Gara-gara Polusi Udara,Biaya Kesehatan Indonesia Capai Rp50 T

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Jumat, 27/07/2018 12:10 WIB
Gara-gara Polusi Udara,Biaya Kesehatan Indonesia Capai Rp50 T ilustrasi polusi udara di China (REUTERS/Damir Sagolj)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jakarta baru saja dinobatkan sebagai kota paling berpolusi di dunia versi pemantau kualitas udara Amerika Serikat bernama Air Visual. 

Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta berada pada angka 182. Angka ini menunjukkan indeks paling tinggi di seluruh dunia.

Udara yang tercemar ini tak cuma membuat udara yang dihirup semakin menyesakkan, tapi juga menguras kantong negara dan pribadi semakin dalam.



Polusi udara yang sangat tercemar ini ternyata berdampak meningkatkan biaya kesehatan yang ditanggung oleh masyarakat dan negara.

Laporan terbaru Global Subsidies Inisiatives (GSI) dari International Institute for Sustainable Development bahkan menemukan biaya kesehatan di Indonesia akibat polusi udara (yang ditanggung masyarakat pribadi maupun negara) mencapai Rp50 triliun tiap bulannya.

Laporan didapat dengan menganalisis beberapa sumber penelitian terdahulu. Salah satu penulis laporan GSI, Bernadethe Luan memaparkan temuannya fokus pada biaya kesehatan akibat polusi yang didapat dari batubara di Indonesia.

Fokus pada batubara dipilih lantaran pembakaran batubara merupakan penyumbang paling besar dalam polusi udara selain transportasi. 

Bernadethe menjelaskan Indonesia merupakan produsen sekaligus eksportir terbesar di dunia untuk batubara. Selain itu, sebanyak 60 persen pembangkit listrik di Indonesia berasal dari batubara. Pembakaran batubara ini berkontribusi terhadap udara Indonesia yang tercemar.

"Pembakaran batubara itu penyumbang paling besar. Dari 10 kematian akibat polusi udara ambien, dua di antaranya kematian akibat batubara," kata Bernadethe dalam saat mempresentasikan temuannya di Jakarta, Kamis (26/7).

Bernadethe menyebut polusi akibat pembakaran batubara yang menghasilkan nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2) dan materi partikel halus (PM) itu dapat menyebabkan berbagai penyakit. Selain itu, batubara juga mengandung merkuri yang beracun dan berbahaya. Dalam laporan itu, Bernadethe menemukan PM2,5 di Jakarta mencapai 28 atau dua kali lipat lebih tinggi dari ambang batas WHO yang hanya 10.


Zat-zat ini apabila terhirup oleh tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit saluran pernapasan, kardiovaskular, dan penyakit yang menyerang organ lainnya.

Pada 2011, tercatat penyakit akibat polusi udara dari batubara mencapai 7.500. Pada 2030 angka itu diprediksi meningkat tiga kali lipat.

"Akibatnya, orang yang terkena penyakit ini tidak bisa bekerja, kehilangan pencarian, dan mesti membiayai pengobatan mereka," ucap Bernadethe.

Untuk rumah tangga berpenghasilan rendah, biaya kesehatan itu dapat mencapai 82 persen dari pengeluaran tahunannya. Sedangan rumah tangga berpenghasilan menengah, biaya kesehatan mencapai 30 persen dari pengeluaran tahunan.

Diperkirakan biaya kesehatan penyakit pernapasan di Indonesia dapat membebani hingga US$805 miliar atau Rp11.250 triliun antara 2012 hingga 2030.

"Artinya, itu sama dengan Rp50 triliun perbulan hanya untuk penyakit terkait saluran pernapasan saja," ucap Bernadethe.

Agar biaya ini tidak membebani masyarakat dan negara, Bernadethe menyarankan pemerintah untuk mengalihkan subsidi energi batubara kepada kesehatan dan pendidikan.

"Ini seperti kita membayar pajak yang dibayar untuk menyubsidi batubara, tapi merusak hidup kita karena polusinya, lalu kita membayar sendiri biaya kesehatannya," ujar Bernadethe.

Selain itu, menurut Bernadethe, polusi itu dapat dicegah jika pemerintah segera beralih ke sumber listrik terbarukan ketimbang masih bergantung pada batubara. Pada 2011 tercatat sebanyak 130 pembangkit listrik tenaga batu bara dan jumlah itu diprediksi mencapai 350 pada 2030 jika tidak diambil perubahan. (chs)