Label Italia Dikritik Karena Dianggap Dukung Penjajahan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 11/04/2018 16:24 WIB
Label Italia Dikritik Karena Dianggap Dukung Penjajahan ilustrasi (Jeff Sheldon/Unsplash.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu label pakaian pria di Italia, Big Uncle mengalami masalah karena mengeluarkan koleksi pakaian yang dituliskan dengan kata 'colonialism' atau penjajahan.

Dengan adanya tulisan tersebut, Big uncle dianggap mendukung periode bersejarah berdarah yang penuh kekejaman. Namun Big Uncle membantahnya.

Merek pakaian asal Milan, Italia, yang dibangun pada tahun 2014 ini mendefinisikan pakaiannya sebagai sebuah identitas kuat yang menceritakan kisah kehidupan metropolitan dan melakukan perjalanan keliling dunia, tempat inspirasi ditemukan untuk setiap koleksinya.


Dilansir dari Metro, Big Uncle menjelaskan bahwa Koleksi 'Colonial deal' sendiri menggambarkan mengenai perjalanan yang singkat dan intens di koloni barat terdahulu yang dilakukan untuk memahami gaya kolonialisme.


Namun, tidak semua orang senang akan hal ini, salah satunya Mireille Harper, seorang warga Inggris. Dia pun membuat petisi yang menentang koleksi colonial Big uncle dan sudah ditandatangani hampir 600 tanda tangan.

[Gambas:Instagram]

Mireille Harper mengatakan bahwa Sabino Lebba dan Riccardo Moroni selaku pembuat Big Uncle dianggap gagal untuk mengerti betapa pentingnya konsep akan identitas sebuah label, khususnya dengan tulisan colonialism di bagian depan sweaternya.

"Kedua desainer ini nampaknya tidak menyadari warisan berkelanjutan rasisme, penindasan dan kemiskinan yang diciptakan oleh kolonialisme."


Mireille juga mengatakan bahwa kedua desainer label memiliki pandangan yang berbeda. Tak cuma itu, mereka juga dianggap memiliki pemahaman yang kurang lengkap akan orang-orang yang masih hidup dengan trauma terutama di Italia, di mana rasis, ketidakadilan dan diskriminasi masih terus berlanjut sampai sekarang.

Saat ditanya mengenai ketidakpekaan terhadap koleksi terbarunya, Big Uncle merepon dengan meminta pelanggan untuk 'memikirkannya' dan mengatakan bahwa koleksi ini merupakan koleksi 'post-modern' yang ingin menyiratkan kalimat sebagai 'tanda dan penanda'. (joy/chs)