Waspada Tertabrak Skuter dan Segway di Trotoar Paris

REUTERS, CNN Indonesia | Selasa, 07/08/2018 10:38 WIB
Waspada Tertabrak Skuter dan Segway di Trotoar Paris Ilustrasi. (REUTERS/David W Cerny)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak perlu sering keluar masuk toko atau restoran mewah. Berwisata di Paris, Perancis, juga bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau kongko di pinggir kawasannya yang ramai.

Namun saat ini untuk sekadar melangkahkan kaki atau duduk santai bisa dibilang hal yang mewah. Pasalnya trotoar di Paris semakin disesaki oleh sejumlah kendaraan bukan bermotor yang dibawa pengguna jalan, mulai dari sepeda, skuter, hoverboards, sampai Segways.

Turis yang baru pertama kali datang ke Paris sepertinya harus tetap waspada dengan lalulalang kendaraan-kendaraan itu, karena terkadang penggunanya lewat dengan kecepatan tinggi tanpa permisi.


Sejak beberapa tahun yang lalu industri pariwisata di Paris memang semakin berkembang. Jumlah turis yang datang juga terus meningkat.

Sepanjang tahun 2017 sebanyak 83 juta orang mendatangi Paris. Bisa dibayangkan betapa ramainya Kota Cahaya itu.

"Saya menggunakan skuter elektrik setiap hari untuk pergi ke kantor atau bertemu klien. Kendaraan ini lebih cepat daripada Uber, taksi, kereta bawah tanah, dan segalanya," kata Benjamin, seorang warga Paris yang berkarier sebagai manajer komersial dalam sebuah perusahaan.

[Gambas:Instagram]

"Saya tidak bohong, skuter sangat berbahaya. Kami tak menggunakan helm dan kondisi jalanan seringkali tak bisa ditebak," lanjutnya sambil mengatakan bahwa sejumlah kasus kecelakaan akibat skuter sempat terjadi di Paris.

Bagi turis yang tak membawa kendaraan-kendaraan yang disebutkan di atas, tetap bisa menungganginya dengan cara menyewa ke sejumlah tempat penyewaan.

Saat ini ada jasa penyewaan sepeda yang disediakan pemerintah kota, tiga penyewaan sepeda yang milik swasta, tiga penyewaan skuter swasta, dan tiga penyewaan hoverboards milik swasta.

[Gambas:Instagram]

Semakin banyak orang yang menggunakan sepeda, skuter, hoverboards, dan Segways tentu saja membuat jengkel orang-orang yang ingin menikmati Paris dengan berjalan kaki santai, seperti di bantaran Sungai Siene atau di alun-alun Champs-Elysees.

Pasangan turis lansia asal Amerika Serikat mengaku tak habis pikir mengapa pengendara kendaraan itu melaju sangat ngebut, bahkan di trotoar.

"Mereka seakan tak memerhatikan orang-orang yang sedang berjalan di trotoar," kata sang istri yang enggan disebukan namanya.

"Bahkan saya hampir tertabrak," lanjutnya.

Penggunaan kendaraan bukan bermotor sebenarnya menjadi langkah menjaga Paris dari polusi udara, seperti yang digadang oleh Wali Kota Paris Anne Hidalgo.

Tampaknya pejalan kaki di Paris masih perlu memperpanjang sabar, karena pemerintah kota tak lama lagi bakal mengoperasikan jasa penyewaan sepeda listrik yang bakal melaju lebih ngebut.

(ard)