Liputan Khusus

Jalan Jaksa, Simbol Keberagaman yang Divonis Sekarat

Ardita Mustafa & Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Minggu, 20/05/2018 15:22 WIB
Jalan Jaksa, Simbol Keberagaman yang Divonis Sekarat Tiga turis asing mengikuti lomba balap karung memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-70 di Jalan Jaksa, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kawanan turis mancanegara terlihat asyik berbincang di bangku-bangku kafe. Di seberang trotoar terlihat sekawanan lagi yang memanggul tas punggung berukuran besar. Bagai memenuhi aturan berbusana, sebagian besar mengenakan kaus, celana pendek dan sendal jepit.

Sinar matahari kota Jakarta pukul 4 sore terlihat membasahi jidat mereka. Seakan tak peduli, wajah mereka malah terlihat ceria. Mencuri dengar pembicaraan di dalam kafe, bahkan sekelompok bule--sebutan populer mereka di Indonesia, itu baru berkenalan saat menghabiskan sore di sana.

Pemandangan tersebut merupakan satu dari sekian banyak memori yang terkenang dari Jalan Jaksa, sebuah jalan di Jakarta Pusat yang diapit oleh area Thamrin, Jalan Sabang dan Menteng.


Sayangnya kini pemandangan tersebut tak lagi sering terlihat. Jalan Jaksa divonis sekarat tergerogoti oleh zaman.

Serupa dengan Poppies Lane di Bali atau Jalan Prawirotaman di Yogyakarta, Jalan Jaksa mulai eksis sejak tahun 1960-an.

Di tahun tersebut, konsep hidup mendobrak rutinitas demi kebebasan yang hakiki atau hippies sedang melanda dunia. Warga Amerika yang memulainya lalu menularkannya ke negara lain.

Konsep mendobrak rutinitas juga diaplikasikan dalam kegiatan berwisata. Menjelajah daerah baru hanya dengan bermodalkan tas punggung dan dana seadanya menjadi tren. Kini konsep tersebut populer disebut backpacking.

Di tahun itu backpackers dari luar negeri sampai di Indonesia lewat dari Jalan Jaksa.

Nama Jalan Jaksa konon berasal dari banyaknya murid sekolah Rechts Hogeschool, semacam Sekolah Hukum di masa Hindia-Belanda, yang tinggal di kawasan ini. Karena lulusan sekolah tersebut banyak yang menjadi jaksa, akhirnya jalan itu diberi nama Jalan Jaksa.

Selain dikenal sebagai tempat wisata murah, Jalan Jaksa juga digemari backpackers karena letaknya yang strategis di jantung kota Jakarta.

Istana presiden, kedutaan besar, stasiun kereta sampai objek wisata bersejarah bisa dikunjungi dengan hanya berjalan kaki.

Industri yang layu setelah berkembang

Industri pariwisata di Jalan Jaksa mulai berkembang setelah salah satu warga, Nathaniel Lawalata, menjadikan rumahnya sebagai tempat penginapan sederhana bernama Wisma Delima pada tahun 1968.

Sejarawan kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan kalau turis mancanegara betah berada di Jalan Jaksa karena suasananya yang hangat.

"Warga di Jalan Jaksa itu ramah terhadap para pengunjung. Tahun-tahun segitu kan kalau orang liat bule masih suka nyorakin, tapi di Jalan Jaksa itu tidak," kata Yahya saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada pekan kemarin.

Yahya lanjut mengatakan kalau Jalan Jaksa mencapai titik kepopulerannya sekitar tahun 1990-an. Hal itu bisa terlihat dari terselenggaranya Festival Jalan Jaksa yang pertama.

Festival tahunan itu awalnya berlangsung meriah, namun seperti yang diungkapkan Yahya beberapa tahun belakangan ini jadi terkesan dipaksakan.

Ia merasa kalau Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Suku Dinas Pariwisata Jakarta Pusat terlalu banyak campur tangan dan meminggirkan partisipasi warga Jalan Jaksa. Padahal awalnya warga setempat yang bahu membahu mengadakan festival tersebut.

"Saya mengikuti rutin rapat-rapat itu empat sampai lima tahun yang lalu. Masyarakat ingin festival itu berjalan secara alamiah, tidak ada sekat. Selama ini kan berbaur, antara warga dan turis. Bahkan pedagang dan pengamen pun ikut membaur," ujar Yahya, yang juga menjelaskan bahwa sekat yang dimaksud ialah keberadaan orang penting dengan agenda pribadi.

Tak hanya soal festival, pejabat-pejabat itu juga melakukan langkah penataan kawasan yang menurut Yahya meninggalkan karakter asli Jalan Jaksa.

Pedagang kaki lima ditertibkan sehingga jalanan yang bisa dilalui dua mobil itu terlihat sepi. Pengunjung tentu saja jadi berpikir dua kali untuk datang, padahal yang datang ingin merasakan keramaian.

Untuk itu ia meminta agar pemerintah bisa memberi kepercayaan kepada warga Jalan Jaksa untuk mengatur kawasannya, karena menurutnya Jalan Jaksa masih bisa dikembangkan jadi destinasi wisata yang menarik.

"Kalau terlalu banyak intervensi dari pihak-pihak tertentu, kan jadi banyak pagar yang diciptakan. Coba dihilangkan pagar-pagar itu, agar menyatu kembali," ujar Yahya.

"Jalan Jaksa menjadi simbol bahwa Jakarta itu kota yang penuh keberagaman dan aman dikunjungi. Jalan Jaksa itu ibarat titik transit, pertemuan, perpisahan, cinta, dan cerita," pungkasnya.