Pesan Mamah Dedeh Seputar Berpuasa di Bulan Ramadan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 03:15 WIB
Pesan Mamah Dedeh Seputar Berpuasa di Bulan Ramadan Ustazah Dedeh Rosidah atau akrab disapa Mamah Dedeh menjawab sejumlah pertanyaan seputar puasa. (Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Agus Bebeng)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berpuasa di bulan Ramadan menjadi salah satu kewajiban umat Islam. Perintah untuk berpuasa ini pun tercantum dalam Surat Al Baqarah 183, yang berbunyi, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa."

Beranjak dari kutipan ayat tersebut, Ustazah Dedeh Rosidah atau akrab disapa Mamah Dedeh mengatakan bahwa Allah tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan umat-Nya. Jika kemudian merasa tidak mampu, kata dia, maka ada pola pikir yang sebaiknya diubah.

"Kenapa enggak mampu? Boleh jadi tidak ikhlas. Belum berpuasa jangan ngerasa enggak sanggup. Pola pikir harus diubah," pesannya saat ditemui di Kedasi Coworking Space, Graha Niaga Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (24/5). 



Menurutnya, berpuasa menjadikan kondisi tubuh lebih baik. Hal ini didukung dengan pengetahuan terkait kondisi tubuh. Di usia yang menginjak kepala enam ini ia mengakui harus semakin banyak memperhatikan asupan makanan.

Meski demikian, ia tetap bersemangat menjalankan ibadah puasa. Ia memegang pesan Rasul yakni, menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.

"Sahur harus diakhirkan, artinya jarak berpuasa ke sahur tidak terlalu lama. Kalau sahur terlalu awal nanti terlalu lama puasa lalu tubuh bisa dehidrasi," paparnya.

Ia pun memberikan tips saat sahur, yakni setop makan dan minum tiga menit sebelum subuh. Jika terlewat, maka puasa bisa dianggap batal.

"Ini memberi kesempatan makanan yang masih di kerongkongan masuk ke perut," imbuhnya.


Menimbang pahala buat yang haid

Meski jadi kewajiban, tak semua orang dapat menjalankan ibadah puasa termasuk perempuan yang sedang haid atau datang bulan. Hal ini kerap menimbulkan 'kegalauan' kaum hawa, sebab jika tidak berpuasa artinya tidak memperoleh pahala seperti layaknya mereka yang berpuasa.

Menanggapi hal ini, Mamah Dedeh menuturkan, perempuan yang haid haram berpuasa. Selain itu, ia juga tidak diperkenankan salat dan memegang Al Quran.

"Kalau Al Quran yang campur huruf biasa boleh, yang tidak boleh kalau dia full huruf Arab," katanya.

Mamah Dedeh mengatakan haid tak akan jadi penghalang dalam menimba pahala. Perempuan yang haid masih bisa membaca juz amma, Al Quran dengan huruf campuran, dzikir, wirid atau kajian rutin.

Haid secara otomatis memotong 'jatah' waktu puasa, sehingga ada kewajiban untuk menukar. Persoalannya, setelah Lebaran, ada kewajiban puasa Syawal. Sebaiknya puasa Syawal terlebih dahulu, atau menukar 'utang' puasa Ramadan?

"Saran saya, Syawalan dulu baru menukar puasa dan tidak boleh digabung. Puasa Syawal ya puasa di bulan Syawal. Bayar utang bisa kapanpun," jelas Mamah Dedeh. (rah)