Hari Kebersihan Menstruasi

Sebab Utama Sulit Jaga Kebersihan Menstruasi di Sekolah

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 10:50 WIB
Sebab Utama Sulit Jaga Kebersihan Menstruasi di Sekolah ilustrasi toilet (Lucy Nicholson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjaga kebersihan saat menstruasi bukan hanya 'tugas' perempuan yang sedang dalam periode datang bulan.

Seperti halnya menjaga kebersihan pada umumnya, manajemen kebersihan menstruasi juga melibatkan banyak pihak terutama jika menyangkut soal sanitasi publik. Perempuan dewasa mungkin sudah lebih paham soal menjaga kebersihan menstruasi di area publik, namun yang jadi masalah adalah anak perempuan yang masih di usia sekolah dasar. Mereka cenderung mengalami masalah untuk menjaga kebersihan menstruasinya di sekolah. 

Salah satu komponen terpenting dari sanitasi sekolah adalah isu manajemen kebersihan menstruasi. Dan sanitasi sekolah merupakan salah satu elemen penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.



"Manajemen kebersihan menstruasi adalah upaya menciptakan kondisi di mana perempuan dan remaja putri memiliki pengetahuan yang benar dan pola hidup yang bersih dan sehat ketika menstruasi, seperti menggunakan pembalut (baik sekali pakai atau pembalut kain) yang dapat diganti sesering mungkin selama menstruasi," ungkap Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga Ditjen. Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan dalam pernyataan dari Jejaring AMPL (air minum dan penyehatan lingkungan) yang diterima CNNIndonesia.com terkait tentang Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia yang diperingati setiap 28 Mei.

Berdasarkan pernyataan tersebut, isu manajemen kebersihan menstruasi masih menjadi hal tabu untuk dibicarakan. Isu ini juga dianggap bukan isu penting untuk ditangani.

"Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap membicarakan menstruasi adalah hal yang tabu, padahal menstruasi adalah kondisi normal yang dialami semua perempuan di mana pun," kata Dini Widiastuti, Direktur Yayasan Plan International Indonesia (YPII).

Pentingnya sanitasi saat menstruasi

Meningkatnya akses sanitasi di sekolah akan berdampak signifikan terhadap peningkatan kesehatan dan kenyamanan siswa-siswi dan angka partisipasi sekolah.

Dalam penelitian yang dilakukan UNESCO tahun 2010 mengungkapkan bahwa satu dari lima anak sekolah dasar ternyata tak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP karena tak ada akses pada air dan sanitasi di sekolah.


Sedangkan menurut data dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) 2017 menyatakan bahwa 12,09 persen (25.835) sekolah di Indonesia tak memiliki toilet. Tak cuma itu, rasio jumlah toilet untuk laki-laki dan perempuan pun berbeda.

Data tersebut menyebutkan bahwa rasio toilet laki-laki dan perempuan secara nasional adalah 1:122 untuk siswa, dan 1:117 untuk siswi. Kondisi ini dianggap kurang menunjang bagi siswi untuk menjaga kebersihan menstruasi di sekolah.

"Isu manajemen kebersihan menstruasi sangat erat kaitannya dengan pencapaian target sustainable development goals, antara lain tujuan kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan jender serta air bersih dan sanitasi layak," ungkap Eni.

(chs/chs)