Hari AIDS Sedunia

Cerita Ayu Oktariani Berjuang Menghadapi HIV AIDS

Rahman Indra, CNN Indonesia | Jumat, 01/12/2017 09:30 WIB
Cerita Ayu Oktariani Berjuang Menghadapi HIV AIDS Memeringati Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap 1 Desember, Ayu Oktariani, berbagi cerita tentang perjuangannya menghadapi AIDS sejak terjangkit 2009 lalu. (Foto: Thinkstock/Utah778)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada hari ini, 1 Desember, menjadi momentum untuk membagi kesadaran akan pentingnya untuk tahu dan memahami akan penyakit seputar HIV dan AIDS.

Indonesia sendiri menargetkan untuk mengakhiri AIDS pada 2030 mendatang. Tercapainya keinginan tersebut ditandai dengan target 90-90-90 yang terpenuhi, yaitu 90 persen orang yang hidup HIV mengetahui status mereka, 90 persen orang dengan status HIV tersebut mengakses pengobatan Therapy Antiretroviral (ARV), dan 90 persen ODHA dalam pengobatan dapat menekankan viral load.

Mengutip laporan AIDS Data Hub yang memeroleh hasil survei dari HIV UNAIDS 2017 disebutkan bahwa persen perubahan dalam infeksi HIV baru antara tahun 2010 dan 2016 di Indonesia mengalami penurunan hingga 21 persen.

Meskipun begitu, hasil survei mengenai data distribusi infeksi HIV baru per negara 2016 menunjukkan di antara 270.000 infeksi HIV di Asia dan Pasifik tahun 2016, 48.000 atau 16 persen berasal dari Indonesia.

Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini lalu diperingati dengan mengusung tagar #SayaBerani, dengan harapan dapat menghapus stigma tentang HIV dan salah satu upaya mengakhiri epidemi HIV tahun 2030.



Ditemui di sela-sela peringatan Hari AIDS Sedunia di Jakarta, Ayu Oktariani salah seorang yang terinfeksi HIV, berbagi cerita. Ia mengatakan penderita HIV bisa beraktivitas normal dan mematahkan stigma buruk mengenai HIV itu sendiri.

"Saya terinfeksi HIV tahun 2009 dari pasangan saya yang dulunya adalah pengguna Napza untuk jenis putau. Jadi waktu itu saya adalah orang yang tidak paham informasi, saya hanya mengetahui HIV bisa menular lewat hubungan seks dan tidak tau bisa melalui pengguna Napza, " ujarnya kepada CNNIndonesia.com di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Kamis (30/11).

Ia mengetahui dirinya mengidap HIV ketika seorang teman menyarankan agar suaminya menjalani tes HIV karena ada sejarah penggunaan narkoba. Namun, kala itu Ayu dan suami masih dalam masa penolakan dan memakan waktu lama sebelum akhirnya melakukan pemeriksaan. Sesuai dengan Standard Operation Procedure (SOP) layanan kesehatan, jika seseorang terinfeksi maka istri, anak, atau suami harus menjalani pemeriksaan.

"Saya sudah ada ciri-ciri karena saya mengalami penurunan berat badan drastis hingga saya hanya berat 35 kg. Kemudiam ada jamur di lidah dan diare. Sebenarnya ciri-ciri seperti penyakit biasa, jadi memang sulit untuk dijelaskan," ujarnya.

Ayu melakukan pemeriksaan dan saat itu pula ia mengetahui dirinya positif HIV. Adapun karena kondisi yang sudah buruk, suami Ayu meninggal pada 2009 silam. Ia kembali menikah kepada seseorang yang negatif HIV pada 2014.


Ayu menambahkan bahwa dukungan dari orang terdekat menjadi salah satu cara untuk pulih. Ia kemudian melanjutkan dengan bercerita bahwa ia memiliki support system dari keluarga yang baik. Baginya dukungan orang terdekat dan keluarga dibarengi dengan kebiasaan rutin mengonsumsi obat serta menjalani terapi ARV ialah jalan untuk pemulihan yang lebih cepat.

"Kalau ditanya kenapa bisa sesehat ini karena terapi ARV. Terapi tersebut sangat penting, kalau disuruh minum ya diminum. Diminum seumur hidup dan tepat waktu jangan sampai terlambat," ujarnya.

Kebanyakan orang terinfeksi kemudian sedih, mengurung diri dan tidak memiliki support system. Jika bertemu dengan teman-teman kita harus encourage. Bagaimana caranya pelan-pelan berbicara dengan keluarga atau kemudian mencari kelompok dukungan," ungkap Ayu.

Perilaku diskriminatif dari masyarakat juga pernah dialaminya. Ia takut untuk bertemu bahkan bercerita kepada orang. Ia kemudian menyadari bahwa stigma dan perilaku diskriminatif tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman. Ayu akhirnya memutuskan untuk berbicara.

"Akhirnya sejak hari itu saya memutuskan bahwa HIV harus punya wajah. Kalau kita terus bersembunti kemudian kita meminta orang agar tidak mendiskriminasi lalu ODHA juga mendiskriminasi dirinya sendiri tidak akan selesai," tambahnya.


Meskipun begitu, permasalahan tidak berhenti pada stigma saja. Ayu bersama suami dan anak yang kini tinggal di Bandung menyebtukan bahwa layanan HIV tersebar di hampir semua rumah sakit rujukan pemerintah, namun PPIA hanya terdapat di satu rumah sakit.

"Pencegahan penularan HIV harus membuka mata masyarakat kalau orang dengan HIV punya anak sehat, kita bisa melahirkan anak sehat. Yang saya kritisi ialah PPIA dan dokter yang hanya ada satu padahal kebutuhannya besar," tambahnya.

Ayu kemudian memberikan pesan untuk orang yang baru mengetahui dirinya positif HIV untuk jangan menyangkal serta memaafkan diri dan menghadapinya secara ikhlas. Tidak lupa pula untuk mencari kelompok dukungan jika sulit menceritakannya kepada orang tua. Kelompok dukungan bisa diketahui melalui dokter. Selain itu, pesan penting untuk jangan lupa menjalani terapi ARV. Menjalani perawatan sebelum diri memasuki fase AIDS akan mempercepat pemulihan.

Kini Ayu menjabat sebagai dewan di Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dan bertugas dalam monitoring. Sebelum aktif dengan IPPI ia 'terjun langsung di lapangan' dengan menjadi pendukung sebaya di rumah sakit ketika masih di Jakarta. Ketika seseorang telah melakukan proses pemeriksaan dengan dokter, Ayu membantu untuk menguatkan. Meskipun tidak lagi aktif di lapangan ia masih menyampaikan pesan positif melalui tulisan yang ia unggah di blog miliknya.
(tab/rah)