Idola, Popularitas, dan Bayang-Bayang Depresi

Elise Dwi Ratnasari | CNN Indonesia
Kamis, 21 Des 2017 19:01 WIB
Popularitas ibarat pedang bermata dua. Siapa yang siap jadi idola, harus siap pula hidup dalam risiko bayang-bayang depresi. ilustrasi (ThinkStock/kitzcorner)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lagi-lagi dunia hiburan harus kehilangan insan berbakat. Belum lama penikmat musik melepas kepergian Chester Bennington, vokalis Linkin Park, kali ini fan harus merelakan salah satu personel boyband Shinee, Kim Jonghyun. Mereka sama-sama punya nama di panggung musik.

Mereka seakan memiliki segalanya termasuk popularitas, tapi pada akhirnya, depresi yang dialaminya membuat mereka memilih cara lain.

Bunuh diri memang bukan hanya 'masalah' idola atau artis, orang biasa juga punya kecenderungan mengalami hal ini. Namun, sebagai publik figur kehidupan mereka tentunya akan jadi sorotan dalam hal apapun, baik suka maupun duka, saat hidup ataupun sudah meninggal.


Peliknya, kehidupan selebriti dan idola yang dianggap sempurna di layar kaca ternyata diam-diam memiliki sisi lain. Popularitas ibarat pedang bermata dua, tenar dan kaya tapi juga berat akan tuntutan profesi.

Apakah artinya popularitas justru cenderung membuat orang depresi?

Menurut psikolog Mira Amir, popularitas bukan kata kunci dari hal ini.

Depresi terjadi saat orang berada dalam kondisi ekstrem di mana ruang geraknya tak seperti orang pada umumnya. Dalam kondisi demikian, orang dituntut untuk menyesuaikan diri, tapi meski sudah berupaya keras, apa yang diraih tak sesuai harapan.

"Jadi bukan kata popularitasnya, tapi kondisi populer itu kondisi di luar kehidupan rata-rata manusia," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (21/12).


"Popularitas kan bisa datang tiba-tiba, sehingga kemampuan penyesuai diri seseorang tidak selentur yang diharapkan. Penyesuaian diri itu yang tidak mudah."

Orang awam mungkin melihat bahwa popularitas itu serba menyenangkan, tapi Mira menggarisbawahi bahwa di balik itu semua terdapat banyak penyebab stres baru yang tak terbayangkan seperti waktu jadi terbatas dan energi yang terkuras. Bahkan, jadi populer bukan sepenuhnya keinginan si artis tapi lingkungannya.

"Saat dia sudah di atas, then what? Dia enggak tahu," tambahnya.

Selain itu, orang tersebut juga tidak siap untuk teralineasi atau terkucilkan dari lingkungan. Hal ini terjadi karena ritme rutinitas yang luar biasa membuat lingkungan pergaulan tak seperti dulu. Rutinitas jadi begitu berbeda dengan teman-teman sebaya.

"Dia enggak tahu lagi di mana serunya. Mungkin ada beberapa hal masih tahu, tapi secara emosi tidak mendapatkan. Ini cikal bakal kondisi depresif," jelasnya.

Kondisi ini semakin parah saat popularitas itu diiringi harta. Orang jadi tidak tahu mana yang benar-benar ingin berteman atau hanya ingin memanfaatkan hartanya. Mira berkata, kondisi ini bisa memperberat kerja otak untuk menyaring. Lelah yang dialami tak hanya secara fisik tapi juga secara psikis.


Menyiapkan idola sama dengan membangun menara depresi

Melihat kasus Jonghyun, mungkin publik menerka-nerka bagaimana training yang dijalani idola mereka sebelum debut sebagai artis. Sebelum resmi debut sebagai idola, mereka memang menjalani training yang cukup lama. Intinya mereka benar-benar disiapkan untuk 'menjajah' panggung musik.

Akan tetapi, Mira menganalogikan menyiapkan idola itu seperti membangun menara yang tinggi.

"Kita lupa pondasinya kuat enggak sih, bagaimana pengalaman masa lalunya, bagaimana kepribadiannya, apa rentan untuk menjadi depresif. Jadi artis tenar ibaratnya dia menara, tapi berdiri di atas tanah yang goyah sehingga kondisinya lemah," papar Mira.

Ia bercerita, sebenarnya mendiang Jonghyun memiliki riwayat kesehatan dan didiagnosis sebagai depresi. Hal ini tampak dalam surat wasiat yang akhirnya dibuka pada publik oleh sahabatnya, Nine9 vokalis Dear Cloud.

Popularitas tak serta merta menggugurkan depresi. Mira berkata, depresi bisa menyerang siapapun dan kapanpun. Ia bercerita kini ia sedang menangani beberapa pasien yang mengalami depresi. Mereka punya latar belakang dan usia yang beragam.

"Depresi itu enggak lihat waktu, tempat, enggak liat siapanya. Kasus depresi itu kayak selangkah lebih dekat dengan bunuh diri. They more likely to commit suicide. It just about anytime," tutupnya.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Into The Light ([email protected]) untuk penduduk Jabodetabek atau Inti Mata Jiwa untuk penduduk Yogyakarta dan sekitarnya ([email protected]).

(chs/chs)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER