Upaya Membuat Turis Betah Berwisata di Samosir

Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Selasa, 20/02/2018 13:29 WIB
Upaya Membuat Turis Betah Berwisata di Samosir Pulau Samosir bersiap menyambut turis. Namun perihal keramahan masyarakat, gejolak Gunung Sinabung hingga kelestarian Danau Toba, masih jadi ganjalan. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pariwisata kini dianggap sebagai sektor unggulan yang memberikan kontribusi besar di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.

Sepanjang tahun lalu sebanyak 55.771 wisatawan mancanegara (wisman) telah berkunjung. Jumlah tersebut naik sebanyak 45 persen dari tahun 2016.

Bahkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Samosir melonjak 81 persen pada tahun 2017, dari Rp39 miliar menjadi Rp71 miliar. Industri pariwisata menyumbang sebanyak 55 persen dari total PAD tersebut.


Semakin banyak juga tempat penginapan yang beroperasi di Pulau Samosir. Saat ini ada 2.013 unit kamar hotel dan 66 unit homestay yang siap diinapi turis.

Namun ada beberapa persoalan yang mengganjal, seperti stigma perihal keramahan masyarakat setempat, gejolak Gunung Sinabung hingga kelestarian Danau Toba.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir, Ombang Siboro, mencoba memberikan jawabannya kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Ombang, stigma bahwa "turis adalah orang asing" berasal dari kekhawatiran beberapa warga yang belum siap dengan perubahan. Akibatnya, perilaku warga jadi lebih tertutup dan cenderung tak ramah terhadap wisatawan.

"Padahal, turis seharusnya disambut dengan baik karena bakal memberi keuntungan kepada bisnis pariwisata setempat," ujar Ombang, saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Selasa (20/2).

Kawasan hunian untuk wisatawan yang berada di tepi Danau Toba, Pulau Samosir, Sumatera Utara. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Sebaliknya, ada juga warga yang menaruh harapan yang terlalu tinggi terhadap sektor pariwisata. Mereka menggangap pariwisata sebagai malaikat baru.

Ombang meminta masyarakat sebaiknya jangan tergesa meletakkan harapan yang terlalu tinggi di sektor pariwisata, karena butuh proses panjang untuk mengembangkannya dengan bijak.

"Kemeterian Pariwisata (Kemenpar) juga kan terbatas, karena kewenangan mereka tidak seperti yang dibayangkan. Tapi di balik itu semua, aktor utamanya adalah masyarakat Samosir. Tugas kita bersama adalah mengembangkan wisata di Samosir dengan bijak," kata Ombang.

Ombang mengatakan, semakin banyak masyarakat Samosir yang merasa yakin bahwa industri pariwisata menjanjikan.

Tantangannya, tinggal mengubah pola pikir mereka, dari pola pikir petani menjadi pola pikir pelaku industri pariwisata.

"Edukasi dan sosialisasi terus dilakukan ke semua kalangan masyarakat Samosir. Kalau nantinya tak jadi pelaku wisata, mereka masih bisa menjadi petani dengan pola pikir bahwa hasil ladangnya bisa dinikmati wisatawan," kata Ombang.

"Pola pikir pariwisata yang kami tanamkan bakal menjadi pola pikir seluruh lapisan masyarakat di sini," pungkas Ombang.

Turis move on

Gejolak Gunung Agung sempat membuat lesu industri pariwisata di Bali. Hingga saat ini, Gunung Sinabung juga masih bergejolak, meski sampai hari ini belum membuat Bandara Internasional Kualanamu ditutup. Begitu juga dengan Bandara Internasional Silangit.

Ketika ditanya dampak gejolak Gunung Sinabung terhadap industri pariwisata di Kabupaten Samosir, Ombang mengaku tetap optimis.

Menurutnya, wisatawan itu "pelupa" karena bisa dengan cepat move on, kembali datang ke destinasi wisata yang telah pulih dari bencana.

"Buktinya tidak sampai sebulan Gunung Agung meletus, turis kembali berdatangan. Usai gejolak, yang datang malah semakin banyak," ujar Ombang.

Erupsi Gunung Sinabung yang sudah berlangsung sejak tahun 2010. (REUTERS/Albert Damanik)

Kelestarian alam juga menjadi fokus utama dalam industri pariwisata. Idealnya, bisnis tak boleh merusak alam. Tapi nyatanya, ada kabar bahwa Danau Toba, sebagai objek wisata utama di Pulau Samosir, sudah tercemar.

Namun Ombang tidak memilih kata tercemar untuk menggambarkan kondisi Danau Toba, meski ia menyepakati kualitas air di Danau Toba memang menurun. Ia sepakat, penyebabnya tidak lain adalah limbah industri dan domestik.

"Saran saya, baik pemerintah daerah dan pusat kompak berkomitmen untuk membuat tempat usaha yang berada di sekitar Danau Toba menjadi disiplin membuang limbahnya ke tempat yang sudah disediakan, agar modal pariwisata Pulau Samosir ini tetap terjaga kelestariannya," pungkas Ombang.

(ard)


BACA JUGA