Surfing di Antara Dua Ombak Korea

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 04/06/2018 19:24 WIB
Surfing di Antara Dua Ombak Korea Perairan Korea yang dipisahkan DMZ. (AFP PHOTO / Ed JONES)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di sisi kanan dan kiri jalanan menuju pantai biasanya dipenuhi oleh bar atau restoran, dengan pengunjung kebanyakan surfer (peselancar).

Tapi di 38th Parallel Beach ada yang berbeda. Pantai itu dibatasi oleh pagar kawat dengan ujung yang runcing. Di belakang pagar ada markas militer dan pos pemantau.

Pantai 38th Parallel Beach berada di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Letaknya tidak jauh dari Zona De-Militerisasi (DMZ) yang menjadi pemisah hidup dan sejarah Korea.


Pantai dengan tebing batu tinggi seakan menjadi saksi kebisuan panjang antara dua negara.

Lee Hyung-joo, penduduk Korea Selatan yang membuka tempat penginapan di sana mengatakan kalau peselancar dari berbagai belahan dunia banyak berdatangan ke pantai ini.

Urusan ombak memang sudah pasti dicari, tapi mereka mengincar sensasi untuk surfing (berselancar) di antara dua negara.

Pantai 38th Parallel Beach berjarak tiga jam perjalanan mobil dari ibukota Korea Selatan, Seoul.

Pantai ini tidak buka 24 jam, karena setiap harinya anggota militer yang berjaga di DMZ bakal membuka dan menutup pagar kawat yang membatasi. Mirip dengan jam operasional gedung kantor.

Suasana di sekitar pantai memang terasa sedikit kaku, namun keriaan di dalamnya tak jauh berbeda dengan yang terasa di Bali atau Hawaii. Semua orang menggariskan senyum saat berhasil menunggangi ombak yang datang.

Mereka saling bercanda dan tertawa, seakan tak peduli eksistensi DMZ yang berada 300 meter dari pantai itu.

Tak hanya peselancar, rombongan keluarga dari Korea Selatan dan Korea Utara juga kerap datang di akhir pekan. Mereka duduk menggelar tikar dan makan bersama, sambil saling memandangi "dunia" yang dibatasi oleh pagar kawat setinggi delapan kaki itu.

Tidak berada jauh dari mereka berdiri bangunan dengan kamera pengawas DMZ yang siaga mengintai.

Surfing di Antara Dua Ombak KoreaKetatnya penjagaan di DMZ. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Butuh waktu panjang bagi Lee dan kawan-kawannya untuk mendapatkan izin membangun tempat penginapan Surfyy Beach di sana.

Tempat usahanya baru resmi beroperasi pada tahun 2015, dengan catatan bahwa pengunjung tak boleh mengutak-atik DMZ.

Sementara itu instruktur selancar asal Kanada, Jake McFadyen, mengatakan kalau tren berselancar di Korea semakin meningkat.

McFadyen mengatakan hal tersebut karena dirinya kini mantap menggeluti profesinya di Negara Ginseng itu.

"Sekarang situasi sudah lebih kondusif. Saat saya datang berselancar di sini pertama kali pada tahun 2007, saya sering didatangi oleh anggota militer yang berjaga," kata McFadyen kepada CNN.

Salah satu pengunjung dari Korea Selatan, Kwon Min-ju, mengaku berharap kalau pertemuan Kim Jong-un dan Ban Ki-Moon bisa memperbaiki hubungan kedua negara.

"Saya butuh kedamaian, juga ombak. Kabarnya ombak di kawasan Korea Utara jauh lebih menantang," kata Kwon sambil tersenyum.

(ard)