Rawan Infeksi, Kemenkes Tak Rekomendasi Persalinan Alternatif

Elise Dwi Ratnasari , CNN Indonesia | Jumat, 15/12/2017 12:22 WIB
Rawan Infeksi, Kemenkes Tak Rekomendasi Persalinan Alternatif ilustrasi: Meski jadi tren, Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI menegaskan, alternative birthing belum direkomendasikan. (Thinkstock/bunyarit)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam beberapa tahun belakangan banyak ibu hamil yang mulai berpikir untuk menggunakan metode persalinan alternatif demi mengurangi rasa sakit dan juga ketegangan.

Dua metode persalinan alternatif yang populer antara lain water birth dan lotus birth.

Meski jadi tren, Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI menegaskan, alternative birthing belum direkomendasikan.

Water birth merupakan proses melahirkan di dalam air. Water birth dianggap dapat mengurangi rasa sakit saat persalinan.


Saat melakukan water birth, ibu akan berendam di dalam bak air hangat. Sekilas mungkin terlihat nyaman dan membantu mengurangi ketegangan. Hanya saja, kata Eni, dalam proses persalinan ini dikhawatirkan bayi bisa terkena infeksi.

"Kemenkes belum merekomendasikan, siapa yang akan menjamin air yang digunakan itu steril?" kata Eni dalam Forum Diskusi ibu hamil Philips di Chubb Square, Jakarta Pusat, Kamis (14/12).

Sedangkan lotus birth, tali pusar bayi tidak dipotong hingga ia terputus secara alami dengan plasentanya. Proses ini dianggap lebih alami. Namun, Eni tetap mengkhawatirkan adanya infeksi yang mungkin terjadi pada bayi.

Senada dengan Eni, dokter spesialis kandungan Ali Sungkar mengungkapkan, di dunia, dari sekian juta proses persalinan ada sekitar 5.000 - 7.000 orang mempraktikkan proses persalinan alternatif.



"Alternative birthing ini enggak diajarkan di sekolah kedokteran. Selain itu, ada kasus bayi meninggal karena tenggelam atau drowning," kata Ali.

Menurutnya, selain soal jaminan kesterilan air, perlu juga diperhatikan suhu dan baroreseptor atau tekanan air. Namun, praktik alternative birthing ini tetap dianggap tak sesakit melahirkan secara normal. Tak dimungkiri, jelang persalinan, ibu akan merasakan ketakutan dan ketegangan akan rasa sakit yang mungkin dialami.

Selain ketakutan saat proses persalinan, ketakutan lain juga melanda ibu-ibu saat hamil termasuk takut anak lahir tak lengkap, kesehatan janin terganggu atau anak terkena penyakit tertentu. Ali pun berkata dirinya juga kerap berhadapan dengan pasien yang memiliki rasa takut.

"Kalau penyakit ada obatnya, tapi kalau takut enggak ada. Ya kalau takut, kita edukasi. Apa ketakutannya. Lalu dijelaskan. Misalnya takut anak sakit hepatitis, ibu pun ditanya, apa punya hepatitis? Kalau tidak punya, kenapa takut," ujarnya. (chs/chs)