5 Rekomendasi Soto Enak di Kampung Tempoe Doeloe

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 10/04/2018 09:15 WIB
5 Rekomendasi Soto Enak di Kampung Tempoe Doeloe ilustrasi soto (Thinkstock/Didoi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Soto adalah salah satu makanan yang sangat populer di Indonesia.

Tak cuma rasanya yang gurih dan enak, namun variannya pun beragam. Dari soto daerah Sumatera sampai Madura, semua punya sotonya masing-masing.

Namun Anda tak perlu jauh-jauh ke daerah asalnya hanya untuk semangkuk soto dan kuah hangatnya yang gurih. Anda bisa mencicipi soto Nusantara ini di festival kuliner Kampung Tempo Doeloe (KTD) di Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF), La Piazza, Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara.


Festival ini menghadirkan soto-soto ini yakni Coto Makassar H. Hasan Dg. Tayang, Pallubasa Onta Makassar, Soto Betawi H. Mamat, Soto Kadipiro Yogyakarta, Soto Kesawan Medan, Soto Madura H. Ngatidjo, Soto Padang H. Sutan Mangkuto, Soto Jakarta Pak H. Yus, Soto Trisakti Solo dan Tauto Pekalongan. Hingga 6 Mei mendatang, penikmat kuliner punya kesempatan untuk menyicip aneka soto.

Berikut rekomendasi lima soto yang patut dijajal.


1. Pallubasa Onta Makassar

Meski menyandang nama 'Onta', masakan satu ini tidak menggunakan daging unta sama sekali. Ditemui di booth miliknya, Ruslan menjelaskan bahwa nama ini diambil dari lokasi warung pallubasa yakni di Jalan Onta.

Menurut Ruslan, pallubasa termasuk dalam keluarga soto. 'Pallu' dalam bahasa Makassar berarti masak, sedangkan 'basa' berarti basah. Jika diartikan secara keseluruhan, pallubasa artinya masakan berkuah.

Sejak 1997, sang mertua, Hj. Taufik Denappa dan Hj. Merlindawati menjalankan warung pallubasa ini. Kekhasan rasa pallubasa ini terletak pada kelapa parut yang disangrai dan telur ayam kampung.

"Kami menyebut telur ayam kampung itu alas telur. Itu yang membuat pallubasa enak. Ada campuran rempah juga," ujar Ruslan pada CNNIndonesia.com di KTD, Jumat (6/4).

Kala semangkuk pallubasa sudah siap, telur ayam kampung mentah langsung dimasukkan. Telur yang awalnya mentah ini perlahan matang berkat kuah panas. Ruslan berkata, pallubasa miliknya menggunakan daging sapi bagian pipi, pipi, jantung, bundal (rahim) dan lato (tulang muda).

Rasa gurih kelapa sangrai plus kuah berempah bersatu di mulut. Telur ayam kampung pun tidak terasa amis dan menambah rasa pallubasa.

"Kami punya beberapa cabang, di Sulawesi Barat ada satu, kalau Sulawesi Selatan ada tiga. Di Jakarta tidak ada. Ini kami langsung datang dari Makassar," ucapnya.

2. Soto Kesawan Medan

Lagi-lagi nama jalan diambil untuk nama warung. Sembari tersenyum, Dewi, sang pemilik warung menjelaskan bahwa 'Kesawan' adalah nama jalan di Medan, Sumatera Utara.

"Namanya Kesawan karena dulu nama Jalan Ahmad Yani itu jalan Kesawan," kata Dewi.

Jalan Ahmad Yani merupakan kawasan 'kota tuanya' Medan. Di sana terdapat bangunan-bangunan yang ada sejak masa kolonial Belanda. Dilansir dari lama resmi Pemkot Medan, pada 1880 kawasan Kesawan dihuni oleh masyarakat Melayu. Namun lama-kelamaan mereka tergeser oleh masyarakat Tionghoa yang memiliki usaha dan menetap di sana.

Dewi bercerita bahwa di ruas jalan ini pula terdapat rumah milik Tjong A Fie, seorang pedagang Hakka yang punya banyak perkebunan di Medan. Rumah yang dibangun pada 1895 ini memiliki arsitektur gaya China peranakan.

