ULASAN PENGINAPAN

Bermalam bak 'Raja Gula' di Malang

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Minggu, 29/07/2018 12:46 WIB
Bermalam bak 'Raja Gula' di Malang Salah satu interior kamar Tugu Hotel Malang, (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Malang, CNN Indonesia -- Tampaknya suhu panas cuaca Jakarta dan Surabaya nyaris tak ada bedanya. Satu jam perjalanan udara dari Jakarta ke Surabaya dibayar dengan udara panas.

Di pintu kedatangan, saya disambut oleh pengemudi dari Tugu Hotel Malang. Mobilnya yang berpendingin udara jadi 'pahlawan' yang membawa saya keluar dari kejamnya udara Surabaya.

Perjalanan selama hampir dua jam tak begitu terasa. Ketika semakin dekat dengan Malang, barulah kulit ini merasakan bedanya.


Semilir angin menyambut, meski sudah terbilang siang, kira-kira pukul 13.30. Akhirnya saya pun memijakkan kaki di Tugu Hotel Malang.

Lokasinya mengingatkan saya akan tata kota era penjajahan. Hotel bintang lima ini terletak di dekat alun-alun. Warga menyebutnya sebagai alun-alun Bunder.

Selain Tugu Malang Hotel, terdapat beberapa bangunan lain yang mengitarinya antara lain, Balai Kota Malang dan sekolah menengah.

Arsitektur hotel ini kental dengan gaya Jawa kuno, meski ada unsur minimalisnya.

Dari pintu masuk saya disambut aroma daun sereh. Aroma ini seolah 'kawin' dengan interior hotel yang serba kayu dan unsur daun-daun hijau sebagai pemanis beberapa sudut.

Setelah mengisi data tamu, saya diantar ke kamar 103, masih selantai dengan lobi.

Nuansa kuno-minimalis ikut terasa sampai di kamar. Jika lobi menggunakan ubin, lantai kamar menggunakan kayu. Warna ungu mendominasi kamar.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah wastafel dan bathup-nya yang terbuat dari besi tahan karat dan bertekstur.

Tekstur ini mengingatkan kita pada pengolahan besi yang masih manual yakni besi dipukul-pukul agar rata tak seperti sekarang permukaan besi bisa halus dengan bantuan mesin.

Puas mengamati karya tangan itu, saya diajak menikmati pijat selama 15 menit di Apsara Spa.

Belasan menit bisa dikatakan singkat, tapi pijatan terapis yang nyaman membuat terasa seperti dua kali lipatnya.

Salah satu staf hotel berkata jika pijat ini merupakan fasilitas hotel dan bisa dimanfaatkan tamu kapanpun selama mereka menginap. Saya jadi berencana memanfaatkanya setiap hari selama saya menginap tiga hari dua malam di sini.

Menikmati sajian ala Melati Restaurant

Undangan makan siang tiba. Saya kembali keluar kamar untuk mengeksplorasi sudut-sudut Tugu Hotel Malang.

Menuju Melati Restaurant saya melintas di lorong berlantai kayu yang temaram dengan cahaya lilin kecil.

Terlihat kolam renang dan taman hijau luas, membuat hotel ini layak diinapi tamu dengan anak kecil yang gemar bermain air atau sekadar berlarian bebas.

Manajer Tugu Hotel Malang yang sempat saya temui, Crescentia Harividyanti, mengatakan kalau hotel ini membuat beragam fasilitas dan layanan yang bisa memberikan rasa betah dan pengalaman unik kepada tamunya, sehingga tamu tak hanya menghabiskan waktu di kamar.

Tugu Hotel Malang yang dimiliki oleh Tugu Group menyuntikkan DNA yang serupa pada "anak-anak" mereka, antara lain Lara Djonggrang, Dapur Babah Elite, Tugu Kunstkring Paleis dan Shanghai Blue 1920 di kawasan Jakarta serta beberapa hotel yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Hotel Tugu Lombok, Hotel Tugu Bali dan Hotel Tugu Blitar.

