Keindahan Gelombang Rusia dan Sulam Kyrgystan di JMFW 2018

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Jumat, 27/07/2018 15:02 WIB
Jakarta Modest Fashion Week dibuka lewat penampilan desainer mancanegara: Araida (Rusia), Dilbar (Kyrgystan), Modanisa (Turki) dan Adrianna Yariqa (Singapura). koleksi Modanisa (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Busana-busana lembut mengalir seiring gerak para model di atas panggung. Gelaran Jakarta Modest Fashion Week 2018 pun dibuka lewat penampilan memukau para desainer mancanegara yakni label Araida dari Rusia, Dilbar dari Kyrgystan, Modanisa dari Turki dan Adrianna Yariqa dari Singapura. 

Mengambil lokasi di atrium Gandaria City Mall, para desainer membawa koleksi mereka untuk penikmat fashion Indonesia. Label Araida menghadirkan koleksi khusus untuk JMFW 2018. 

"Khusus Jakarta, kami menghadirkan warna air karena Jakarta dekat dengan laut. Ringan dan kalem," ujar Mariana, salah satu penggagas label Araida dalam konferensi pers di La Piazza, Gandaria City Mall, Jakarta Selatan, Kamis (26/7). 



Araida menterjemahkan inspirasi air ini ke dalam 10 look. Air lekat dengan warna biru, tetapi Araida tak melulu mengusung warna ini dalam koleksinya. Selain warna biru maupun tosca, juga terdapat warna hitam dan putih. 

Look yang didominasi long dress ini dibuat dengan bahan yang ringan mengalir atau flowy. Sedangkan tampilan busana lain mengambil siluet atasan, celana palazo, dan rok midi. 

Kesan air tak hanya diterjemahkan secara harafiah lewat warna birunya. Araida juga bermain dengan 'ombak' dan gelombang lewat bentuk detail kerutan dan draperi.

"Ini desain spesial, terdapat gelombang karena tema perairan," imbuhnya. 

Busana koleksi Andrianna Yariqa dari Singapore Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Busana koleksi Andrianna Yariqa dari Singapore

Dari busana yang mengalir layaknya air, beralih ke busana yang penuh dengan kemewahan. Label Dilbar besutan desainer Dilbar Ashimbaeva ingin membawa penikmat fashion pada keindahan sebuah taman. Koleksinya kali ini ia beri nama 'The Garden of Salimar'. Taman Shalimar sendiri merupakan taman di Punjab, Pakistan yang mulai dibangun pada masa pemerintahan Shah Jahan (1641). 

"Desain lebih spesifik pada warnanya. Saya juga mengambil warna hijau yang menggambarkan Indonesia yang cantik," kata Dilbar. 

Total sebanyak 10 look hadir dalam siluet long dress. Keindahan Taman Shalimar dan inspirasi akan keindahan alam Indonesia ia terjemahkan ke dalam ragam warna hijau, tosca, pink, hitam, abu, biru, dan merah. Long dress tidak tampak berat berkat bahan silk crepe yang ringan dan lembut. Jika dilihat, bagain bawah dress tampak seperti rok lipit panjang. 

Keunikan desain Dilbar terletak pada detail-detailnya. Pada bagian atas dress, ia menyematkan bentuk ukir-ukiran berupa daun dan sulur serta bentuk pilar bangunan yang ada di Taman Shalimar. Sekilas mirip dengan sulaman yang ditemui di Indonesia, tetapi ia menjelaskan bahwa teknik sulaman ini merupakan teknik sulam tradisional Kyrgystan. 

koleksi AraidaFoto: CNN Indonesia/Hesti Rika
koleksi Araida

Selain itu, ia juga menempatkan motif ukiran pada lengan maupun bagian leher busana. Ukiran tak sekadar sulaman benang, tetapi berupa bahan kulit yang dibentuk ukiran kemudian dijahit tangan. 

Salah satu busana yang cukup mencuri perhatian adalah long dress merah dengan sulaman benang emas. Sekilas, kain ini mirip dengan kain ulos dari Medan, namun kenyataannya ini bukan ulos melainkan kain buatan tangan tradisional. Dipadukan dengan silk velvet merah sebagai dalaman atau inner, busana tampak semakin mewah. 

Deret busana dengan look sangat feminin pun beralih pada busana dengan kesan simple dan easy going. Desainer asal Singapura, Adrianna Yariqa ingin menampilkan modest wear dengan rasa berbeda. 

"Saya membawa koleksi yang menunjukkan kekuatan perempuan. Kami percaya bahwa modest fashion itu tidak hanya buat Muslim, tapi juga buat semuanya," kata Adrianna bersemangat. 

'Women empowermen' yang ia maksud kemudian ia hadirkan dalam 10 busana 'office look'. Mengusung konsep minimalis, ia menggunakan warna olive green atau green army. Bayangan busana tertutup yang serba loose dan panjang pun agak pudar. 

Adrianna menghadirkan beragam siluet mulai dari atasan, celana midi, jumpsuit, jumper dan celana skinny. Ia seolah ingin memunjukkan bahwa perempuan mampu berdaya dan tak terkurung pada konsep-konsep modest wear yang ada. Perempuan bisa mengenakan busana yang mereka inginkan. Hal ini cukup ditunjukkan lewat masker yang dikenakan pada model. 

Di samping itu, selain label dari luar negeri, pembukaan JMFW 2018 juga dimeriahkan oleh retail online beragam label busana asal Turki, Modanisa. Sekitar 10 look hadir dalam siluet long dress. Tak ada sesuatu hal yang mendominasi kecuali pemilihan busana dengan bahan berkilau. 

Busana-busana ini pun memiliki warna yang cukup beragam, mulai dari warna pastel hingga warna yang lumayan mencolok seperti busana dengan motif garis abstrak warna kuning, hijau muda dan hijau tua. 

Busana koleksi Dilbar dari Kyrgystan Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Busana koleksi Dilbar dari Kyrgystan

Sementara itu, desainer-desainer lokal juga turut membuka gelaran. Anggia Handmade mengusung busana-busana serba hitam dengan detail sulam bentuk bunga-bunga. Sedangkan Sofie membawa busana-busana multi-layer dengan beragam motif seperti kotak-kotak dan motif lurik. 

Gelaran JMFW 2018 bakal berlangsung hingga Minggu (29/7). Tak hanya fashion show, gelaran juga akan menghadirkan talkshow, panel dan workshop edukatif. Label-label lokal maupun mancanegara juga berkesempatan untuk bertemu dengan Buyers Panel yang akan banyak memberikan insight bagi pelaku fashion Indonesia.

(chs)