'Data' Cinta Aplikasi Online di Hari Valentine

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Rabu, 14/02/2018 18:30 WIB
'Data' Cinta Aplikasi Online di Hari Valentine ilustrasi aplikasi kencan (Gather)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi pasangan, tanggal 14 Februari atau Hari Valentine adalah hari yang dinantikan dalam setahun. Ini adalah salah satu momen spesial untuk untuk menghabiskan waktunya dengan pasangan masing-masing.

Dari mengajak pasangan makan malam di restoran mewah, memberi hadiah bunga dan coklat, atau jalan-jalan ke berbagai tempat wisata, Hari Kasih Sayang menjadi momentum dimana pasangan saling mengekspresikan kasih sayangnya kepada satu sama lain.

Sebaliknya, bagi para lajang, hari valentine dianggap jadi hari yang sedikit menyedihkan. 


Mengutip ABC, Edwina Luck dari Queensland University of Technology menyebut bahwa strategi pemasaran pada Hari Valentine telah berubah menjadi semakin intens hari ini. Toko-toko dipenuhi oleh bunga-bunga, boneka dan meja-meja di restoran romantis telah habis dipesan.

Hal ini yang menyebabkan orang-orang lajang merasakan tekanan yang semakin tinggi untuk mencari seseorang agar tidak kesepian di hari kasih sayang ini.

Hal ini pun menyebabkan penggunaan aplikasi kencan jelang valentine meningkat. Mengutip ABC, aplikasi kencan Tinder mencatat kenaikan penggunaan sebesar 20 persen pada 14 Februari tahun lalu dan mengantisipasi hal yang sama pada tahun ini.

Ahli studi gender Lauren Rosewarne dari Universitas Melbourne mengatakan bahwa bukanlah hal yang mengejutkan bahwa orang-orang lajang yang merasa kesepian menggunakan aplikasi kencan lebih sering menjelang Hari Valentine.

Orang-orang lajang tersebut awalnya terekspos gambar-gambar dan ide mengenai betapa pentingnya memiliki pasangan pada Hari Valentine. Akibatnya, mereka merasa bahwa terdapat sesuatu yang kurang dalam dirinya sendiri, dan mengambil jalan keluar lewat mencari teman kencan lewat aplikasi.

Namun, menurut Rosewarne, mencoba mencari partner di hari-hari menjelang Valentine hanya agar tidak kesepian pada hari kasih sayang tersebut bisa jadi bukanlah strategi yang bijak.

"Selain itu, terdapat juga elemen di mana orang-orang bisa mendeteksi keputusasaan dalam diri seseorang," ujar Rosewarne.

Rosewarne juga menyarankan siapapun yang merasa kesepian dan terganggu karena statusnya yang lajang di Hari Valentine untuk menunggu saja hingga 24 jam di hari tersebut berlalu.


Di sisi lain, sebuah aplikasi kencan bernama Huggle justru melakukan hal sebaliknya yang dilakukan aplikasi-aplikasi kencan lain: Huggle akan menonaktifkan mode kencannya selama 24 jam dalam rangka menyebarkan pesan untuk mencintai diri sendiri.

Lewat kebijakan ini, Huggle mendukung para penggunanya untuk memeluk status lajang mereka, karena tidak ada yang salah dengan menjadi seorang lajang pada Hari Valentine.

"Walau di saat yang bersamaan kami ingin para pengguna aplikasi untuk terus menggunakan Huggle seperti sebelumnya, kami lebih berfokus pada membantu mereka menemukan hubungan-hubungan yang bertahan lama dan bermakna, bukan pilihan-pilihan yang terburu-buru dan dilandasi kepanikan," ucap Co-Founder Huggle Valerie Stark dikutip dari Independent.

Jika pada umumnya Hari Valentine dikenal sebagai hari untuk para pasangan, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa nampaknya orang-orang yang memiliki pasangan merasa iri terhadap teman-temannya yang lajang.

Menurut sebuah survei yang dipublikasikan first4lawyers di 2016, 24 persen orang yang memiliki hubungan romantis percaya bahwa mereka akan lebih bahagia ketika lajang. Sedangkan 35 persen orang lajang menginginkan sebuah hubungan romantis. (ast/chs)