Cres lanjut berkata hotel ingin menghadirkan suasana romatis dan diaplikasikan pada desain interior maupun pernak-pernik serba antik.

"Ini angan-angan sang pemilik bagaimana Tugu membuat cerita-cerita yang dilupakan diangkat kembali. Tamu tak hanya tinggal tapi tahu sesuatu yang berbeda. Tamu tak cuma makan, tidur tapi juga menikmati wisata di hotel, semua yang di sini bercerita," kata perempuan yang akrab disapa Cres ini akhir pekan lalu.

Benda-benda serba lawas, kata Cres, memang jadi bagian dari hobi sang pemilik, Anhar Setjiadibrata.

Ruang makan penuh lukisan dan patung koleksi pemilik. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

Saya dipersilakan berkeliling melihat koleksi patung dan lukisannya sebelum menyicip beberapa sajian andalan Melati Restaurant.

Melati Restaurant menawarkan aneka hidangan mulai dari Peranakan, hidangan khas Jawa maupun serba Barat. Tawaran suasana Malang Tempoe Doeloe menjadikan acara santap siang saya semakin istimewa.

Saya menyicipi beberapa hidangan andalan antara lain, Cwi Mie Malang yakni hidangan mi khas Malang dengan topping ayam dan kuah hangat, Nasi Kuning dengan aneka rupa lauk plus peyek kacang berukuran jumbo, Es Campur Tugu dan Es Sirsak Kelapa Muda.

Rekomendasi saya, tamu wajib mencoba Cwi Mie Malang. Sekilas tampilannya mirip dengan Mie Bangka, tetapi menu ini memiliki bentuk dan citarasa mie yang berbeda.

Cres berkata bahwa semua bahan merupakan buatan sendiri baik itu mie atau roti.

Untuk es campurnya sebenarnya tak berbeda dengan es campur lain, tetapi menu ini memiliki isian cendol yang lembut dan tak terlalu kenyal.

Paduan kelapa dan sirsak terasa pas apalagi manis minuman hanya berasal dari jus sirsak, tanpa tambahan gula.

Mengintip kamar 'Raja Gula'

Saat yang dinanti tiba. Saya pun diajak Marketing Tugu Hotel Malang, Bagus Pamungkas, untuk berkeliling area.

Persis di sebelah restoran, terdapat ruangan duduk bernama Bangsal Merah Boepati. Ruangannya serba merah.

Salah satu yang mencuri perhatian ialah pintu kayu tinggi besar yang tampak usang tapi unik karena terdapat lukisan bergaya China.

Beranjak ke ruang duduk yang lain, Raja Room, terdapat beberapa foto dan lukisan tokoh Oei Hui Lan.

Tokoh yang nyaris terlupakan ini merupakan puteri kedua Raja Gula, orang terkaya di Asia Tenggara yakni Oei Tiong Ham, sekaligus nenek dari pemilik Tugu Group.

Tak hanya soal ikatan darah, perempuan ini juga pernah mendulang prestasi semasa hidupnya.

Istri duta besar China untuk Amerika Serikat ini pernah meraih preastasi 'A Chinese Citizen of the World, an International Beauty' di majalah Vogue Amerika Serikat (1943) dan 'The Best Dressed Chinese Woman' pada era 1920-1940-an.

Tak heran ruangan ini dinamai 'Raja' sebab didedikasikan untuk Oei Hui Lan, puteri Raja Gula.

Acara keliling berlanjut ke Tirta Gangga Room. Ruangan ini lebih cocok digunakan untuk rapat atau pertemuan lain karena perabot berupa meja persegi panjang plus kursi-kursi di sekelilingnya.

Nama 'Tirta Gangga', kata Bagus, terinspirasi dari kisah Jalan Sutera dengan romansa gaya China-India.

Di tengah acara keliling, Bagus mempersilakan saya menikmati afternoon tea ala hotel yang berlangsung mulai pukul 16.00-18.00.

Tradisi afternoon tea memang lekat dengan gaya hidup orang Inggris, tapi Tugu Hotel Malang mengemasnya secara berbeda.

