Dengan adanya tulisan tersebut, Big uncle dianggap mendukung periode bersejarah berdarah yang penuh kekejaman. Namun Big Uncle membantahnya.
Merek pakaian asal Milan, Italia, yang dibangun pada tahun 2014 ini mendefinisikan pakaiannya sebagai sebuah identitas kuat yang menceritakan kisah kehidupan metropolitan dan melakukan perjalanan keliling dunia, tempat inspirasi ditemukan untuk setiap koleksinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:3 Trik Tampil Stylish ala Pevita Pearce |
Namun, tidak semua orang senang akan hal ini, salah satunya Mireille Harper, seorang warga Inggris. Dia pun membuat petisi yang menentang koleksi colonial Big uncle dan sudah ditandatangani hampir 600 tanda tangan.
[Gambas:Instagram]
Mireille Harper mengatakan bahwa Sabino Lebba dan Riccardo Moroni selaku pembuat Big Uncle dianggap gagal untuk mengerti betapa pentingnya konsep akan identitas sebuah label, khususnya dengan tulisan colonialism di bagian depan sweaternya.
"Kedua desainer ini nampaknya tidak menyadari warisan berkelanjutan rasisme, penindasan dan kemiskinan yang diciptakan oleh kolonialisme."
Mireille juga mengatakan bahwa kedua desainer label memiliki pandangan yang berbeda. Tak cuma itu, mereka juga dianggap memiliki pemahaman yang kurang lengkap akan orang-orang yang masih hidup dengan trauma terutama di Italia, di mana rasis, ketidakadilan dan diskriminasi masih terus berlanjut sampai sekarang.
Saat ditanya mengenai ketidakpekaan terhadap koleksi terbarunya, Big Uncle merepon dengan meminta pelanggan untuk 'memikirkannya' dan mengatakan bahwa koleksi ini merupakan koleksi 'post-modern' yang ingin menyiratkan kalimat sebagai 'tanda dan penanda'. (joy/chs)