Mengetahui 'Kesaktian' ARV Melawan Virus HIV/AIDS

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Senin, 27/08/2018 09:49 WIB
Mengetahui 'Kesaktian' ARV Melawan Virus HIV/AIDS Ilustrasi AIDS. Foto: REUTERS/Jose Cabezas
Jakarta, CNN Indonesia -- Suksma Ratri tak kaget saat divonis positif Human Immunodeficiency Virus (HIV) sekitar 2008 silam. Dia tahu betul, mantan suaminya yang seorang pencandu narkoba jenis jarum suntik menularkan virus menakutkan itu padanya.

"Saya enggak syok, cuma bilang 'tuh kan, gue bilang juga apa'," kata perempuan yang akrab disapa Ratri ini dalam diskusi media di Brench Bistro, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (9/8).

Virus HIV mau tak mau membuatnya harus menjalani terapi obat Antiretroviral (ARV). Ratri mulai menjalani terapi pada 2014 lalu. Dari hasil pengecekan kala itu, ada lebih dari sejuta virus HIV yang terkandung dalam setiap satu milimeter kubik darah yang mengalir di tubuhnya. "Jumlah segini itu tinggi banget, kalau mau undetected (tidak terdeteksi) harus di bawah 50," kata Ratri.



Alhasil, Ratri kudu mengonsumsi ARV serta rutin melakukan pengecekan setiap sekali dalam sepekan. Pengecekan bertujuan untuk mengetahui kinerja obat dan melihat jika ada reaksi penolakan oleh tubuh.

Beruntung, kombinasi obat yang diberikan dokter cocok, hingga menunjukkan hasil positif. Dalam kurun waktu dua bulan, jumlah virus menurun drastis. Pada akhir 2015, virus ditubuhnya berhasil undetected atau tidak terdeteksi.

"ODHA harus jaga kondisi dan disiplin minum ARV. Saya minum dua kali sehari, kombinasi tujuh obat. Pagi jam 10.00 WIB empat obat, jam 22.00 WIB tiga obat," jelas Ratri.

'Kesaktian' ARV hambat perkembangan virus

ARV tak ubahnya 'obat sakti' bagi ODHA. ARV punya dua peran di antaranya menghambat perkembangan dan aktivitas virus.

"Jadi virus dibuat ngumpet atau tidur saja," kata Adyana Esti, tenaga medis Klinik Angsamerah, Jakarta. Virus yang tak aktif dan beredar secara otomatis bakal menurunkan potensi penularan.


Selain itu, konsumsi ARV juga membuat virus tak menular pada pasangan atau anak. Apalagi kini, ketika ARV dapat diakses tak hanya di rumah sakit besar, tapi juga di Puskesmas.

Namun, terapi ARV ini seyogianya harus sesuai dengan petunjuk dokter. Konsumsi sembarangan, kata Esti, menyebabkan timbulnya resistensi terhadap terapi ARV itu sendiri.

Belakangan, tersebar hoaks yang menyebut jika ARV berdampak pada kerusakan hati dan ginjal. Esti mematahkan informasi tak benar yang disebarkan oleh sekelompok orang yang tak menyukai ARV.


"Faktanya saya bertemu dengan ODHA berusia 79 tahun dan fungsi organnya baik-baik saja sampai sekarang walau (rajin) minum ARV," kata Esti.

Hal itu juga dibenarkan oleh Ratri. Dia mengaku tak punya masalah dengan organ hati dan ginjalnya selama mengonsumsi ARV.

Toh, dia menjalaninya tanpa beban. Dukungan orang sekitar juga dirasanya begitu besar. Bahkan, Ratri kerap diingatkan untuk tidak terlambat meminum obat.

"Kalau saya, (konsumsi ARV) jangan dijadikan beban. Itu sesuatu yang harus, seperti kita yang enggak bisa tanpa makan atau minum. Itu sudah jadi bagian dalam hidup," kata Esti. (asr/chs)