Menyusuri Jejak Opium di Golden Triangle

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Minggu, 03/12/2017 15:55 WIB
Menyusuri Jejak Opium di Golden Triangle Dermaga utama di Chiang Rai, sebelum berlayar ke Golden Triangle. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Enam anggota kelompok gerilya dari Myanmar menggendong senjata rakitan sambil terus mengedarkan pandangan di antara pepohonan rimbun. Salah satu kawan mereka membawa tas besar yang berisi batangan emas seberat 10 kilogram.

Tak berapa lama, mereka bertemu dengan dua petani dari Thailand yang membawa karung besar berisi bongkol bergetah opium seberat 10 kilogram. Mata untuk mata, jumlah yang dirasa sebanding. 

Malam itu mereka resmi bertransaksi, yang satu bertujuan memenuhi kebutuhan dapur dan yang satunya lagi demi kemerdekaan negara.


Usai bertukar barang bawaan, kelompok anggota gerilya kembali naik perahu, melewati Sungai Ruak dan Sungai Mekong yang membelah Thailand menuju Myanmar.

Adegan itu terjadi sekitar tahun 1950-an di kawasan yang kini bernama Golden Triangle. Golden Triangle merupakan kawasan segitiga emas penjualan opium yang meliputi Thailand, Myanmar, dan Laos.

Kawasan ini sama-sama berada di ujung negaranya. Dibingkai oleh pegunungan bersuhu dingin dan tersembunyi, sehingga Golden Triangle cocok dijadikan ladang menumbuhkan bunga poppy yang bongkol bergetahnya warna hitamnya dinamai opium.

Sebelum populer menjadi bahan baku heroin dan narkoba sintetis lainnya, pada sebelum Masehi masyarakat di Mesopotamia mengonsumsi opium untuk relaksasi. Opium dicampur dengan teh atau minuman alkohol untuk menghibur diri. Ibu-ibu biasanya mengoleskan opium di putingnya agar sang bayi bisa menyusu sampai tidur.

Namun, kegunaan opium berubah semenjak tiba di China pada abad ke-14. Masyarakat di sana menggunakan opium sebagai bahan merokok sampai mabuk.

Pemerintah China lalu menjual opium kepada pemerintah Inggris sebagai alat tukar hutang. Karena terjadi kesalahpahaman pembayaran hutang yang berujung pada keinginan China untuk melakukan monopoli perdagangan opium di dunia, terjadilah dua kali Perang Opium pada abad ke-18, yang mengakibatkan China memberikan Hong Kong untuk Inggris.

Napak Tilas Serbuk Opium di Golden TriangleGetah opium saat dipanen. (REUTERS/Parwiz)

Hingga abad ke-19, opium menjadi narkoba populer. Walau telah dilarang oleh pemerintah, namun kelompok gerilya di Myanmar dan Laos berusaha menanam dan memanennya, sehingga hasil penjualan opium bisa mendanai pemberontakan mereka. Petani di Thailand juga ikut dalam lingkaran setan itu, dengan maksud menambah penghasilan.

Perang berlalu, perdagangan opium masih berlanjut. Jumlah masyarakat yang terdera ketergantungan narkotika juga semakin meningkat. Khun Sa disebut sebagai Raja Opium dari Myanmar, sebelum akhirnya ia ditangkap pada tahun 1996.

Saat ini Golden Triangle tak lagi ramai oleh kelompok gerilya dan petani yang saling bertransaksi. Di sepanjang pinggiran Sungai Mekong dan Sungai Ruak berdiri pasar, tempat makan, sampai hotel mewah yang menjual pemandangan Golden Triangle beserta sejarahnya.

Saya berkesempatan datang ke tiga negara via Golden Triangle atas undangan menginap dari Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort, Chiang Rai, Thailand, pada akhir pekan kemarin.

Resor mewah ini menghadap langsung ke Golden Triangle, pemandangan yang membuat harga tarif kamar selangit, mulai dari Rp19 jutaan per malam.

Napak Tilas Serbuk Opium di Golden TrianglePemandangan dari balkon Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)


Paket wisata menyusuri sungai yang membelah Golden Triangle menjadi salah satu paket wisata yang mereka tawarkan, selain bermain bersama gajah di kamp penampungan gajah mereka.

