Jalur Evakuasi Gunung di Indonesia Masih Minim Sarana

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 02/08/2018 15:05 WIB
Jalur Evakuasi Gunung di Indonesia Masih Minim Sarana Pendaki Gunung Rinjani yang terjebak longsor akibat gempa bumi, Suharti (tengah), turun dari helikopter setelah berhasil dievakuasi dan tiba di Lapangan Sembalun Lawang, Lombok Timur, NTB. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menyatakan masih menutup jalur pendakian Rinjani hingga waktu yang tak ditentukan, setelah gempa bumi 6,4 skala Richeter terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu (29/7).

Selama penutupan BNTGR akan mengevaluasi jalur pendakian yang aman dilalui serta jalur pendakian untuk evakuasi.

Evaluasi juga termasuk perencanaan kembali optimalisasi kamera keamanan dan pemberlakuan tagging pendaki dengan sistem radio untuk memantau kondisi para pendaki.


Selama ini beberapa jalur pendakian di Indonesia memang kurang dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan bencana.

Wahyu, anggota Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri mengungkapkan masalah itu masih menjadi pekerjaan rumah bagi dinas terkait.

"Terkadang datangnya alat dan perlengkapan (keselamatan bencana) itu secara spontan atau sifatnya sukarela dari para pendaki," kata Wahyu kepada CNNIndonesia.com, saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Kamis (2/8) pagi.

"Apabila pemerintah menjamin keselamatan para pendaki, paling tidak menyediakan evakuasi jalur udara. Jadi selain wajib membayar restribusi dan mengurus izin pendakian, pendaki juga harus diperhatikan kondisinya," lanjutnya.

Selain perlengkapan keselamatan bencana yang masih minim perhatian, keterbatasan informasi dari para pendaki perihal karakteristik gunung dan jalur pendakian juga masih menjadi masalah.

Padahal, lanjut Wahyu, pengetahuan ini wajib dimiliki oleh para pendaki sebelum memutuskan untuk naik gunung.

Menurutnya informasi terkait naik gunung bisa disusun dalam sebuah buku panduan. Isinya bisa meliputi manajemen perjalanan, manajemen perbekalan dana peralatan, hingga perihal watak gunung dan jalur pendakian.

Jadi pendaki setidaknya bisa mempelajari buku itu terlebih dahulu demi meminimalisir resiko-resiko kecelakaan.

"Pihak terkait jarang ada yang mau mengeluarkan buku panduan tentang gunung. Buku itu seharusnya disediakan di pos awal pendakian," ujar Wahyu.

"Terkadang datangnya alat dan perlengkapan (keselamatan bencana) itu secara spontan atau sifatnya sukarela dari para pendaki."Wahyu, anggota Wanadri.
Menanggapi perencanaan kembali optimalisasi sistem radio, Wahyu menyarankan agar nantinya alat komunikasi ini digunakan oleh para petugas lapangan dan pendaki.

Selain itu tidak menutup kemungkinan bahwa ada satu ketentuan baru yang mengharuskan pendaki untuk menitipkan nomor frekuensi radionya ke petugas sebelum memulai perjalanan.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya hal tidak terduga, seperti hilang, kecelakaan di gunung, hingga tragedi bencana alam.

Jalur Evakuasi Minim Sarana

Selain jalur pendakian yang harus terus diperbaiki, keberadaan jalur evakuasi penting saat terjadi bencana alam di gunung.

Jalur itu akan memudahan para petugas untuk menyelamatan para pendaki yang masih terjebak di punggung gunung.

Namun Wahyu mencatat jalur evakuasi pada beberapa gunung yang populer didaki di Indonesia masih minim sarana dan prasarana.

Padahal ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, dalam pos evakuasi seharusnya tersedia rujukan fasilitas transportasi darat atau udara, dan peralatan medis untuk pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan saat mendaki.

Selain itu, lanjut Wahyu, pada jalur evakuasi ini wajib dilengkapi dengan alat komunikasi dan petugas medis yang siap siaga. Sehingga apabila ada pendaki yang kondisinya sudah kritis bisa segera dibawa ke rumah sakit.

"Saran saya semua gunung bisa dibuatkan ERP atau emergency rescue procedure," tandas Wahyu.

(bel/ard)