FOTO: Konservasi, Upaya Mengakhiri Konflik Gajah vs Manusia

Antara Foto, CNN Indonesia | Sabtu, 31/03/2018 22:08 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Konflik dengan manusia mengancam jumlah populasi gajah Sumatera di habitat aslinya. Pusat Konservasi Gajah (PKG) di Minas, Riau mencoba menngatasi hal itu.

Konflik gajah vs manusia di Riau hingga kini cukup tinggi karena bagi sebagian warga di sana, gajah dianggap sebagai hama. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Data Forum Konservasi Gajah Indoensia mencatat populasi gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) menurun drastis hingga 70 persen dalam 20-30 tahun terakhir. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Hingga 2013, jumlahnya diperkirakan hanya tersisa 1.970 ekor. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Beberapa penyebab menurunnya jumlah gajah antara lain konflik dengan manusia, perburuan gading, hingga menyusutnya jumlah hutan sebagai habitat asli. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Pusat Konservasi Gajah (PKG) di daerah Minas, Kabupaten Siak, Riau, menjadi suaka kecil untuk kelangsungan hidup gajah. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Sejak dibentuk pada 1988, suaka gajah yang dahulu bernama Pusat Latihan Gajah (PLG) Riau mengalami pasang surut. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Di awal berdiri, PKG berlokasi di Sebangsa, Kabupaten Bengkalis kemudian pindah hingga tiga kali lantaran tingginya konflik dengan masyarakat setempat. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro/18.)
Sejak 2001, PKG Riau menempati kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim II, Siak. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Di tempat ini, ada 16 ekor gajah Sumatera. Dari jumlah itu, 11 di antaranya merupakan gajah jantan yang sebagian di antaranya --awalnya adalah gajah liar. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Setiap tiga bulan, 30 pawang (mahout) dan tenaga medis akan rutin merawat serta memberikan obat bagi gajah. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Kelompok gajah yang telah jinak ini kerap diandalkan untuk meredakan konflik antara manusia dan gajah liar. (dok. ANTARA FOTO/FB Anggoro)