berhenti sebentar saat Heru menjelaskan pada saya proses petani membalik jemuran tembakaunya, agar kering keseluruhan, tidak hanya sebagian.

Sehari Bertualang, Menyusuri Desa Wisata Magelang Potret para petani tembakau di desa Tuksongo, Magelang. (CNN Indonesia/Rahman Indra)

Desa Karanganyar, Tanjungsari dan Tuksongo, kata Heru, hanya tiga dari hampir 21 desa wisata yang ada di Magelang. Lainnya yang tak kalah terkenal adalah Candirejo dan Wanurejo yang terletak di bagian timur dari Amanjiwo.

Jika desa Karanganyar terkenal dengan gerabah, Tanjungsari dengan tahu, Tuksongo dengan tembakau, saya lalu penasaran dengan Heru yang tak memilih jadi pengrajin atau petani.

"Saya hobi dengan kuda, dari kecil sudah ikut pacu kuda dan merawatnya, menjadi kusir tak jauh beda, dan saya masih menikmatinya," ujar dia lugas.

Perjalanan penyusuran desa wisata kami berakhir saat ia mengantarkan saya kembali ke titik temu sebelum kembali ke hotel. Pertemuan dengan Heru, Mbak Jum, Pak Daruki dan petani tembakau yang melempar senyum ramahnya saat saya potret memberi saya pengalaman baru.

Magelang ternyata tak hanya menyuguhkan kemegahan Candi Borobudur, tapi di baliknya juga ada pemandangan asri dan penduduk yang menerima tamu dengan besar hati. Saya mungkin akan kembali lagi nanti, untuk desa wisata Magelang lainnya yang belum sempat saya kunjungi kali ini.