Psikolog: Kematian Idola Bukan Faktor Tunggal Fan Bunuh Diri

Christina Andhika Setyanti , CNN Indonesia | Kamis, 21/12/2017 09:02 WIB
Psikolog: Kematian Idola Bukan Faktor Tunggal Fan Bunuh Diri Ilustrasi. (Thinkstock/Grinvalds)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kematian salah satu personel SHINee, Kim Jonghyun memang membuat banyak fan di seluruh dunia berduka. Kesedihan yang mendalam pun diungkapkan fan lewat berbagai cara.

Hanya saja yang disayangkan, ada fan yang dikabarkan melakukan percobaan bunuh diri setelah mengetahui idolanya meninggal dunia.

Kabar percobaan bunuh diri fan karena idolanya meninggal dunia bukan cuma baru dilakukan saat ini. Kasus fan yang mencoba bunuh diri ini juga santer dikabarkan saat David Bowie, Maryln Monroe, Chris Cornell, dan lainnya meninggal dunia.


Psikolog Roslina Verauli mengungkapkan bahwa fenomena ini dikenal dengan istilah copycat suicide.

"Di kalangan remaja, hal ini biasanya disebabkan karena remaja sedang dalam pencarian jati diri, mencari ke-aku-annya," kata psikolog yang disapa Vera ini saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (20/12).

"Remaja yang mencari jati diri ini menganggap bahwa idolanya adalah acuan untuk membentuk dirinya yang ideal. Idola itu adalah sosok orang yang dia inginkan untuk dirinya. Sangat berbeda dengan pola pikir dewasa."

Vera menambahkan bahwa bagi remaja, sosok idola seolah-olah menjadi bagian dari kehidupannya. Fanatisme berlebihan dianggap sebagai cara instan untuk bisa menemukan jati diri.


Hanya saja, terkait percobaan bunuh diri yang dilakukan fan karena idolanya meninggal, Vera mengungkapkan bahwa percobaan bunuh diri ini belum tentu terjadi hanya karena meniru idolanya.

"Apakah serta merta bisa langsung copycat suicide? Enggak selalu begitu," katanya.

"Ada banyak penyebab yang melatarbelakanginya. Banyak variabel yang harus ditelusuri lagi."

Vera mengungkapkan bahwa ada juga kemungkinan bahwa individu tersebut memang sudah punya masalah beratnya sendiri, sehingga kematian idolanya hanya menjadi sebuah pemicu yang memperkuat keinginannya untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Diungkapkannya, yang biasanya nekat melakukan hal tersebut kebanyakan remaja yang memiliki penghayatan negatif tentang dirinya.

"Bunuh diri itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan."

Di Indonesia sendiri, Vera mengungkapkan bahwa kasus seperti itu tidak terlalu banyak ditemukan.

Dia menambahkan bahwa hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang Indonesia merasa bahagia sehingga tak mudah pikir pendek untuk copycat suicide.

"Indonesia termasuk negara yang bahagia, bukan secara finansial lho, tapi secara kebahagiaan dan kesejahteraan emosionalnya," kata Vera.

"Saya pernah melakukan riset terkait hal itu, dan hasilnya budaya kolektif masih sangat kuat, punya grup (hubungan kekerabatan) dan juga support system yang kuat."

Tak dimungkiri, Vera membenarkan bahwa support system yang kuat bagi remaja adalah hal baik yang bisa membentuk pribadi baik pada seseorang.

Dalam indeks kebahagiaan yang dikeluarkan BPS tahun 2017, indeks kebahagiaan orang Indonesia mencapai angka 70,69 dari skala 100. Survei ini dilakukan dengan tolak ukur kepuasan hidup, dimensi perasaan, dan dimensi makna hidup.


---

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja psikolog terdekat atau organisasi seperti Into The Light (pendampingan.itl@gmail.com) untuk penduduk Jabodetabek atau Inti Mata Jiwa untuk penduduk Yogyakarta dan sekitarnya (intimatajiwa@gmail.com).


(chs/asa)