Pose 'Menumbangkan' Jerapah Ungkap Industri Pariwisata Afsel

ANTARA, CNN Indonesia | Selasa, 03/07/2018 20:47 WIB
Pose 'Menumbangkan' Jerapah Ungkap Industri Pariwisata Afsel Ilustrasi Jerapah (Foto: Dok. Wildlife Reserves Singapore)
Jakarta, CNN Indonesia -- Foto seorang pemburu asal Kentucky berpose dengan tubuh jerapah hitam yang dia bunuh di Afrika Selatan telah memicu kecaman dalam jaringan setelah menjadi viral di media sosial.

Ribuan pengguna twitter menyatakan kemarahan pada Tess Thompson Talley, 37 tahun, karena membunuh jerapah dalam perjalanan berburu musim panas lalu.

"Doa untuk mimpi berburu seumur hidupku menjadi kenyataan hari ini! Melihat jerapah hitam langka ini dan menguntitnya cukup lama," tulis Talley dalam sebuah kolom yang sudah dihapus di Facebook, seperti yang dikutip dari Antara, Selasa (3/7).


Tulisan tersebut menjelaskan hewan itu berusia lebih dari 18 tahun, beratnya 1.814 kilogram dan menghasilkan 907 kilogram daging.

Foto-foto itu beredar baru-baru ini setelah diunggah kembali di "twitter" bulan lalu oleh laman web Africalandpost. Kecaman dalam jaringan itu berlangsung dengan cepat.

Sementara itu Talley membela diri dalam surat elektronik ke Fox News dalam sebuah cerita yang dipasang di laman webnya, mengatakan bahwa jerapah adalah anggota dari sub-spesies Afrika Selatan yang tidak langka.

"Jumlah sub-spesies ini sebenarnya meningkat karena, sebagian, untuk pemburu dan upaya konservasi dibayarkan sebagian besar oleh perburuan besar," katanya.

Perburuan besar bersifat legal di Afrika Selatan, di mana industri dan pariwisata terkait menghasilkan dua miliar dolar Amerika Serikat per tahun.

Jerapah diklasifikasikan sebagai "rentan" pada 2016 oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam, yang mengelola daftar spesies yang terancam punah di seluruh dunia. Jumlah jerapah di Afrika sub-Sahara telah turun hampir 40 persen sejak 1985, menurut organisasi itu.

Talley bukan orang Amerika pertama yang mendapat kecaman karena perburuan besar. Pada 2015, seorang dokter gigi di Minneapolis mendorong kemarahan karena membunuh Cecil, singa Zimbabwe yang terkenal. (agr)