Pesawat Amfibi, Solusi Kemenhub demi Pariwisata di Pelosok

ANTARA, CNN Indonesia | Selasa, 27/03/2018 13:37 WIB
Pesawat Amfibi, Solusi Kemenhub demi Pariwisata di Pelosok Ilustrasi. Pesawat amfibi BE-200 milik Rusia. (CNNIndonesia/Donatus Fernanda Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peraturan tentang pengoperasian seaplane (pesawat amfibi) tengah disiapkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan demi mendukung sektor pariwisata, terutama yang berada di pelosok.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Agus Santoso mengatakan pihaknya saat ini sedang menggodok aturan terkait pengoperasian pesawat amfibi di Indonesia. Salah satu aturan yang dibahas mengenai aerodrome (pelabuhan udara) serta jenis pesawat amfibi yang bisa dioperasikan.

"Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai pantai dan sungai. Namun hambatannya menuju ke sana banyak, misalnya ombak tinggi atau pendangkalan sungai, sehingga kapal sulit berlayar. Untuk itu kita siapkan transportasi udara dengan pesawat amfibi, yang lebih cepat dan sedikit hambatannya," ujar Agus.


Agus melanjutkan, biaya membangun pelabuhan udara di perairan lebih murah dibandingkan dengan di darat.

Pencarian lokasinya juga relatif lebih mudah dibanding di daratan, yang membutuhkan lahan datar serba luas.

"Kita sedang siapkan regulasinya dengan mengacu pada Annex Organisasi Penerbangan Sipil Internasional terutama annex 14 tentang aerodromes serta UU no. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan dan Peraturan Menteri Perhubungan no. PM 74 tahun 2013 tentang CASR 139 Aerodromes," kata Agus.

Kemenhub juga akan mengatur jenis pesawat amfibi yang bisa digunakan agar keselamatan penumpang lebih terjamin.

"Ada keinginan dari PT Dirgantara Indonesia selaku pabrik pembuat pesawat di Indonesia untuk melengkapi pesawat yang saat ini sedang dikembangkan, yaitu N219, dengan perlengkapan-perlengkapan amfibi," ujar Agus.

Agus mengharapkan aturan pesawat amfibi bisa segera terwujud sehingga angkutan udara ini bisa menjadi transportasi yang bisa dinikmati semua kalangan di Indonesia, khususnya masyarakat pedalaman. Ia menegaskan, harga tiketnya juga akan lebih murah dari pesawat biasa.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara selalu berupaya untuk memberikan pelayanan kepada kepentingan konektivitas transportasi tidak hanya udara tetapi juga antarmoda agar instruksi Presiden Jokowi untuk memperkuat konektivitas makin cepat terealisasi," kata Agus.

Awal tahun ini, Kementerian Pariwisata memang sedang menyiapkan pariwisata nomaden (nomadic tourism) di empat destinasi prioritas sebagai percontohan yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika dan Borobudur.

Salah satu sifat pariwisata jenis ini adalah sarana amenitas atau akomodasinya bisa dipindah-pindah.

Aksesibilitasnya yang sangat penting adalah pesawat amfibi yang bisa membawa wisatawan dari pulau ke pulau di Indonesia dengan lebih mudah dan cepat.

(ard)