'Kerja Rodi' Penuhi ASI untuk si Buah Hati

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Jumat, 24/08/2018 08:11 WIB
'Kerja Rodi' Penuhi ASI untuk si Buah Hati Reza Adrian dan Segarnis Diary. CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman
Jakarta, CNN Indonesia -- Menyusui bukan perkara mudah bagi Segarnis Dhiasy. Bentuk puting yang datar menghambat pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif untuk anak pertamanya, Ibrahim Dirgantara Arsy. Perempuan yang akrab disapa Dhiasy itu mesti berjuang keras agar ASI tetap keluar demi memenuhi hak dan kebutuhan si buah hati.

Dhiasy adalah seorang ibu pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang. Baru delapan bulan yang lalu, tepatnya 24 Desember 2017, perempuan 26 tahun ini melahirkan si kecil Ibrahim.

Tak main-main Dhiasy menyiapkan persalinannya. Sejak kandungannya memasuki usia tujuh bulan, dia mulai mempersiapkan persalinan yang aman, nyaman, dan minim rasa sakit. Pasalnya, proses persalinan itu bakal memengaruhi proses pemberian ASI.


"Karena kalau melahirkan sudah trauma, ke sananya pasti baby blues (sindrom perasaan gundah gulana pascamelahirkan), depresi. Akhirnya enggak bisa ngapa-ngapain," kata Dhiasy saat berbincang dengan media, belum lama ini.


Berbagai informasi soal persalinan yang aman dari berbagai media dikumpulkan Dhiasy. Alhasil, dia sukses menjalani proses persalinannya dengan baik.

Masalah baru muncul saat Dhiasy hendak menyusui sang buah hati yang baru saja lahir. ASI Dhiasy tak bisa keluar meski proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sudah dilakoninya.

Disinyalir, ASI sulit keluar lantaran struktur puting datar yang dimiliki Dhiasy. Beberapa orang yang ditemuinya pun pesimis Dhiasy bisa memberikan ASI untuk Ibrahim.

"Saya tidak bisa langsung menyusui karena puting datar tersebut. Paling sedih adalah ketika orang lain melihat payudara saya, lalu mengatakan kalau saya tidak bisa menyusui karena tidak ada puting atau datar," tutur Dhiasy.

Namun, Dhiasy tak patah arang. Dia tetap kekeh si jabang bayi tak boleh diberi asupan apa pun selain ASI miliknya. Selama tiga hari, dia berusaha keras. Soalnya, berdasarkan penelitian, bayi yang baru lahir masih menyimpan cadangan selama tiga hari.


Dhiasy terus mencoba menyusui anaknya. Hari pertama, ASI-nya tak kunjung keluar. Setelah dirangsang dengan memijat payudara secara lembut, ASI Dhiasy mulai keluar meski hanya satu tetes pada hari kedua.

"Hari kedua keluar tidak banyak. Hanya satu tetes, dua tetes saja. Saya langsung minta ambilkan sendok dan suapkan ke anak saya," ujar Dhiasy. ASI Dhiasy yang mengocor pada hari kedua itu keluar melalui aerola atau daerah gelap di sekitar puting payudara.

Tak mau hilang kesempatan, saat mulai menunjukkan hasil, Dhiasy langsung menyewa pompa ASI agar cairan itu keluar semakin banyak. Hasilnya, ASI untuk Ibrahim mulai keluar lancar di hari ketiga.

Namun, perjuangan Dhiasy memberikan ASI itu tak kunjung usai. Dia mengaku kesakitan saat memberikan ASI. Bahkan, kata dia, sakitnya melebihi proses melahirkan.

"Tantangan menyusui itu benar-benar momen paling sakit. Menurut saya lebih sakit dari melahirkan karena prosesnya itu panjang. Kalau melahirkan, setelah 'jebrot' selesai, kalau menyusui masih terus berlanjut," ucap Dhiasy.

Paling parah adalah ketika puting Dhiasy lecet dan berdarah. "Setiap kali kegesek benda apa pun itu, sakit banget," akunya.

Untuk mengatasi hal itu , Dhiasy selalu menyiapkan krim lanonin dan mengolesinya ke payudara agar terasa lembut.

Meski butuh usaha keras, Dhiasy terus menjalin hubungan bersama Ibrahim dengan memanfaatkan masa cuti tiga bulan sebelum kembali bekerja. Selama itu pula, Dhiasy memyiapkan ASI untuk kebutuhan sang buah hati selama bekerja.


Setiap pagi, siang, sore, dan tengah malam Dhiasy getol 'kerja rodi' memompa ASI agar persediaan tetap terjaga. Soalnya, proses produksi ASI bakal semakin banyak jika terus dirangsang.

"Saya harus kerja rodi, sampai sengaja bikin alarm untuk tengah malam," kata Dhiasy.

Bentuk 'kerja rodi' itu dilakoni Dhiasy saat berada di tempat kerja. Dia getol memompa ASI di meja kerja sembari merampungkan tugas-tugasnya. Dia meyiasati pemompaan ASI itu dengan menggunakan apron agar tetap tertutup. Dhiasy juga membawa tas pendingin untuk mengawetkan ASI.

Dukungan suami

Meski penuh tantangan, Dhiasy menikmati proses awal menyusui sang buah hati. Kehadiran suami yang selalu mendukung menjadi kunci sukses keberhasilannya menyusui Ibrahim. Dukungan itu membuat Dhiasy terhindar dari stres dan merasa bahagia hingga ASI tetap
lancar mengalir.

Dhiasy terbilang beruntung, sang suami, Reza Andrian, memberinya dukungan mental sekaligus materi. "Saya, kan, enggak tahu menyusui seperti apa, jadi saya mendukung dan memenuhi kebutuhannya apa," kata Reza.

Apa yang dilakukan Dhiasy dan sang suami ini tak sia-sia. Mereka berhasil memberikan ASI eksklusif untuk Ibrahim selama enam bulan.

Kini, keduanya bertekad melanjutkan ASI hingga usia Ibrahim menginjak dua tahun dan melengkapinya dengan MPASI.

Kegigihan Dhiasy ini diapresiasi oleh Lomba Ibu dengan ASI Eksklusif pada Pekan ASI Sedunia yang digelar oleh Kementerian Kesehatan. Dhiasy dan Ibrahim berhasil menjadi pemenang pertama lomba ibu dengan ASI eksklusif di kalangan karyawan institusi kementerian dan lembaga di Indonesia. (asr/chs)


BACA JUGA