Di hari ketiga, saya berkesempatan melakukan napak tilas opium di Chiang Rai, dengan ditemani pemandu wisata dari Anantara, Anan.

Sekitar pukul 10.00 kami sudah ada di Doi Tung Palace, istana peristirahatan milik Kerajaan Thailand. Selain bisa melihat rumah milik bangsawan, saya juga diajak mengunjungi taman bunganya, Mae Fah Luang.

Objek wisata ini berada di atas ketinggian gunung, sehingga dari kejauhan terlihat tertutup kabut tebal. Jalan menuju ke objek wisata ini juga ditutupi oleh hutan lebat, meski jalanannya sudah beraspal halus.

“Dulu di sekitar tempat ini banyak sekali ladang opium. Petani di sini diam-diam menanamnya, karena suhunya sangat cocok,” kata Anan.

Napak Tilas Serbuk Opium di Golden TriangleDulunya kawasan ini adalah ladang opium. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Suramnya opium sudah berganti dengan keceriaan turis, yang asyik berfoto dan menyesap kopi Doi Tung di komplek luas dan megah ini. Kopi Doi Tung merupakan kopi lokal populer di Thailand. Jenisnya arabica.

Usai dari Doi Tung, Anan mengajak saya ke dermaga utama Chiang Rai, untuk naik perahu kayu mengelilingi Golden Triangle. Petualangan di tiga negara di mulai.

Di dermaga, kami membeli tiket perahu seharga Rp125 ribuan per orang. Satu perahu kayu bisa menampung lima orang dewasa plus nahkoda.

Perahu kayu mulai berlayar membelah air sungai yang berwarna kecoklatan. Anan mengatakan saat di era opium, di sungai ini banyak mayat yang mengambang.

Napak Tilas Serbuk Opium di Golden TriangleThailand, Myanmar, dan Laos dalam satu pelayaran perahu. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sekitar 20 menit pelayaran, perahu kayu mampir ke pasar di ujung Laos. Pasar itu berbangunan modern, lengkap dengan atap genteng dan alas semen.

Kami berjalan kaki ke dalam pasar, yang menjual banyak rupa-rupa, mulai dari kerajinan lokal sampai wiski ular kobra.

Papan nama Laos menjadi lokasi favorit berfoto di sini.

Napak Tilas Serbuk Opium di Golden TriangleBukti untuk kerabat kalau sudah ke tiga negara. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Lanjut lagi perahu kayu berlayar menuju dermaga terakhir. Karena air sungai meninggi, kami tak bisa merapat tepat di dermaga Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort. Akhirnya kami berlabuh di dermaga ujung Chiang Rai.

Di ujung dermaga ada patung Buddha berwarna emas yang dihiasi gapura bertuliskan ‘Welcome to Golden Triangle’. Nampak baru dan terawat, menandakan pemerintah Chiang Rai sangat ingin memajukan industri pariwisata kawasannya.

Tapi kami berlabuh di gapura lama. Tulisannya sama, namun nampak kusam dan tak terawat. Meski demikian, turis yang datang tetap berebutan untuk berfoto di depannya.

Sebenarnya ada keinginan untuk menyantap makan di salah satu tempat makan di pinggiran sungai. Tapi, Anan mengatakan kalau kami harus segera ke Museum Opium.

Museum ini berada di seberang Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort. Tiket masuknya Rp20 ribuan per orang. Komplek museumnya mirip dengan Universitas Indonesia, serba lega dan hijau.

“Museum ini dibangun dari duit opium ya?” bisik saya kepada Anan, yang hanya tersenyum geli.

Napak Tilas Serbuk Opium di Golden TriangleInstalasi yang mengagetkan di Museum Opium. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sama seperti cerita Anan, informasi yang sama mengenai opium diberikan di Museum Opium. Hanya saja lebih rinci, karena ada foto, video, dan instalasi yang dipajang.

Lagi-lagi sayangnya, di museum ini tak ada pemandu yang bisa menjelaskan isi museum bagi pengunjung yang malas membaca keterangan terlalu panjang seperti saya.

Sekitar satu jam berkeliling di Museum Opium, saya memutuskan kembali ke resor untuk mengakhiri napak tilas opium di Chiang Rai hari itu.

(ard)