Alasan India Merayakan Holi: Festival Warna, Festival Cinta

CNN Internasional, CNN Indonesia | Sabtu, 03/03/2018 13:42 WIB
Alasan India Merayakan Holi: Festival Warna, Festival Cinta Festival Holi diadakan di India untuk mengawali musim semi. (REUTERS/Cathal McNaughton)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perayaan Holi menjadi citra yang paling melekat dengan India di iklan-iklan, film, serta video musik. Masyarakat yang datang dari seluruh penjuru negeri bernyanyi, menari, dan menebarkan serbuk dan air berwarna pada kawan dan keluarga mereka.

Merek-merek terkenal seperti Sony dan Canon juga menggunakan festival ini untuk mengampanyekan produk mereka. Baru-baru ini British Airways juga ikut terlibat dengan awak pesawat merayakan festival itu di beberapa kota di India.

Bahkan Chris Martin dari grup musik Coldplay menggunakan tradisi Holi tersebut dalam video musik Hymn for the Weekend, meski dalam prosesnya ia membuat kesal beberapa pihak.


Namun sebelum Anda turut terlibat dalam keriaan ini, Anda sebaiknya menjawab beberapa pertanyaan ini: Apa itu Holi? Dan mengapa orang India merayakannya?

Di beberapa tempat di India, festival Holi bisa berlangsung hingga satu pekan.Di beberapa tempat di India, festival Holi bisa berlangsung hingga satu pekan. (REUTERS/Rupak De Chowdhuri)
Awal Musim Semi

Holi adalah festival di agama Hindu yang menandakan dimulainya musim semi.

Dirayakan di seluruh India, festival ini telah berlangsung ratusan tahun dengan jejak pertama ditemukan pada puisi yang diciptakan di abad keempat.

Bahkan festival ini dicantumkan dalam naskah drama Sanskerta di abad ke-7 berjudul "Ratnavali", yang ditulis oleh kaisar India, Harsha.

"Saksikan keindahan festival cinta yang memantik rasa ingin tahu ketika para penduduk kota berdansa tersentuh percikan air berwarna coklat. Segalanya berwarna kuning kemerah-merahan dan menjadi tertutup oleh serbuk wangi yang ditiupkan ke seluruh penjuru," demikian ujar Harsha.

Saat Ini

Meski pada mulanya adalah festival di agama Hindu, Holi dirayakan oleh seluruh penduduk India dan juga jadi perekat kebersamaan. Anak-anak bisa bermain air dengan orangtua, perempuan menebarkan serbuk warna pada pria, dan untuk sesaat sistem kasta dan sekat-sekat masyarakat jadi terlupakan.

Malamnya, penduduk India menghabiskan waktu bersama kawan dan keluarga.

Festival ini juga menjadi libur nasional yang biasanya bertepatan dengan hari terakhir purnama dalam kalender Hindu, yang sering kali jatuh pada Maret.

Pada tahun ini, libur nasional dirayakan pada Jumat, 2 Maret.

Festivalnya sendiri berlangsung sehari sebelumnya di Bengal Barat dan Odisha, sementara di daerah Uttar Pradesh bisa berjalan selama sepekan.

Ketika festival Holi berlangsung, penduduk India saling melemparkan serbuk dan air berwarna pada orang-orang terkasih.Ketika festival Holi berlangsung, penduduk India saling melemparkan serbuk dan air berwarna pada orang-orang terkasih. (Ahmad Masood)
Akar Mitos

Akar dari festival ini terletak pada legenda di agama Hindu yaitu Holika, setan perempuan yang juga saudari dari raja Hiranyakashayap.

Hiranyakashayap meyakini bahwa dia adalah penguasa dunia dan juga lebih tinggi dari dewa-dewa lain. Namun putranya, Prahlad, lebih memilih untuk mengikuti dewa Wishnu, pelindung alam semesta. Keputusan Prahlad mengkhianati ayahnya membuat Hiranyakashayap bersama Holika merencanakan pembunuhan Prahlad.

Rencana itu semula tampak tanpa celah; Holika akan membawa Prahlad dalam pangkuannya dan kemudian membawanya ke perapian. Holika sendiri tidak akan terluka karena ia membawa kain yang akan melindunginya dari jilat api.

Namun rencana itu gagal. Prahlad diselamatkan Wishnu dan Holika tewas karena kekebalannya pada api hanya berlaku jika dia sendirian.

Wishnu kemudian membunuh Hiranyakashayap dan Prahlad pun mengambil alih tampuk mahkota.

Pesan dari kisah ini adalah kebaikan selalu mengalahkan kejahatan.

Tradisi melemparkan serbuk berwarna diyakini bermula dari kisah cinta antara dewa Khrisna dan Radha.  Tradisi melemparkan serbuk berwarna diyakini bermula dari kisah cinta antara dewa Khrisna dan Radha.  (REUTERS/Adnan Abidi)
Kisah Cinta di Balik Holi

Di era modern, kremasi Holika direka ulang dengan menyalakan api unggul satu malam sebelum Holi digelar. Hari itu dikenal dengan nama Holika Dahan. Beberapa penganut agama Hindu kemudian mengumpulkan abu dan memaparkannya pada tubuh sebagai tanda penyucian.

Kemudian esok harinya berlangsung Rangwali Holi ketika sepanjang hari orang-orang melemparkan serbuk warna pada satu sama lain.

Tradisi melemparkan serbuk dan air berwarna ini diyakini bermula dari kisah cinta antara Krishna dan Radha.

Krishna, dewa pada agama Hindu yang digambarkan memiliki kulit berwarna biru gelap, diyakini pernah mengeluhkan kulit Radha yang berwarna terang pada ibunya.

Untuk meredakan kesedihan anaknya, ibu Krishna menyarankan ia mewarani kulit Radha dengan cat. Inilah awal mulanya kebiasaan memaparkan kulit orang-orang tercinta dengan serbuk warna di perayaan Holi.

(vws/vws)