Dari Ibu Kota Negeri Sakura, GenWI Jepang Diluncurkan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 22/07/2018 16:34 WIB
Dari Ibu Kota Negeri Sakura, GenWI Jepang Diluncurkan GenWI adalah komunitas netizen yang terdiri dari putra-putri Indonesia dan diaspora yang bergerak di media sosial untuk mempromosikan pariwisata. (Dok. Kemenpar)
Tokyo, CNN Indonesia -- Generasi Wonderful Indonesia (GenWI) terus melebarkan sayap. Pada Sabtu (21/7), komunitas netizen berbasis media sosial ini menambah satu negara lagi, yakni Jepang. Tahun ini, komunitas GenWI sudah hadir di Korea Selatan, India, Tiongkok, Thailand, Malaysia, Singapore, dan embrio di Australia.

GenWI adalah komunitas netizen yang terdiri dari putra-putri Indonesia, pelajar atau mahasiswa, diaspora, yang aktif bergerak di media digital, terutama media sosial, untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

Ada tiga hal yang diangkat, destinasi wisata, Calendar of Event Pariwisata dan kebijakan kepariwisataan.


Jika GenPI atau Generasi Pesona Indonesia adalah komunitas anak-anak muda yang berada di nusantara dari Aceh sampai Papua, maka GenWI berada di mancanegara. Mereka bersama-sama memviralkan Indonesia melalui pariwisata, yang selanjutnya akan mendorong perdagangan dan investasi.

"TTI, Tourism Trade Investment. Masuk melalui tourism yang people to people connection, jauh lebih mudah dan efektif untuk menapak level berikutnya, trade and investment. Ayo, para pemuda, pemudi, pelajar mahasiswa, para diaspora di manapun kalian berada, promosikan terus keindahan dan kekayaan Indonesia," sambut Menpar Arief Yahya.

Mungkin, oleh sebagian orang, memposting content kecantikan Indonesia melalui foto, video, infografis, melalui media sosial dianggap sepele. Padahal, jika dilakukan bersama-sama, Indonesia Incorporated, oleh seluruh potensi negeri ini, akan mengubah persepsi dunia akan Indonesia.

"Ayo, saatnya kita memberikan sesuatu buat bangsa," tegas Arief.

GenWI dan GenPI sama-sama punya kode etik: "no hoax, no SARA, no politic". GenWI dan GenPI lebih fokus mengangkat konten-konten keindahan alam, kecantikan budaya, dan karya buatan yang bakal memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.

"Di sektor pariwisata, bangsa ini bisa berkompetisi dan juara dunia," ujar Arief.

Dia menjelaskan tiga revolusi dunia, memperkuat Alvin Tofler dalam buku "The Third Wave". Pertama, revolusi pertanian atau agrikultur. Kedua, revolusi industri atau manufaktur. Ketiga, revolusi teknologi informasi. Di ketiga revolusi itu, kata Arief, Indonesia tidak menjadi top of mind dunia dan tidak pernah disebut.

"Kita sedang memasuki era revolusi keempat, yang saat ini sedang menjadi tren dunia, yakni cultural industry, atau creative industry. Dan pariwisata ada di dalamnya. Saat inilah momentum yang tepat buat kita juara dunia, timing yang pas untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi terhebat di dunia," ujar Arief.

Apakah mungkin juara dunia? "Cultural resourches dan natural resourches kita selalu top 25 dunia! Itu modal paling berharga untuk melompat menjadi yang terbaik. Kalau dari sisi manajemen, produk kita kuat, price competitiveness kita kuat, place atau delivery channel kita kuat, tinggal satu hal, promotion kita yang harus digenjot lebih kuat lagi," sebut Arief, merujuk pada jargonnya yang biasa disingkat dengan 4P (Product, Price, Place, Promotion).

Bahkan, Arief sangat yakin bahwa pariwisata adalah core economy bangsa Indonesia ke depan. Indonesia punya keunggulan komparatif dan kempetitif. Pada 2019, industri pariwisata diproyeksi sebagai penyumbang devisa terbesar di tanah air, dengan target wisman 20 juta, dan devisa US$Rp20 miliar.

[Gambas:Instagram]

Pariwisata Indonesia juga ditargetkan menjadi yang terbaik di kawasan regional ASEAN.

"Pesaing profesional kita Thailand, dan pesaing emosional kita Malaysia," jelas Arief. Country Branding Wonderful Indonesia sudah ada di posisi 47 dunia dan mengalahkan Truly Asia Malaysia dan Amazing Thailand.

Lalu bagaimana menghadapi kelemahan promosi? Arief membuat framework strategi promosi BAS, yakni Branding, Advertising, Selling.

Tahun pertama 2014-2015 fokus di Branding. Tahun kedua, 2015-2016 masuk ke Advertising. Tahun ketiga dan keempat, 2016-2017-2018 sudah ke selling.

Strategi medianya, menggunakan konsep POSE: Paid Media, Own Media, Social Media dan Endorser. Paid Media, media berbayar sudah dipromosikan melalui media digital seperti Google, Baidu, TripAdvisor, Ctrip, Youtube, Facebook, dan lainnya. Media konvensional, televisi seperti CNN, CCTV, CNBC, NHK, Astro, Aljazera dan lainnya.

"Di media sosial, saya perkuat komunitas GenPI dan GenWI. Seperti pasangan, satu keping mata uang. GenPI bergerak ke nusantara, mengeksplorasi produk kita yang bernama destinasi. Ingat, produk pariwisata adalah destinasi. Menjadi konten promosi yang keren, entah melalui video, foto, infografis, dan teks. Sedangkankan GenWI bergerak di mancanegara, yang lebih dekat dengan customers. Di Pariwisata, customer-nya adalah wisatawan atau travellers," ungkap Arief lagi.

Di Jepang, Arief menugaskan staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media, Don Kardono untuk meluncurkan GenWI Jepang di Tokyo pada Sabtu (21/8).

GenWI Jepang yang memiliki akses dan kedekatan dengan pelancong di sana diminta belajar, mengapa pariwisata Jepang maju pesat dalam dua tahun terakhir. Deregulasi apa yang dilakukan Jepang untuk menjaring wisatawan? Juga, konten apa yang bisa menarik wisman Japang lebih besar ke tanah air. (stu)