Perawatan Korban Bom Surabaya Fokus Pada Fisik dan Kejiwaan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 15:19 WIB
Perawatan Korban Bom Surabaya Fokus Pada Fisik dan Kejiwaan Nila Moeloek (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peristiwa ledakan bom di Surabaya yang terjadi sejak Minggu (13/5) sampai Senin (14/5) menelan korban jiwa maupun korban luka-luka.

Korban luka dirujuk ke beberapa rumah sakit setempat dan dijamin untuk mendapatkan pelayanan maksimal. Upaya pengobatan maksimal ini, diungkapkan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Widyawati, mengacu pada UU No 44 tahun 2009. 

"Dasar penyelenggaraan rumah sakit adalah UU No 44 tentang RS, di mana seluruh rumah sakit harus siap siaga 24 jam dalam bentuk layanan IGD, yang mana musibah itu tidak (hanya) dalam bentu kejadian bom tetapi bisa dalam bentuk bencana alam, musibah kecelakaan dan kebakaran. RS wajib dengan kesiap siagaannya," ucap Widyawati kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/5). 


Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek, Minggu (13/5) malam mengunjungi korban di beberapa rumah sakit di Surabaya. Dalam kunjungannya, dia memastikan bahwa korban bom Surabaya akan mendapatkan pengobatan yang maksimal di seluruh rumah sakit di Surabaya dan sekitarnya.

Tak lupa dia juga menegaskan bahwa biaya pengobatan korban ditanggung oleh negara.

"Seperti yang telah dikatakan oleh Bapak Presiden, bahwa seluruh biaya pengobatan korban yang sedang dirawat di beberapa RS di Surabaya akan ditanggung oleh negara," kata Nila dikutip dari pernyataan resmi Kemenkes RI yang diterima CNNIndonesia.com pada Senin (14/5).


Nila mengunjungi beberapa rumah sakit seperti RS Bedah Manyar, RSUD Dr. Soetomo dan RSAL dr. Ramelan didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Kohar Hari Santoso.

Hingga kini, kata Nila, total korban meninggal sebanyak 13 orang dan korban luka-luka sebanyak 47 orang, dan tiga korban lainnya masih kritis dengan kondisi luka bakar sebesar 99 persen.

RS Dr.Soetomo menjadi tempat rujukan bagi korban dengan kondisi kritis dan luka yang tingkat kesulitannya tinggi. Ia berkata pihaknya mengoptimalkan perawatan bagi seluruh korban yang berada di beberapa rumah sakit di Surabaya.

Sementara itu, Kohar menuturkan bahwa stabilisasi kondisi dan juga fisik pasien menjadi hal yang paling penting.


Ia menambahkan pihaknya juga akan memperhatikan kondisi kejiwaan korban. Menindaklanjuti hal ini, Tim Kesehatan Jiwa (Keswa) Dinkes Jawa Timur telah melakukan koordinasi lintas sektor untuk menyiapkan tenaga kesehatan, tenaga medis, dan psikolog untuk pemulihan korban.

Sedangkan untuk penanganan kesehatan jiwa juga akan dilakukan pada korban dan keluarga serta penanganan kondisi panik dan cemas warga Surabaya.

Dalam kunjungannya, Nila juga menyampaikan ungkapan keprihatinan dan duka citanya atas teror bom di Surabaya.

"Kami dari Kementerian Kesehatan RI turut prihatin dan mengutuk apa yang telah dilakukan oleh pelaku ledakan bom bunuh diri. Tidak seharusnya mereka melakukan hal itu," ujarnya. (chs/chs)