Hari Tidur Sedunia

Ketika Dunia 'Lupa' Caranya Tertidur

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Jumat, 16/03/2018 19:18 WIB
Ketika Dunia 'Lupa' Caranya Tertidur ilustrasi (Pixabay/MrsBrown)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seperti layaknya dua sisi mata uang, dunia tidur juga dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu orang yang bisa dengan mudahnya tidur alias pelor (nempel langsung molor) dan orang yang sangat sulit tertidur.

Dalam perkembangannya, masalah kesehatan ikut membayangi kebiasaan tidur dan sulit tidur. Randy Gardner adalah salah satu contohnya. Sampai saat ini pria kelahiran 7 Agustus 1949 adalah pemegang rekor sebagai orang yang tak tidur terlama di dunia tanpa menggunakan stimulan apapun.

Gardner memegang rekor sebagai orang yang tak tidur selama 11 hari 25 menit.



Kasus Gardner mungkin terlalu ekstrem, namun banyak orang yang ternyata mengalami masalah kurang tidur atau sulit tidur. Survei yang dilakukan CNNIndonesia.com, mengungkapkan bahwa masalah keuangan adalah salah satu penyebab orang Indonesia sulit tidur (35 persen).

Sedangkan masalah 'kurang piknik' berada di posisi kedua sebagai penyebab orang sulit tidur (27 persen). Hal ini diikuti dengan masalah pekerjaan (21 persen), dan masalah percintaan (17 persen).

Ketika dunia mulai lupa caranya tertidur, maka berbagai cara pun dilakukan untuk mengobatinya.

Anda tentu masih ingat trik lama untuk membuat orang yang sulit tidur jadi terlelap, dari membaca buku cerita, minum susu hangat, sampai mendengarkan dongeng (bedtime stories). Jika cara ini tak berhasil membuat Anda tertidur, maka cara lain yang dilakukan adalah dengan menghitung domba.

Sebagai jalan pintas, obat tidur pun jadi pilihan untuk memudahkan mereka tertidur. Hanya saja obat tidur ternyata bisa menimbulkan ketergantungan jika tak digunakan dengan tepat.

Ketika berbagai cara untuk tertidur sudah tak lagi ampuh, maka setiap orang mulai mencari caranya masing-masing untuk tidur. Setiap orang di dunia pun punya caranya sendiri.

Sekitar 36 persen orang memilih mendengarkan musik yang menenangkan. Selain itu, sekitar 32 persen juga berusaha mengatasi dengan mengatur jam tidur mereka.

Namun cara yang dilakukan tiap-tiap negara berbeda. Misalnya di India mereka lebih memilih untuk meditasi agar memudahkan waktu tidur mereka. Meditasi memang diklaim akan membantu menenangkan pikiran dan meredakan stres sehingga tubuh akan merasa lebih tenang dan mudah tertidur.

"Meditasi adalah salah satu rangkaian teknik yang membangkitkan respons relaksasi," kata Direktur emeritus Harvard yang berafiliasi dengan Benson-Henry Institute for Mind Body Medicine dikutip dari laman Harvard Health Publishing. 

Berbeda dengan orang India, warga Polandia dan Tiongkok mencoba mengatasi masalah tidur mereka dengan meningkatkan kualitas udara mereka.

Mereka beranggapan bahwa sulit tidur bukan cuma dipengaruhi oleh masalah internal (pikiran, sakit, dan lainnya), tapi juga masalah dari luar, termasuk udara.

Sekitar 6-10 orang di dunia juga memilki masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap tidur mereka. Misalnya insomnia, berdasarkan survei ini 26 persen orang dewasa memiliki masalah insomnia. Selain itu mendengkur juga merupakan masalah kesehatan yang dapat mengganggu kualitas tidur.

Ketika kualitas dan kuantitas tidur sudah terganggu beragam aktivitas pun akan terganggu. Jika sudah demikian, banyak orang yang akhirnya 'balas dendam' soal tidur di hari libur.

"Tidur itu bukan seperti bank, Anda tidak bisa mengakumulasikan utang tidur kemudian membayarnya di waktu lain," kata Matthew Walker, Ahli saraf Inggris dan direktur Center for Human Sleep Science di University of California, Berkeley dikutip dari Esquire.

"Saya rasa tidur masih menjadi kepingan puzzle yang hilang dari kesehatan manusia. Ini bukan sesuatu yang disadari manusia sebagai sebuah hal penting untuk menghadapi penyakit."


(chs/chs)