Cap Tikus dan Saguer, Warisan Adat yang 'Ter-oplos' Zaman

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 07/05/2018 07:09 WIB
Cap Tikus dan Saguer, Warisan Adat yang 'Ter-oplos' Zaman Cap Tikus, minuman tradisional di Jailolo, Maluku Utara. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa)
Jailolo, CNN Indonesia -- Suara tifa dan gong dipukul bersahut-sahutan. Dalam sebuah bangunan kayu beratapkan rumbia, saya melihat belasan orang yang berpakaian adat sedang bercengkarama hangat.

Sesekali mereka menenggak minuman berwarna putih susu dan bening dari teko yang digilir. Walau hampir pukul satu malam, muka mereka terlihat cerah dengan pipi sedikit memerah.

Hari itu Suku Sahu yang bermukim di Desa Worat Worat baru saja menerima hibah atap rumah adat dari Kesultanan Ternate.


Hari yang membanggakan itu bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Jailolo 2018, sehingga turis banyak yang ikut berdatangan menjadi tamu.

Pesta yang digelar tak hanya semalam, melainkan sampai dua malam. Suku Sahu memang gemar menggelar acara kongko dalam rumah adat yang disebut Sasadu. Kelahiran, pernikahan sampai kematian ada pestanya, begitu kata salah satu dari mereka.

Ibu-ibu yang memasak Nasi Jala (sejenis lontong dalam bilah bambu yang dibakar) bahkan mengatakan kalau porsi makanan dan minuman yang disajikan sengaja dibuat melimpah, agar siapa saja yang datang bisa pulang dengan perut kenyang lalu ikut mendoakan yang baik-baik, begitu faedah acara kongko ini.

Suasana pesta semakin malam semakin meriah. Tamunya tersisa pemuda dan bapak-bapak, tapi ada saja yang dibicarakan. Dari hal receh sampai politik negara. Salah satu "pelumas" acara sosialisasi malam itu ialah minuman tradisional bernama Cap Tikus dan Saguer.

Roy, salah satu tamu yang ingin namanya disamarkan, mengatakan kalau selama ini banyak yang salah kaprah yang memberi label minuman alkohol memabukkan untuk Cap Tikus dan Saguer. Padahal dibanding minuman alkohol oplosan, dua minuman tersebut berbahan dasar lebih culun, yakni fermentasi gula aren.

"Ya kalau diminum habis makan duriang (buah durian) bisa saja mati. Ini kan minuman fermentasi, jadi banyak gasnya. Begitu juga kalau minumnya kebanyakan. Ya minumnya disesuaikan dengan kondisi perut saja," kata Roy tersenyum sambil menuangkan segelas Saguer kepada saya. Saya dilarang minum Cap Tikus olehnya, karena baru saja memakan berbiji-biji Durian Pare, jenis durian yang banyak tumbuh di Jailolo.

Walau dilarang menenggak Cap Tikus, Roy masih mengizinkan saya untuk mencium aroma minuman tersebut. Dari ujung hidung langsung tercium aroma seperti tape namun lebih menyengat. Saya iseng mencolek setetes dari gelas. Begitu jari masuk ke mulut rasa asam langsung terasa.

Tapi Roy masih berbaik hati memperbolehkan saya minum Saguer. Katanya proses fermentasi Saguer lebih cepat dibanding Cap Tikus, sehingga rasa asamnya tak terlalu menusuk kerongkongan dan perut, walau tetap tak boleh banyak-banyak mengingat saya habis makan durian sebakul.

[EMBARGO BY TATA] Saguer beserta "mayat" semut kecil yang mengambang di atasnya. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sebelum meletakkan pucuk gelas ke bibir, saya melihat banyak mayat semut hitam kecil yang mengambang di dalamnya. Roy menangkap ekspresi jijik saya, tapi ia berkata bahwa kawanan semut itu bawaan dari yang menggerogoti Pohon Aren.

Setelah menyendok tiga jasad semut dari gelas, saya menenggak Saguer yang dihidangkan dingin. Rasa asam yang segar dan sedikit bersoda langsung terasa di mulut. Rasa yang cukup menganggu itu jadi tak menyebalkan karena tak menempel di rongga mulut, berbeda dengan minuman alkohol macam Vodka atau Tequilla.

"Kalau mau mabuk, ya minum Cap Tikus jauh lebih memabukkan ketimbang Saguer. Ibaratnya minum Cap Tikus satu gelas sudah mabuk, sedangkan Saguer harus bergelas-gelas dulu," ujar Roy sambil meminum gelas berisi Cap Tikusnya dengan perlahan.

Baik Cap Tikus dan Saguer merupakan minuman tradisional yang resepnya sudah turun temurun diwariskan oleh nenek moyang suku adat di Jailolo.

Pohon Aren yang disodet lalu diambil getahnya. Getah tersebut lalu disuling berulangkali sampai bertekstur minuman. Uap hasil masaknya membantu proses fermentasi tersebut.

Ada banyak pembuat minuman tersebut di kecamatan yang berjarak satu jam pelayaran perahu dari Ternate itu.

Namun seluruh pembuatnya tak berani mengungkap jati dirinya, karena tak ingin berurusan dengan kepolisian yang menganggap kalau industri rumahan mereka mengancam masa depan daerah karena banyak kasus mabuk yang meresahkan.

Pembuat Cap Tikus dan Saguer mengasingkan diri di hutan-hutan, begitu kata Roy. Mereka baru membuat begitu ada permintaan, khususnya untuk acara adat.

Proses produksi minuman ini sehari jadi dan sepanjang tahun bisa dibuat.

"Hanya kalau terjadi gempa, biasanya hasil kebun di sini terasa lebih asam, entah mengapa. Getah Pohon Aren yang jadi bahan pembuat juga ikut terasa lebih asam," kata Roy.

[EMBARGO BY TATA]
Buah Durian Pare yang baru dipetik dari kebun milik warga di Desa Worat Worat, Jailolo, Maluku Utara. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Cap Tikus dan Saguer yang sampai ke tangan pembeli juga tak berkemasan khusus. Bisa dibungkus dalam botol air mineral atau jeriken.

Cap Tikus dihargai Rp25 ribu per botol ukuran air mineral sedang. Sementara Saguer lebih murah bahkan bisa ditawar, tergantung kedekatan penjual dan pembeli, begitu canda Roy.

Walau bukan minuman alkohol, tapi banyak orang yang menjadikan Cap Tikus dan Saguer sebagai minuman yang memabukkan sampai membahayakan diri.

Roy sangat menyayangkan hal tersebut, karena ia ingin warisan leluhurnya bisa tetap lestari.

"Dibanding bir kalengan, anak muda di sini lebih senang minum Cap Tikus atau Saguer," kata Roy.

"Untuk menghibur diri kita tinggal ke pinggir pantai sambil bawa minuman ini."

(asa)