Jangan Tertipu Harga Murah Mendaki Gunung Everest

AFP, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 05:29 WIB
Jangan Tertipu Harga Murah Mendaki Gunung Everest Para pendaki di Gunung Everest. (Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisa mendaki Gunung Everest bisa dibilang menjadi sebuah kebanggaan yang hakiki bagi pendaki. Puncak gunung tertinggi di dunia itu kini tak lagi sepi, karena banyak pendaki yang datang untuk menaklukannya setiap harinya.

Sayangnya, sebagian besar pendaki yang datang tak memiliki banyak pengalaman. Akibatnya tak sedikit yang mengalami cedera sampai pulang hanya tinggal nama.

Tarif mendaki Gunung Everest disebut kelewat murah, yakni sekitar US$20 ribu per orang (sekitar Rp279 juta).


Para operator pendakian di sana juga tak melakukan seleksi ketat mengenai pendaki yang layak naik.

Tapi ada juga operator pendakian yang memberikan tarif lebih mahal, sekitar US$70 ribu per orang (sekitar Rp976 juta).

Selain pendakinya diseleksi secara ketat, mereka juga menyediakan fasilitas dan layanan keselamatan yang lebih mumpuni.

Tak sembarang orang yang bisa membayar tarif seharga selangit itu. Mereka yang datang kebanyakan orang berduit, mulai dari pilot sampai pemilik perusahaan teknologi.

"Mendaki ke puncak Everest merupakan mimpi dalam hidup saya," kata Matt Brennan, pemilik perusahaan konstruksi di Amerika Serikat yang membayar US$65 ribu lewat operator Alpine Ascents.

Ramai tapi berbahaya

Pada tahun 1980-an, pemerintah Nepal hanya mengizinkan satu tim untuk sekali pendakian ke Gunung Everest per harinya.

Tim tersebut harus berisi pendaki yang memiliki kemampuan bertahan di cuaca ekstrem.

Namun pada tahun 1990-an, pemerintah Nepal mulai melonggarkan izin pendakian demi menaikkan kunjungan turis mancanegara.

Tahun ini tercatat sebanyak 346 orang telah mengantongi surat izin mendaki dari Nepal.

Sementara sebanyak 180 orang mengantongi surat izin mendaki dari Tibet.

Jumlah tersebut bisa dibilang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya, yang berjumlah 373 orang. Enam orang pendaki juga dikabarkan tewas di tahun yang sama.

Gunung Everest, Nepal, 2015.Gunung Everest, Nepal, 2015. (Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar)

Guy Cotter, pemandu pendaki yang telah wara-wiri di Gunung Everest selama 27 tahun, meminta pendaki yang tak berpengalaman tidak nekat naik ke puncaknya.

"Ada banyak paket pendakian murah yang dijual di internet. Tapi banyak dari mereka tak mengutamakan keselamatan pendaki," kata Cotter.

"Pendaki yang tak punya kemampuan dan nekat mendaki itu bukan pendaki sejati. Mereka hanya mengincar rasa puas," lanjutnya.

Walau zaman semakin modern, namun mendaki Gunung Everest tak semain mudah. Alam di puncaknya tak bisa ditebak, mirip dalam film layar lebar 'Everest' yang berdasarkan dari kejadian nyata.

Dua pendaki pertama ke Gunung Everest, Tenzing Norgay dan Edmund Hillary, bahkan harus bolak-balik mendaki sebanyak tujuh kali sebelum sampai ke puncaknya pada tahun 1953.

Ironisnya pada saat ini, pendaki tak berpengalaman memaksa naik dengan cara instan, seperti memotong jalan sampai menunda waktu istirahat agar cepat sampai.

Pendaki melintasi celah di Gunung Everest, 2016.Pendaki melintasi celah di Gunung Everest, 2016. (Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS)

Pendaki lainnya, Daniel Horne, membenarkan kenyataan tersebut.

"Ini adalah kali kedua saya datang ke Everest, setelah sebelumnya gagal karena cuaca buruk. Ketika itu saya diminta kembali berputar balik. Saya memahami kenyataan tersebut," kata Horne.

"Jika tahun ini saya gagal lagi, saya akan kembali mengumpulkan uang untuk kembali naik tahun depan," lanjutnya.

Kematian yang rutin

Pendakian yang membahayakan juga kadang dipaksakan oleh operator, yang ingin agar pelanggannya sampai ke puncak dengan cara apapun.

Tahun 1966 tercatat sebanyak enam orang pendaki tewas karena memaksa naik ke puncaknya. Dua pemandu pendakian, Rob Hall dan Scott Fischer, termasuk dalam korban yang tewas.

Sebelumnya Hall dan Fischer disebut sebagai pemandu pendakian yang kerap mengantar pelanggannya bolak-balik dengan selamat. Tapi alam berkata lain.

Warga lokal yang menjadi pemandu pendakian (sherpa) Ang Tshering Lama mengatakan kalau saat ini banyak orang yang mengaku pendaki yang tak menguasai teknik mendaki.

"Banyak orang mengaku sering mendaki, tapi mereka sebenarnya bukan pendaki," kata Lama, yang pernah menolak tip besar saat pelanggannya meminta naik dengan cara instan.

"Anda harus menjadi pendaki untuk naik ke puncak gunung ini," pungkasnya.

(ard/arh)