Yang Wajib Diketahui Turis Bertato saat ke Jepang

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 11/06/2018 16:06 WIB
Yang Wajib Diketahui Turis Bertato saat ke Jepang Ilustrasi. (AFP PHOTO / Ben STANSALL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah bukan zamannya lagi menuduh orang yang memiliki rajah di tubuh alias tato ialah pelaku tindak kriminal.

Sejak beberapa tahun yang lalu, tato diapresiasi menjadi kesenian. Indonesia sendiri menyumbang sejarah atas kesenian tersebut, dengan keberadaan tradisi tato tradisional di Kepulauan Mentawai.

Tapi tak semua negara maklum dengan keberadaan orang bertato.


Negara yang menjujung tinggi agama dan adat, seperti Arab atau Asia, terkadang masih meminta turis bertato untuk menutupi bagian tubuhnya yang bergambar.

Thailand melarang penampakan tato berlambang Buddha. Sementara Jepang merasa tato identik dengan anggota geng kekerasan Yakuza.

Untuk membantu turis mencari informasi "kebebasan bertato" di Jepang, sebuah situs bernama Tattoo Friendly diluncurkan belum lama ini.

Situs tersebut dibuat oleh perusahaan Jepang namun juga menyediakan informasi berbahasa Inggris.

"Kami membuat situs ini agar turis bertato dapat mencari objek wisata yang bisa dikunjungi dengan bebas, salah satunya pemandian air panas (onsen)," kata Miho Kawasaki, salah satu pengelola situs tersebut.

"Banyak onsen kuno yang beroperasi di sini. Kebanyakan pemiliknya trauma dengan Yakuza, jadi mereka melarang pengunjung bertato memperlihatkan tatonya," lanjutnya.

Selain onsen, di situs tersebut turis juga bisa mencari informasi mengenai tempat olahraga, kolam renang, pantai hotel sampai tempat mandi umum (sento), yang memiliki aturan bertato lebih longgar.

Dengan diterbitkannya situs tersebut, diharapkan tak ada lagi turis yang adu otot dengan pelaku usaha wisata di Jepang hanya karena penampakan tato.

Banyaknya korban yang jatuh atas aksi kriminal Yakuza membuat penampakan tato kurang mendapat hati bagi masyarakat senior di Jepang.

Tahun lalu pemerintah Jepang mengeluarkan aturan bahwa hanya pelaku medis berlisensi yang bisa menato orang.

Di tahun yang sama terjadi penangkapan atas seniman tato yang membuka gerai tak berizin medis di Osaka.

Walau demikian masih banyak gerai tato yang beroperasi diam-diam di Jepang.

Badan Pariwisata Jepang (Japan National Tourism Board/JNTO) berulangkali memberi imbauan kepada pengelola onsen dan sento untuk menerima turis bertato, agar turis dengan tubuh bergambar tak sungkan datang ke Negara Matahari terbit ini.

(ard)