Studi:Cuma 1 dari 20 Penderita Hepatitis B yang Diobati Layak

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 03/04/2018 10:35 WIB
Studi:Cuma 1 dari 20 Penderita Hepatitis B yang Diobati Layak ilustrasi vaksin (Thinkstock/itsmejust)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya ada 300 juta orang di dunia yang tercatat menderita hepatitis B (HBV) mematikan.

Hanya saja, menurut studi yang dipublikasikan jurnal Lancet Gastroenterology and Hepatology, Selasa (27/3), hanya 1 dari 20 orang terjangkit HBV yang menerima penanganan medis yang layak.

Kondisi ini juga jauh berbanding dengan angka penanganan medis yang layak bagi ibu hamil. Hanya 1 dari 100 ibu hamil pembawa (carier) virus HBV yang mendapat pengobatan. Padahal ibu hamil yang membawa HBV dapat menularkan virus tersebut ke bayinya.


Menurut pemimpin studi tersebut dan virologis Center for Disease Analysis Homie Razavi, seharusnya semua anak yang lahir menerima vaksin HBV ketika baru lahir.


Berdasarkan rekomendasi dari World Health Organization, vaksin HBV harus diberikan dalam jangka waktu 24 jam setelah bayi baru dilahirkan. Sayangnya, hanya 1 dari 2 bayi baru lahir di seluruh dunia yang menerima vaksin ini dalam jangka waktu yang tepat.

"Mayoritas penularan ibu ke anak terjadi pada hari-hari menjelang kelahiran, sehingga dosis (vaksin) pascamelahirkan merupakan hal yang penting," ucap Razavi, seperti dikutip AFP.

Dalam studi tersebut, Razavi dan tim penelitinya menganalisis data dari 435 studi dan lebih dari 600 penelitian para ahli di bidang nasional. Mereka menemukan bahwa sekitar 292 juta individu di dunia terjangkit HBV pada 2016. Angka ini setara dengan hampir 4 persen dari seluruh populasi di dunia.

Virus HBV ini ditemukan paling banyak di Asia Timur dan Afrika Subsahara. Di dua wilayah ini, tingkat prevalensi HBV mencapai 12 persen. Sedangkan, 60 persen dari individu yang terinfeksi HBV berada di Cina, India, Nigeria, Indonesia dan Filipina.


Dari 16 negara-negara dengan jumlah anak berusia lima tahun terinfeksi HBV paling banyak, hanya China yang memiliki persentase pemberian vaksin HBV pascakelahiran, yakni 90 persen. Setengah dari negara-negara ini tidak memiliki peraturan vaksin HBV pascakelahiran.

Profesor UCL Medical School Geoffrey Dusheiko menyebut, studi ini menunjukkan bagaimana penanganan atas infeksi virus HBV masih belum dilakukan dengan baik.

"Perlu adanya peningkatan kesadaran akan virus Hepatitis B," ujar Dusheiko.

HBV merupakan virus mematikan yang mudah menular lewat darah dan cairan tubuh lainnya. Seringkali, HBV menular dari ibu yang membawa virus tersebut ke anaknya yang baru dilahirkan.

Jika tidak diberikan penanganan, HBV bisa menimbulkan penyakit pada hati, seperti kanker. Tiap tahunnya, sekitar 600 ribu individu meninggal karena penyakit hati yang disebabkan HBV. Tidak ada obat untuk menyembuhkan HBV, namun HBV bisa dicegah lewat vaksin. (ast/chs)