'Gol' Empati Manchester City untuk Anak Jalanan

Masyaril Ahmad, CNN Indonesia | Minggu, 18/12/2016 17:41 WIB
'Gol' Empati Manchester City untuk Anak Jalanan Ilustrasi: Komunitas Rumah Cemara di Bandung, Jawa Barat, memanfaatkan sepak bola sebagai alat perubahan sosial dan persatuan. (Carl Recine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepak bola bukan semata permainan menggelindingkan si bulat ke gawang lawan. Lebih dari itu, sepak bola juga memberikan manfaat besar, baik bagi fisik, emosional maupun hubungan sosial.

Olahraga yang mengandalkan 11 pemain ini melatih sportivitas, kerja sama tim, dan kedisiplinan. Kegiatan yang satu ini juga menyehatkan serta menyenangkan karena melepas hormon endorfin.

Tambah lagi, sepak bola—sebagai olahraga untuk segala usia dan medan—pun menyimpan nilai-nilai sosial, antara lain sebagai media penyatu keberagaman dan pengubah stigma di masyarakat.


Nilai ini lah yang dianut Rumah Cemara, komunitas peduli pengidap narkoba, HIV/AIDS, di Bandung, Jawa Barat. Rumah Cemara memanfaatkan sepak bola sebagai alat perubahan sosial dan persatuan.

Lewat program olahraga, Rumah Cemara mengusung moto 'Keadilan sosial dalam bersepak-bola’ dan mengampanyekan  pentingnya kerukunan antarmanusia, memanusiakan manusia tanpa sekat dan batasan.

Tujuannya, untuk meretas stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS, pengguna narkoba, anak jalanan serta waria. Dengan begitu mereka memiliki kesempatan sama untuk maju dan hidup layak.

Sejak 2006, Rumah Cemara sudah gencar membuat perubahan sosial baru melalui sejumlah kampanye, program dan informasi terkait HIV-AIDS dan pecandu narkoba. Mereka menggunakan sepak bola sebagai medium.

Program Sport for Development, misalnya, meliputi kegiatan sepak bola, futsal, street-soccer, tinju, tenis meja dan maraton. Semula hanya pengidap narkoba, di antaranya positif HIV, yang bergabung. Lama-kelamaan masyarakat juga berpartisipasi.

"Coba bayangkan, orang umum mau main bola tapi mendaftarnya ke klub amatir yang dibangun oleh temen-temen pengguna narkoba dan beberapa dari mereka positif HIV,” Ginan Koesmayadi, pendiri Rumah Cemara, kepada awak media massa, pada Jumat (16/12).

“Saya rasa itu sudah bawah sadar bahwa inklusi itu memang harusnya seperti itu,” kata Ginan. “Ketika benteng-benteng itu sudah dibuka melalui sepak bola, maka saya bisa menyatakan di klub kami sudah tidak ada stigma.”

Ginan menegaskan bahwa segala perbedaan sudah waktunya diretas. “Kita bukan waktunya untuk saling membeda-bedakan, memisah-misahkan dalam sekat. Sekarang waktunya kita untuk berbuat sesuatu untuk dampak yang positif.”

Segala upaya, diyakini Ginan, dilakukan dengan senang hati dan alami, bukan dengan mekanisme kaku, hingga masyarakat pun mau berpartisipasi. Ini bukti sepak bola bisa menjadi medium yang mengakrabkan banyak orang tanpa pandang bulu dan stigma.

Ginan sengaja tidak menerapkan mekanisme sepak bola yang kaku, melainkan nilai sportivitas. Karena justru ini lah yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan pengembangan diri seseorang. “Itu lah yang dikembangkan Rumah Cemara,” kata Ginan.

Sederet prestasi olahraga pernah diraih Rumah Cemara, dari nasional sampai internasional. Di antaranya, turnamen futsal Homeless-World Cup di Prancis pada 2011, berhasil masuk 8 besar dari 72 negara peserta. Beberapa pemain futsal Rumah Cemara bahkan masuk tim nasional dan menjadi top scorer.

Prestasi paling gres, Rumah Cemara menjadi nomine program Cityzen Giving, Manchester City. Ini adalah program sosial amal global yang diinisiasi oleh City Football Foundation dari Manchester City. Tujuannya untuk memberdayakan anak muda melalui kegiatan latihan sepak bola untuk dampak sosial.

Indonesia yang diwakili oleh Rumah Cemara dari Bandung akan bersaing mendapatkan dana 400 ribu poundsterling dengan enam organisasi sosial dari seluh dunia, yaitu Melbourne, Australia; Manchester, Inggris; New York, Amerika Serikat; Beijing, China; dan Mexico City, Meksiko.

Kelak, jika Rumah Cemara menang, dana itu akan digunakan untuk berbagai perubahan sosial yang pernah diusahakan sebelumnya macam edukasi sepak bola anak, penanggulangan HIV/AIDS, pengidap narkoba, dan anak jalanan di 14 komunitas di Bandung.

Saat ini, Indonesia masih mendapat peringkat ke-dua di bawah Meksiko, kalah sekitar sembilan ribu suara per 16 Desember 2016.   Untuk menggolkan Indonesia di program Cityzen Giving, Manchester City, ikuti voting via www.cityzengiving.org/manchester, sampai 24 Desember 2016.

(vga/vga)