Pakar: Mikroplastik di Air Kemasan Tak Bahayakan Kesehatan

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 15/03/2018 20:44 WIB
Pakar: Mikroplastik di Air Kemasan Tak Bahayakan Kesehatan ilustrasi (REUTERS/Lucy Nicholson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah penelitian dari State University of New York of Fredonia mengungkap bahwa air minum kemasan di dunia termasuk Indonesia terkontaminasi partikel plastik super kecil atau mikroplastik.

Studi terbaru itu menguji 250 botol air minum kemasan dari beragam merek di antaranya dari Brasil, China, India, Indonesia, Thailand, dan Amerika serikat. Hasilnya, partikel mikroplastik ditemukan pada 93 persen sampel air minum terkenal seperti Aqua, Aquafina, Evian, dan Nestle Pure Life. Merek-merek itu beredar di Indonesia.

Hasil penelitian itu belum bisa menjelaskan risiko kesehatan dengan jelas. Hanya saja mereka sempat mengungkapkan bahwa ada kemungkinan mikroplastik bisa menyebabkan berbagai penyakit.



"Ada hubungan dengan peningkatan jenis kanker tertentu, menurunkan jumlah sperma, ADHD, dan autisme," kata Sherri Mason, kepala penelitian dari State University of New York of Fredonia dikutip dari AFP.

Hanya saja, temuan tersebut disanggah oleh Akademisi dan Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor A. Zainal Abidin. Dia mengungkapkan bahwa kandungan mikroplastik dalam air minum kemasan tak berbahaya bagi tubuh.

Zainal menjelaskan mikroplastik merupakan plastik yang berukuran kecil antara 1-5 ribu mikron. Mikroplastik yang terdapat dalam air minum kemasan dalam penelitian itu berjenis polipropilena, nilon dan polyethylene terephthalate (PET). Senyawa itu merupakan monomer pembentuk botol dan tutup minum kemasan.


Menurut Zainal, mikroplastik itu tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh karena berasal dari plastik yang dibuat khusus untuk makanan atau berlabel food grade. Zainal menyebut plastik berlabel food grade itu tidak bereaksi negatif pada tubuh.

"Kalau terkonsumsi plastik (food grade) itu bersifat inert atau tidak bereaksi pada tubuh jadi ya tidak masalah. Kalau dikonsumsi nanti akan dibuang saja oleh tubuh, jadinya akan keluar plastik lagi," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Sebagai kepala laboratorium, Zainal banyak meneliti atom polimer yang digunakan untuk membuat plastik.

Zainal juga mengkritik penelitian itu lantaran selama 20 tahun terakhir banyak penelitian serupa tapi tidak menemukan hal yang sama.

"Penelitiannya masih kontroversial ya, keberadaan mikroplastiknya masih diperdebatkan. Kalau bahaya untuk kesehatan sampai sekarang belum ada dari negara manapun," tutur Zainal.

Kandungan mikroplastik, kata Zainal, akan berbahaya bagi tubuh jika plastik yang bukan digunakan untuk makanan (bukan food grade). Dia mencontohkan plastik untuk peralatan rumah tangga dan elektronik.

Zainal menjelaskan plastik yang bukan untuk makanan biasanya mengandung bioksin, formalin, pencegah kebakaran, dan bahan kimia berbahaya lainnya. Bahan ini jika larut dalam air atau dibakar maupun dikonsumsi dalam makanan atau minuman bakal memberikan efek yang berbahaya bagi tubuh.

"Kalau plastik yang mengandung monomer berbahaya itu dikonsumsi maka bisa jadi sumber penyakit bagi tubuh bisa menyebabkan kanker dan lain-lain. Tapi kalau yang food grade seperti kresek(food grade) dan pembungkus makanan sudah dinyatakan aman kontak dengan makanan dan dikonsumsi," ucap Zainal. (chs/chs)