Menakar Komitmen Orang Indonesia terhadap Pernikahan

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 10/03/2018 12:02 WIB
Menakar Komitmen Orang Indonesia terhadap Pernikahan komitmen orang Indonesia terhadap pernikahan kerap dipertanyakan lantaran kasus perselingkuhan semakin banyak jadi konsumsi publik. (Ilustrasi/Foto: KatarzynaBialasiewicz/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belakangan, komitmen orang Indonesia terhadap pernikahan kerap dipertanyakan lantaran kasus perselingkuhan semakin banyak jadi konsumsi publik. Mulai dari Jennifer Dunn hingga Bu Dendy merupakan satu-dua kasus perselingkuhan yang viral dan jadi perbincangan.

Perselingkuhan itu umumnya melibatkan pasangan suami istri yang sudah terikat dalam pernikahan. Mereka memilih mencari perempuan atau laki-laki lain dan menghianati pernikahan.

Kasus perselingkuhan ini sebenarnya bukan barang baru dan tak hanya terjadi di Indonesia. Di belahan dunia lain, seperti Eropa dan Amerika perselingkuhan juga kerap jadi momok bagi hubungan. Hanya saja, Indonesia yang memegang budaya ketimuran dan dipengaruhi ajaran agama masih menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang sakral.



Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rochadi menilai pada umumnya masyarakat Indonesia masih memegang teguh komitmen pernikahan yang sakral dengan pasangannya. Akan tetapi, beberapa orang cenderung melanggar komitmen itu.

"Namun, memang terdapat beberapa individu yang mempunyai kecenderungan berperilaku menyimpang dari komitmen pernikahan. Hal ini bisa disebabkan karena ketidakpuasan atau konflik tertentu yang terjadi di rumah tangga," kata Sigit kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Angka perceraian di Indonesia dari tahun 2014 hingga 2016 menunjukkan terjadi peningkatan. Data dari BPS mencatat terjadi sebanyak 365 ribu perceraian pada 2016. Angka itu meningkat dari 347 ribu percerai pada 2016 dan 344 ribu perceraian pada 2015. Alasan terbesar dari perceraian itu adalah perselingkuhan atau hadirnya orang ketiga.

Menurut Sigit, perselingkuhan semakin marak terjadi karena adanya kemudahan dalam berinteraksi yang ditawarkan oleh teknologi.


"Sudah tersedia hotel, apartemen, mobil, telepon. Bisa kontak secara pribadi, juga difasilitasi oleh agen-agen penyedia jasa seks misalnya," tutur Sigit.

Pendapat yang sama juga diutarakan pengamat sosial budaya Universitas Indonesia Devie Rahmawati. Devie menganggap teknologi merupakan kontributor terbesar terhadap perselingkungan.

"Yang menyebabkannya adalah teknologi. Teknologi membuat hubungan romantisme lebih rentan di era modern ini. Itu membuat banyak pasangan merasa sendiri dalam kebersamaan dan mencari orang lain yang justru juga banyak ditemui dari teknologi," kata Devie.

Di sisi lain, sebagian orang yang tak ingin terjerumus dalam perselingkuhan, memilih untuk menghalalkan hubungan dengan berpoligami. Menurut Sigi, mayoritas penduduk Indonesia yang menganut ajaran Islam menganggap poligami sebagai sesuatu yang wajar dan diperbolehkan.

"Perselingkuhan itu kan dianggap berzina. Jadi daripada berzina membuat resah, mereka lebih baik melakukan pernikahan poligami," ucap Sigit. (ast/rah)