7 Tips Saat Harus Berdebat dengan Pasangan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Jumat, 06/04/2018 23:29 WIB
7 Tips Saat Harus Berdebat dengan Pasangan Beda pendapat berujung perdebatan kerap dialami pasangan. Bagaimana menghadapinya? (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/Deagreez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beda pendapat kerap dialami pasangan dalam menjalin hubungan. Tak jarang perbedaan pendapat berujung pada perdebatan. Namun, perdebatan tak selalu berefek negatif untuk sebuah hubungan.

Sebuah studi pada 2010 dari Universitas Michigan, AS menemukan bahwa berdebat baik untuk kesehatan. Menghindari konflik hanya akan menumpuk stres di kemudian hari daripada beradu argumen saat itu juga.

Tak salah berdebat dan berusaha mempertahankan pendapat dengan segala argumen yang menguatkannya. Hanya saja, ada tujuh poin yang perlu diperhatikan.



1. Adu argumen bertujuan membentuk pemahaman

Coba ingat kembali momen perdebatan dengan pasangan, bisa jadi ada rasa 'haus' akan kemenangan saat berdebat. Padahal, beradu argumen dalam hubungan bertujuan agar pasangan saling mengerti apa yang dipikirkan pasangannya. Adu argumen diharapkan berujung pada solusi, bukan agar pasangannya kalah debat.

"Orang yang berargumen dengan sukses fokus pada bagaimana menyelesaikan persoalan dan menangkis isu, bukan mengalahkan orang lain. Argumen seharusnya tidak pernah berupa pembunuhan karakter, atau membuat orang mempertanyakan integritasnya," kata Marissa Nelson, terapis pernikahan di Wahington DC, Amerika Serikat dikutip dari Huffington Post (4/4).

2. Mau bertanya

Kala berdebat, masing-masing punya kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Bertanya jadi kunci pemahaman akan pandangan 'lawan' debat.

Jay Sullivan, penulis 'Simply Said: Communicating Better at Work and Beyond', menyarankan untuk menurunkan nada bicara. Sebaiknya, kata Jay, jangan perlakukan pasangan sebagai musuh tapi sebagai orang yang ingin mencapai tujuan dalam diskusi.

"Jika anda mengerti tujuan mereka dan bisa mencapai tujuan tersebut, adu argumen bisa jadi diskusi bersolusi," tambahnya.


3. Gunakan kata-kata yang bisa dimengerti dan tidak ambigu

"Debat bisa sukses jika orang mengatakan kebenaran dan mengatakannya secara langsung," kata Susan Pease Gadoua, terapis pasangan dan penulis.

Ia memberikan contoh seorang suami yang masih sulit mempercayai istrinya setelah begitu banyak kebohongan yang dilakukannya. Apalagi, sang istri kerap melakukan perjalanan. Jika si suami mau benar-benar jujur, ia akan berkata 'Saya benci kenyataan bahwa saya masih sulit mempercayai kamu, tapi saya perlu kepastian atau komunikasi saat kamu bepergian'.

4. Hindari kata 'tapi' dan 'bagaimanapun'

Jay bercerita bahwa penggunaan kata 'tapi' dan 'bagaimanapun' menunjukkan bahwa orang tak peduli dengan posisi lawan bicaranya. Awalnya orang memuji tetapi, kata 'tapi' membuat obrolan buyar begitu saja.

"Agar lebih sukses, ganti kata 'tapi' atau 'bagaimanapun' dengan 'dan'. Mengapa? 'Dan' terdengar lebih positif. Ia menciptakan kesempatan baru. Ia tidak menghilangkan apa yang dilakatakan sebelumnya," katanya.


5. Kontrol nada bicara dan bahasa tubuh

Menurut Marissa, orang yang sukses berdebat memperhatikan nada bicaranya. Orang mengerti bahwa ini bukan cuma soal apa yang dikatakan tapi juga bagaimana mengatakannya. 

"Orang juga mengontrol bahasa tubuhnya. Mereka dalam kondisi emosional tinggi dan tiap orang perlu ruang privat dan dihargai," tambahnya.

6. Mendengarkan bukan memengaruhi

Salah satu kunci memenangkan konflik adalah bertanya dengan kata 'mengapa', 'apa' dan 'bagaimana'. Kata tanya ini memaksa orang untuk bicara dan menuntut lawan bicara untuk mendengarkan sehingga lawan bicara punya kesempatan untuk memahami pandangan orang.

"Mengerti orang lain adalah kunci untuk membalikkan perdebatan menjadi diskusi. Dalam diskusi, tujuannya adalah menyelesaikan konflik. Dalam berdebat, tujuannya menang, dan terlalu sering, yang hasilnya dua-duanya kalah," jelas Jay.

7. Mau minta maaf

Marissa mengatakan dalam perdebatan biasanya muncul hal-hal di luar pembicaraan. Orang semakin lama tak peduli pada perasaan orang lain. Mereka pun jadi enggan untuk minta maaf.

"Orang yang memenangkan argumen adalah orang yang tahu bahwa 'Maaf jika kamu merasa demikian' bisa dimaknai sebagai sikap acuh. Mereka menahan diri jika mereka mengatakan hal-hal yang negatif atau bertindak bodoh," katanya. (rah/rah)