Studi: Virus Herpes Salah Satu Pemicu Demensia

CNN International, CNN Indonesia | Sabtu, 23/06/2018 16:54 WIB
Studi: Virus Herpes Salah Satu Pemicu Demensia Studi terbaru mengungkap virus herpes jadi salah satu pemicu demensia. (dok. CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti menungkap adanya kaitan antara virus herpes dengan penyakit demensia. Temuan in isekalius membantu mengungkapa penyebab penyakit demensia yang kerap menyerang orang-orang lanjut usia.

Peneliti mengungkap adanya keterkaitan yang kuat antara virus herpes 6A dan 7 yang memengaruhi fungsi kognitif seseorang.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Neuron itu melibatkan 622 fungsi otak orang-orang yang memiliki tanda-tanda seseorang mengidap demensia. Pengidapnya memiliki level virus herpes yang dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki tanda-tanda mengidap penyakit tersebut.


Peneliti mendapati sekitar 322 orang yang terlibat dalam studi tidak berpeluang mengidap Alzheimer. Dari hasil penelitian ini, tim peneliti menyimpulkan virus herpes berpengaruh besar dalam kerja otak.

Terlebih sebagian teori mengatakan alzheimer merupakan penyakit gabungan penurunan kinerja otak. Meski hingga kini, dokter dan sejumlah peneliti belum dapat memastikan penyebab dari penyakit tersebut.

"Saya rasa kita belum mampu menjawab apakah virus herpes merupakan penyebab utama penyakit Alzheimer. Tapi yang jelas, virus ini mengganggu jaringan yang mempercepat kerja otak dan ada kaitannya dengan topologi Alzheimer," ungkap Joel Dudley, ahli genetika dan tim peneliti studi seperti dilaporkan CNN.

Lebih jauh, ia meyakini studi ini bisa membantu peneliti mengidentifikasi virus yang memengaruhi kerja otak untuk mendiagnosa risiko pengidap demensia.

Meski begitu, Dudley dan tim mengingatkan agar orang tidak perlu khawatir dengan temuan mereka. Hal ini karena sekitar 90 persen orang dewasa tercatat telah terkena virus herpes hingga usia maksimal 50 tahun.

"Ini adalah bukti paling menarik soal penyebab Alzheimer. Meskipun temuan ini berpotensi membuka pintu untuk pilihan pengobatan baru, namun tidak mengubah risiko dan kerentanan penyakit ini atau kemampuan untuk mengobati Alzheimer," ungkap profesor neurologi dan spikiatri, Dr Sam Gandy. (evn)


BACA JUGA