Menurutnya tak ada ruginya mengunjungi kawasan ini, selain menikmati soto kesawan, wisatawan juga bisa menikmati keindahan arsitektur masa lampau. Dewi merupakan generasi ketiga penerus warung soto kesawan milik sang kakek. Sejak pertengahan 1950-an, warung ini eksis menjajakan soto khas Medan.

Dengan kuah santan, soto kesawan punya beberapa pilihan topping seperti daging ayam, daging sapi atau udang. Tak lupa terdapat perkedel kentang yang digoreng agak garing. Rasanya begitu gurih plus sedikit asam segar.


3. Tauto Pekalongan

Jika ingin menyicip soto dengan rasa yang beda, Tauto Pekalongan bisa jadi pilihan. Ditemui di boothnya, Darwati menuturkan 'tauto' berasal dari kata 'tauco' dan 'soto'. Bisa dibayangkan soto khas Pekalongan ini menggunakan tauco sebagai campuran soto.

"Kami menggunakan tauco di kuah dan bumbu juga, jadi rasanya mantap," katanya.

Tauto memiliki kuah agak keruh dan berwarna kemerahan. Selain rempah, kuah menggunakan kaldu sapi. Saat dicicip, benar saja rasa tauco begitu nendang di lidah.

Selain tauto, pengunjung juga dapat menyicip hidangan khas Pekalongan lain yakni Sego Megono dan aneka gorengan.

Soto Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
Soto

4. Soto Padang H. Sutan Mangkuto

Beralih ke pulau Sumatera, soto satu ini pasti tak asing lagi yakni, soto Padang. Di KTD, pengunjung dapat mampir ke booth Soto Padang H. Sutan Mangkuto. Warung berdiri sejak 1966. Berpusat di kawasan Pasar Baru, ia juga memiliki cabang di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Selain kerupuk berwarna pink, soto Padang terasa berbeda berkat topping daging sapi yang renyah. Ini terasa istinewa sebab untuk soto lain biasanya daging bertekstur lembut dan empuk.

5. Soto Trisakti Solo

Sekilas namanya cukup familiar karena mirip dengan nama universitas. Namun menurut Romli, nama 'Trisakti' punya kisah yang panjang. Warung soto ini rupanya milik kakek buyut Romli. Kala itu warung tenda milik sang kakek buyut tidak memiliki nama.

Awalnya, warung tenda yang berada di Jalan Kali Larangan ini menempati sebuah lahan kosong. Dekat warung tenda terdapat gedung pertunjukan ketoprak 'Srikaton'.

"Perkembangan zaman, kemudian ganti bioskop Trisakti. Katanya yang punya tiga orang. Kami pun nebeng di tembok luar dari 1976 sampai 1990. Ketika kemudian zaman bioskop habis masa keemansannya, Trisakti tutup dan dijual," imbuh Romli.

Pergantian pemilik membuat warung pindah ke seberang gedung. Kendati bioskop ini telah almarhum, nama 'Trisakti' terlanjur melekat di benak penikmat kuliner Solo.

Romli berkata soto khas Solo dikenal dengan kuahnya yang bening dan segar. Benar saja, setelah beberapa kali menyantap soto dengan kuah santan atau kuah kental, soto ini terasa segar dan gurih. Rasa gurih soto didapat dari kaldu sapi. Ia menuturkan bagian kaki sapi sangat pas dijadikan bahan kaldu.

Meski terdapat lemak atau 'gajih', kuah soto tetap bening. Selain daging sapi, terdapat tauge dan potongan daun seledri sebagai pelengkap. Berbeda dengan soto di Yogayakarta dan Banyumas yang menggunakan potongan kubis plus soun.

Menyantap soto terasa semakin lengkap jika menggunakan empal atau jerohan sebagai lauk. Soto Trisakti menyajikan empal dengan cara berbeda yakni dengan dibumbu bacem kemudian digoreng.

"Di Solo, mereka yang pada berani ya menyantap soto pakai lidah (sapi) atau iso dan disajikan di piring terpisah," ujarnya.

"Beberapa hari ini kalau saya tanya pengunjung kebanyakan dari sekitar sini, semoga makin banyak yang tahu dan mau mencoba soto kami." (chs/chs)