Di lantai dua hotel, terdapat lapak aneka jajanan pasar dengan beberapa kursi kayu mini di sekelilingnya.

Tamu diperkenankan memilih aneka makanan ringan mulai dari kue lumpur, sawut alias kudapan dari parutan singkong berukuran besar, kacang rebus, dan pisang rebus.

Minumannya pun juga serba tradisional yakni jamu beras kencur atau kunyit asam.

Peraduan Zaman Silam nan Mewah

Puas 'ngeteh' sore, saya diajak mengintip kamar-kamar yang disediakan.

Saya memulainya dari Apsara Residence, kamar dengan 'kasta' tertinggi.

Bermalam bak 'Raja Gula' di MalangKamar tipe Apsara. (Dok. Hotel Tugu Malang)

Nama 'Apsara' sendiri diambil dari kisah dari tanah Jawa bahwa ada seorang pangeran yang berdoa meminta seorang istri.

Tuhan mengabulkan doa sang pangeran dan mengirimkan Apsara alias penari dari Nirwana tercantik. Ia menari dan sang pangeran jatuh cinta padanya.

Kisah singkat ini mengantar saya pada ruangan besar yang memiliki ruang tamu dan kamar yang dipisahkan pintu besar.

Pintu yang dibuka pun tak langsung mempertemukan saya dengan kamar 'si pangeran', saya harus melewati ruang santai sekaligus bersantap. Ajaibnya, saya disuguhi bathup di ujung ruangan.

Bathup hanya ditutupi dengan beberapa helai kain warna merah, kuning dan hijau.

Untuk kamar, ukuran kasurnya mungkin boleh dibilang perkawinan kasur king size dan queen size, begitu besar plus dikelilingi kelambu kain.

"Rate kamar ini Rp15juta ++," kata Bagus.

Meski prestisius, tokoh selevel Megawati Soekarnoputri tak pernah bermalam di kamar ini jika berkunjung.

Bagus bercerita Megawati memang kerap menginap di sini dan selalu memilih satu ruangan, meski hotel berniat menaikkan 'grade' kamar pesannya.

Raden Saleh Suite selalu jadi favoritnya. Nama ini terinspirasi dari nama pelukis terkenal Raden Saleh.

Bermalam bak 'Raja Gula' di MalangKamar tipe Raden Saleh. (Dok. Hotel Tugu Malang)

Di sini pun terdapat replika lukisannya yang terkenal yakni lukisan 'Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Pasukan Belanda'.

Bentuk tempat tidurnya jauh berbeda dengan Apsara Residence, karena tempat tidurnya 'digantung' dengan empat pilar di tiap sudut kamar.

Elemen bathup besi tak ketinggalan, hanya saja berbentuk lingkaran penuh, bukan lonjong seperti umumnya. Kamar ini dihargai Rp5,5 juta per malam.

Ingin berbulan madu dengan pasangan? Saya rasa kamar satu ini pas yakni, Devata Suites.

Begitu pintu dibuka, saya disuguhi interior ruangan serba merah. Kasur tepat berada di ujung ruangan dan tepat di atasnya terdapat lukisan dua penari Apsara berbingkai lingkaran.

Cukup Rp2,5 juta ++, pasangan dapat menikmati kamar bergaya Asian-Bohemian ini.

Untuk kamar Executive Suite Room dan Superior Deluxe Room memiliki budget cukup buncit yakni mulai Rp1,8 juta ++.

Tiap kamar punya desain interior berbeda tapi masih dalam satu 'rasa' yakni Malang Tempoe Doeloe.

"Tamu kalau menginap bisa milih dan pindah kamar kalau ingin merasakan nuansa berbeda,"jelas Bagus.

Seharian berkeliling di hotel ini saya menyimpulkan bahwa banyak sisi sejarah ingin diceritakan Tugu Hotel Malang kepada tamunya.

Bagi tamu yang senang akan seni dan sejarah, mendambakan bermalam penuh ketenangan, atau tak peduli merogoh kocek lebih dalam, mungkin hotel ini bisa pilihan yang tepat.

(ard)