Masjid Agung di Tengah Kota Katolik Vatikan

ANTARA, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 03:36 WIB
Masjid Agung di Tengah Kota Katolik Vatikan Ilustrasi (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penduduk kota Roma mayoritas memeluk agama Katolik. Hal itu terlihat dari banyaknya gereja yang berdiri di setiap sudut pemukiman. Meski demikian, ada juga penduduk yang memeluk agama Islam. Di bulan Ramadan ini mereka tetap menjalankan ibadah puasa selayaknya umat Muslim di belahan dunia lain.

Di tengah banyaknya gereja, ada satu masjid besar yang menjadi pusat aktivitas kaum Muslim di Roma. Tepatnya di Moschea di Roma atau Masjid Roma.

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 30 ribu meter persegi ini diresmikan pada bulan Juli 1995. Dana pembangunan masjid ini merupakan donasi dari 23 negara, salah satunya Indonesia.


Selain Indonesia, negara yang ikut menyumbang adalah Brunei, Malaysia, Arab Saudi, Aljazair, Bahrain, Bangladesh, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, Kuwait, Libya, Maroko, Mauritania, Oman, Pakistan, Qatar, Senegal, Sudan, Tunisia, dan Yaman.

Imam besar Masjid Roma, Salah Ramadan, menuturkan Raja Faisal dan 23 negara memberikan sumbangan sebesar US$50 juta untuk membangun fasilitas ibadah dan belajar bagi umat Islam di Italia.

"Sumbangan yang cukup besar pada waktu itu untuk membangun masjid dan pusat pembelajaran Islam ini," kata Salah.

Salah mengakui jumlah pemeluk Islam di Italia tidak sebanyak di London, Belanda, Jerman, Swedia atau Rusia.

Total umat Muslim di Italia sekitar 1,5 juta orang. Mereka kebanyakan pendatang dari negara Islam, seperti Mesir, Maroko, Tunisia, Bangladesh, Pakistan, dan negara lain di Afrika.

Penduduk asli Italia yang menganut agama Islam jumlahnya lebih kecil lagi, sekitar 100 ribu orang.

Meski demikian agama Islam cukup berkembang di Italia.

"Tiap minggu ada saja yang memutuskan pindah ke agama Islam, satu sampai dua orang. Mereka yang masuk Islam biasanya orang asli Italia atau pendatang dari negara Eropa lainnya," ujar lulusan Universitas Al Azhar-Mesir itu.

Masjid Roma juga selalu ramai setiap harinya. Ada saja yang menunaikan salat lima waktu sampai sekadar datang untuk mengaji.

Salah merasa beruntung bisa tinggal satu kawasan dengan Masjid Roma. Pasalnya masjid ini adalah masjid terbesar di Uni Eropa. Fasilitasnya juga terlengkap. 

Ada dua bangunan masjid di Masjid Roma. Bangunan masjid besar terletak di lantai dua bisa menampung lebih dari 3.000 orang, namun hanya dibuka saat salat Jumat, bulan Ramadan dan salat Ied.

Kemudian ada bangunan masjid kecil yang terletak di lantai satu dan mampu menampung 100 orang. Bangunan ini digunakan untuk kegiatan ibadah sehari-hari.

[Gambas:Instagram]

Semakin ramai di ujung Ramadan

Pada bulan Ramadan, pihaknya mengadakan lomba hafalan Al Quran di samping berbuka puasa dan salat Tarawih bersama.

Salat Tarawih baru dimulai sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Pada akhir musim semi matahari di Italia baru tenggelam sekitar pukul 20.30.

"Sebagian besar dari mereka berdatangan sebelum salat Isya dimulai pukul 22.30," ujar Salah.

Ketika salat Tarawih dimulai, Salah tidak menjadi imam, namun ia bertindak sebagai penceramah.

Ceramah dilakukannya setelah menyelesaikan empat rakaat tarawih. Rangkaian salat tarawih di Masjid Roma berjumlah 11 rakaat.

Selama bulan puasa jemaah yang datang ke Masjid Roma bisa mencapai 3.000 orang. Semakin dekat penghujung Ramadan, jumlah jemaah malah semakin banyak.

Salah seorang warga negara Indonesia yang sudah tinggal di Roma selama 16 tahun, Tari, menuturkan jumlah jemaah Masjid Roma membludak saat salat Ied.

"Salat Ied bisa diselenggarakan sampai tiga kali," ujar Tari.

Tari mengaku persaudaraan sesama Muslim di Roma sangat kuat. Apalagi, ia melanjutkan, mereka menjadi minoritas di negera yang dekat sekali dengan pusat kepimpinan agama Katolik di Vatikan.

(agr/ard)